Khutbah Jumat 18 September 2026: Kemarau Makin Panjang, Saatnya Menjaga Air dan Memperbaiki Diri

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

18 - Sep - 2026, 08:36

Ilustrasi khutbah jumat. (Foto: laman Masjid Raya KH Hasyim Asyari)

JATIMTIMES - Kemarau panjang mulai terasa dampaknya di sejumlah wilayah. Hujan yang jarang turun membuat sumber-sumber air berkurang dan sebagian masyarakat harus menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal, air sangat dekat dengan kehidupan manusia. Untuk minum, memasak, mandi, hingga berbagai keperluan lainnya, semua membutuhkan air.

Keadaan tersebut patut menjadi bahan renungan bagi umat Islam. Ketika air semakin sulit didapat, kita diingatkan untuk mensyukuri nikmat yang selama ini mudah digunakan sekaligus menjaga lingkungan dengan lebih baik. Dalam kondisi seperti ini, kepedulian kepada tetangga dan masyarakat sekitar juga perlu ditumbuhkan, terutama kepada warga yang paling terdampak kekeringan.

Baca Juga : Cara Mencapai Mindfulness dalam Islam

Melalui khutbah ini, mari kita hadapi kemarau panjang dengan doa, muhasabah, dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi, termasuk menghemat penggunaan air, menjaga sumber mata air, serta membantu orang lain yang kesulitan. Kita juga harus belajar untuk lebih bersyukur, peduli, dan menyerahkan hasil setiap ikhtiar kepada Allah SWT.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَّيِّئَاتُ، وَبِكَرَمِهِ تُقْبَلُ الْعَطَايَا وَالْعِبَادَاتُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ، الْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ، الْمُرْسَلِ إِلَى كَافَّةِ الْمَخْلُوْقِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَتِهِ الْأَطْهَارِ، وَصَحَابَتِهِ الْأَخْيَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِالْاِبْتِعَادِ مِنَ الْأَشْرَارِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ.

Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itu perlu kita hadirkan dalam setiap keadaan, termasuk ketika alam sedang menghadapkan kita pada situasi yang tidak mudah.

Salah satunya adalah ketika kemarau panjang datang dan air semakin sulit diperoleh.
Kita mungkin baru benar-benar menyadari betapa berharganya air ketika harus mencarinya.

Ketika keran tidak lagi mengalir, sumur mulai surut, atau sumber air yang selama ini mudah dijangkau perlahan mengering, saat itulah kita memahami bahwa air bukan sesuatu yang boleh dianggap sepele.

Beberapa waktu terakhir, kemarau panjang mulai dirasakan di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pertengahan September 2026 mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia masih berada dalam musim kemarau.

Lebih dari 1.600 lokasi bahkan telah mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari 60 hari. Sejumlah wilayah juga berada dalam peringatan kekeringan meteorologis.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kemarau tentu tidak berhenti pada persoalan cuaca yang terasa panas. Ada kebutuhan manusia yang ikut dipertaruhkan ketika air semakin terbatas.

Sawah membutuhkan air. Peternakan membutuhkan air. Rumah tangga membutuhkan air. Kesehatan manusia juga sangat bergantung pada ketersediaan air. Berbagai aktivitas sehari-hari pun tidak dapat berjalan dengan baik tanpa air.

Karena itu, menghadapi kemarau semestinya membuat kita melakukan dua hal sekaligus, yakni muhasabah dan ikhtiar.

Muhasabah mengajak kita melihat ke dalam diri, menyadari keterbatasan sebagai manusia dan mengingat Allah sebagai Zat Yang Mahakuasa. Sementara ikhtiar mengajarkan kita untuk tidak tinggal diam. Ada persoalan yang harus kita hadapi dengan usaha, dengan pengetahuan, dengan kerja bersama, dan dengan memanfaatkan kemampuan yang telah Allah berikan.

Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.

Al-Qur’an memberikan sebuah pelajaran melalui kisah Nabi Hud dan kaum ‘Ad. Nabi Hud menyeru kaumnya agar kembali kepada Allah, memohon ampun, dan bertobat.

