JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Wali Kota Blitar Hidupkan Rutinan Minggu Kliwon di Makam Bung Karno, Romy Soekarno: Warisi Apinya, Jangan Abunya

Reporter: Aunur Rofiq • Editor: A Yahya
📅 20 September 2026, 08:58 WIB ⏱️ 7 menit baca

JATIMTIMES Makam Bung Karno (MBK) tak hanya dibuka selama 24 jam. Pemerintah Kota Blitar mulai mengisinya dengan agenda yang mempertemukan doa, sejarah, dan pemikiran Sang Proklamator. Setelah ziarah malam Jumat berjalan rutin, kini giliran Minggu Kliwon dihidupkan sebagai ruang bersama bagi masyarakat dan para pecinta Bung Karno.

Ratusan jamaah mengikuti Ziarah Akbar Rutinan Malam Ahad Kliwon di kawasan Makam Bung Karno, Sabtu (19/9/2026) malam. Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin hadir bersama Romy Soekarno, anggota Komisi II DPR RI sekaligus cucu Bung Karno, para kiai, tokoh masyarakat, dan jamaah.

Baca Juga : Akses Suporter Terpisah, Pemkab Kediri Bangun Jalan Menuju Stadion GDJ

Mas Ibin mengatakan Minggu Kliwon memiliki makna tersendiri karena berkelindan dengan wafatnya Bung Karno. Momentum itu ingin dirawat bukan sekadar sebagai ritual mengenang, tetapi juga ruang untuk membaca kembali gagasan dan perjuangan Presiden pertama RI tersebut.

“Kenapa Minggu Kliwon ini spesial? Karena Minggu Kliwon inilah beliau meninggalkan kita semua. Walaupun beliau tiada, tapi serasa beliau masih ada karena beliau meninggalkan banyak konsep, banyak sejarah, banyak hal terkait berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Mas Ibin.

Menurut dia, generasi penerus memiliki tanggung jawab menjaga semangat itu. Penghormatan kepada Bung Karno tidak berhenti pada ziarah dan doa, tetapi diteruskan melalui keberpihakan kepada rakyat serta ikhtiar membangun bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.

“Makanya kita sebagai generasi penerus harus tetap semangat sebagaimana beliau dulu. Semangat dalam mendirikan bangsa ini, semangat dalam memperjuangkan rakyat Indonesia, semangat dalam segala hal untuk bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Mas Ibin.

Dua Rutinan Hidupkan Makam Bung Karno

Minggu Kliwon menambah denyut kegiatan di MBK setelah Pemkot Blitar memulai ziarah rutin setiap malam Jumat. Mas Ibin menyebut konsistensi menjadi kunci agar operasional 24 jam tidak sebatas memperpanjang waktu kunjungan.

“Rutinitasnya sekarang sudah ada dua. Setiap malam Jumat, alhamdulillah diikuti oleh dua ratusan. Selain Yasin dan tahlil, tentunya selapanan atau setiap Minggu Kliwon juga kita adakan rutinan,” ujarnya.

Mas Ibin berharap rutinan Minggu Kliwon berkembang dengan menghadirkan tokoh-tokoh nasional untuk membicarakan sejarah, pemikiran, dan pesan Bung Karno. Jamaah yang kini berjumlah ratusan pun diharapkan terus bertambah.

Wadahnya telah diberi nama Majelis Pecinta Bung Karno. Melalui majelis tersebut, masyarakat dapat terlibat dalam dua rutinan yang terbuka bagi para pecinta Bung Karno.

Pergerakan itu berjalan beriringan dengan kenaikan kunjungan. Data Pemkot Blitar mencatat, kunjungan MBK pada Agustus 2026 mencapai 21.031 orang, terdiri atas 18.502 kunjungan siang dan 2.529 malam. Angka itu naik sekitar 157 persen dibandingkan Agustus 2025 yang mencatat 8.191 pengunjung.

Tren serupa terlihat pada 1–15 September. Kunjungan meningkat dari sekitar 9.936 orang pada periode yang sama tahun 2025 menjadi 11.701 orang pada 2026, atau naik sekitar 18 persen. Dari angka tahun ini, 9.206 merupakan kunjungan siang dan 2.495 kunjungan malam.