Allah Swt. berfirman:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Artinya: “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat kepadamu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu. Janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.” (QS Hud: 52)

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir (Dimasyq: Dar al-Fikr, 1418), juz 12, hlm. 91, menerangkan bahwa seruan Nabi Hud tersebut berkaitan dengan kehidupan kaumnya yang sangat membutuhkan air. Kaum ‘Ad pada umumnya bercocok tanam sehingga air menjadi kebutuhan penting untuk menopang kehidupan sekaligus perekonomian mereka.

Memang, ayat tersebut berbicara tentang Nabi Hud dan kaum ‘Ad. Namun, ada pelajaran yang dapat kita bawa ke dalam kehidupan hari ini.

Ketika menghadapi kesulitan, manusia perlu kembali kepada Allah. Istighfar dan tobat menjadi bagian dari muhasabah. Keduanya bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan, tetapi harus diikuti kesediaan untuk memperbaiki diri dan perilaku.

Namun, jemaah yang dimuliakan Allah, kita juga perlu berhati-hati dalam memahami ayat tersebut.

Jangan sampai setiap kemarau langsung kita simpulkan sebagai hukuman Allah akibat dosa seseorang atau kelompok tertentu. Kemarau juga merupakan fenomena alam yang mempunyai sebab-sebab klimatologis. Karena itu, ketika kekeringan terjadi, tugas kita bukan mencari siapa yang harus disalahkan.

Yang perlu kita lakukan adalah melihat ke dalam diri, memperbaiki apa yang memang harus diperbaiki, sekaligus mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Karena islam mengajarkan doa, sekaligus mengajarkan ikhtiar.

Kita memohon kepada Allah karena menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Pada saat yang sama, Allah memberikan akal, tenaga, ilmu, dan berbagai kemampuan agar manusia menggunakannya untuk menghadapi persoalan kehidupan.

Hal ini dapat kita renungkan dari kisah Umar bin Khattab ketika beliau tidak jadi memasuki suatu wilayah yang sedang dilanda wabah. Ketika ditanya, “Apakah Anda hendak lari dari takdir Allah?”

Umar menjawab:

نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلَى قَدَرِ اللهِ

Artinya: “Iya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

Kalimat tersebut memberikan pelajaran bahwa menghindari bahaya bukan berarti menolak takdir. Begitu juga ketika menghadapi kekeringan.

Menghemat air, mencari sumber air alternatif, memperbaiki saluran yang bocor, menampung air hujan, serta menjaga daerah resapan bukan berarti kita melawan takdir Allah. Justru itulah bagian dari ikhtiar sebagai manusia yang diberi amanah untuk menjaga kehidupan.

Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.

Rasulullah saw. juga telah memberikan teladan bahwa persoalan kekeringan dihadapi dengan doa dan ikhtiar. Salah satu bentuk ibadah yang diajarkan beliau adalah salat istisqa’, yakni salat untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan.

Dalam riwayat Aisyah di dalam Sunan Abu Dawud, diceritakan bahwa ketika masyarakat mengadukan kemarau panjang kepada Rasulullah saw., beliau mengajak mereka berkumpul. Rasulullah kemudian berkhutbah dan melaksanakan salat yang dalam fikih dikenal sebagai salat istisqa’.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 18 September 2026: Aries hingga Virgo, Ada Peluang Baru yang Perlu Dicermati

Syekh al-'Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, juz 4, hlm. 36, menjelaskan hikmah Rasulullah saw. mengubah arah ketika berkhutbah, dari menghadap jemaah menuju kiblat. Hal tersebut merupakan simbol dalam doa agar keadaan yang semula mengalami paceklik berubah menjadi keadaan yang subur.

Di sini kita melihat teladan yang sangat jelas. Ketika hujan tidak kunjung turun, Rasulullah saw. mengajarkan umat untuk menghadap Allah dan memohon pertolongan-Nya. Ada pengakuan bahwa manusia tidak berkuasa mengendalikan alam. Ada kesadaran bahwa hujan merupakan bagian dari rahmat Allah yang sangat kita butuhkan.

Namun, setelah berdoa, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha. Karena itu, menghadapi kekeringan seharusnya tidak berhenti pada istighfar, salat, dan doa meminta hujan. Semua itu perlu berjalan bersama dengan tindakan nyata.

Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.

Coba kita bertanya kepada diri sendiri. Ketika kemarau panjang berlangsung, apa yang sudah kita lakukan terhadap air yang masih tersedia?

Barangkali jawabannya dimulai dari hal-hal sederhana di rumah. Jika ada keran yang bocor, segera perbaiki. Jika penggunaan air masih dapat dikurangi tanpa mengganggu kebersihan dan kesehatan, mari kita hemat. Jangan membiarkan air mengalir tanpa kebutuhan hanya karena hari ini kita masih mudah mendapatkannya.

Sebab, sering kali manusia baru menghargai sebuah nikmat setelah nikmat tersebut mulai sulit ditemukan.

Kita juga perlu menjaga sumber air yang ada. Mata air, sungai, dan daerah resapan merupakan bagian penting dari kehidupan. Semua itu tidak boleh diperlakukan seenaknya.

Menjaga lingkungan bukan hanya urusan ekologis. Ada amanah manusia di dalamnya. Allah menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, sehingga menjaga keberlangsungan kehidupan menjadi bagian dari tanggung jawab kita.

Ketika sumber air dicemari, pada hakikatnya kita sedang mempersempit ruang kehidupan manusia dan makhluk Allah lainnya. 

Bagi para petani, ikhtiar menghadapi kemarau dapat dilakukan dengan menyesuaikan pola tanam, memilih tanaman yang sesuai dengan ketersediaan air, menggunakan teknik pengairan yang lebih efisien, serta memperhatikan informasi cuaca.

Bagi pemerintah dan pengelola fasilitas umum, tanggung jawabnya juga tidak kecil. Pengelolaan sumber air, perbaikan jaringan distribusi, penyediaan air untuk wilayah yang terdampak, pembangunan dan pemeliharaan sarana penampungan air, hingga pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi tersebut.

Sementara bagi saudara-saudara kita yang diberi kemampuan lebih, jangan lupa bahwa di sekitar kita mungkin ada keluarga yang sedang kesulitan mendapatkan air.

Ada tetangga yang mungkin harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan air bersih. Dalam keadaan seperti itu, kepedulian tidak cukup berhenti pada ucapan, “Semoga dimudahkan.”

Jika kita mampu memberikan air, berikan. Jika mampu membantu menyediakan tandon, bantulah. Jika bisa bergotong royong mencari sumber air, mari dilakukan bersama. Sedekah air mungkin tampak sederhana, namun bagi orang yang sedang kesulitan mendapatkannya, bantuan tersebut sangat berarti.

Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.

Kemarau panjang mengajarkan kepada kita bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya pandai meminta pertolongan kepada Allah. Ia juga harus bersedia melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

Kita berdoa karena kita adalah makhluk yang lemah. Kita berikhtiar karena Allah telah memberi kita akal, tenaga, ilmu, dan kemampuan.

Dua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan.
Maka, mari kita jadikan kemarau ini sebagai momentum untuk memperbaiki dua hal sekaligus, yakni memperbaiki hati dan memperbaiki ikhtiar.

Kita perbanyak istighfar dan tobat. Kita laksanakan salat istisqa’ ketika diperlukan. Kita panjatkan doa agar Allah segera menurunkan hujan yang bermanfaat.

Pada saat yang sama, kita jaga setiap tetes air yang masih Allah titipkan. Kita rawat sumber air, kita lindungi lingkungan, kita bantu saudara yang mengalami kesulitan, dan kita gunakan air secukupnya.

Semoga Allah Swt. mengampuni dosa-dosa kita, menerima tobat kita, memperbaiki keadaan kita, mencukupi kebutuhan air bagi manusia dan seluruh makhluk-Nya.

Semoga Allah segera menurunkan hujan yang bermanfaat, hujan yang membawa keberkahan, menyuburkan tanah, menghidupkan sumber-sumber air, dan menjadi rahmat bagi seluruh kehidupan.

آمِينْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ.

إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَالتَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.