Romy Soekarno: Warisi Apinya, Jangan Abunya

Dukungan Romy terhadap MBK 24 jam berkelindan dengan pesan yang ia sampaikan di hadapan jamaah rutinan Minggu Kliwon. Putra Rachmawati Soekarnoputri itu mengingatkan bahwa datang ke pusara Bung Karno tidak semestinya berhenti pada mengenang masa lalu. Ziarah juga menjadi ruang untuk merenungkan perjuangan yang harus diteruskan generasi hari ini.

“Kita datang ke Makam Bung Karno bukan sekadar untuk mengenang Bung Karno. Kita datang untuk merenungkan apa yang harus kita teruskan dari perjuangannya. Karena Bung Karno pernah mengingatkan: warisi apinya, jangan abunya,” kata Romy.

Menurut Romy, “api” itu adalah semangat kemerdekaan, keberanian berdiri sebagai bangsa berdaulat, persatuan di tengah perbedaan, keberpihakan kepada rakyat kecil, serta cita-cita mewujudkan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut, menurut dia, tetap relevan ketika Indonesia menghadapi perubahan zaman, mulai revolusi teknologi dan kecerdasan buatan hingga persaingan antarbangsa.

“Jasadnya beristirahat di sini. Namun api pemikirannya harus tetap hidup di tengah-tengah kita. Jangan hanya mewarisi fotonya, jangan hanya mewarisi namanya. Warisi keberaniannya, kecintaannya pada Indonesia, dan keberpihakannya kepada rakyat,” ujarnya.

Pesan itu kembali ditegaskan Romy dalam wawancara seusai acara. Sebagai cucu Bung Karno, ia mengaku memiliki tanggung jawab untuk ikut meneruskan cita-cita Sang Proklamator. Menurut dia, Indonesia memiliki modal sumber daya yang besar untuk tumbuh menjadi bangsa yang maju dan berdiri sejajar dengan negara lain.

“Cita-cita Bung Karno itu memang kewajiban saya sebagai cucu untuk menjalankan. Warisi apinya, bukan abunya. Kalau abu sudah menjadi abu. Api terus membara, kita harus terus bakar,” kata Romy.

Baca Juga : Selain Relokasi, DPRD Kota Malang Ingatkan Penataan Pasar Gadang Soal Status Aset

Ia menyinggung kekayaan sumber daya Indonesia, dari nikel, emas hingga minyak, sebagai modal yang harus dikelola untuk kemajuan bangsa. Romy juga merujuk pidato Bung Karno To Build the World Anew di Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai cermin keyakinan Sang Proklamator terhadap kemampuan Indonesia berdiri sebagai bangsa besar.

“Bangsa ini bangsa yang besar. Kita mempunyai semua resources, kita mempunyai nikel, emas, minyak. Kita harus maju, kita tidak boleh kalah dengan bangsa-bangsa yang lain,” tegasnya.

Dalam konteks itulah Romy melihat keterbukaan Makam Bung Karno selama 24 jam bukan semata persoalan memperpanjang waktu kunjungan. Akses yang semakin luas diharapkan membawa semakin banyak masyarakat datang untuk berziarah, mengenal sejarah, sekaligus bersentuhan kembali dengan gagasan Bung Karno.

“Luar biasa. Ini adalah satu kultur baru yang saya harap bisa membuat masyarakat Blitar maupun seluruh Indonesia yang menghargai jasa Bung Karno mempunyai waktu lebih banyak untuk berziarah dan mendoakan beliau, sehingga apa yang dicita-citakan beliau bisa kita jalankan,” pungkas Romy.

Mbah Joko, Saksi Hidup Pemakaman Bung Karno

Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Mutaalimin, KH Muhtar Lubby atau Gus Lubby, turut memberi warna dalam rutinan Minggu Kliwon malam itu. Selain memimpin doa, Gus Lubby menyampaikan ceramah yang mengangkat kisah kedekatan masyarakat dan ulama Blitar dengan Bung Karno.

Di tengah ceramahnya, Gus Lubby memperkenalkan Mbah Joko yang kini berusia sekitar 90 tahun. Gus Lubby menyebut Mbah Joko sebagai salah seorang saksi hidup yang ikut dalam proses pemakaman Bung Karno di Blitar. Kehadirannya membawa jamaah menengok kembali peristiwa lebih dari setengah abad silam, ketika Sang Proklamator wafat pada Minggu Kliwon, 21 Juni 1970, sebelum kemudian dimakamkan di Blitar.

Momentum Minggu Kliwon itu pula yang kini dihidupkan kembali melalui rutinan selapanan di Makam Bung Karno. Bukan hanya sebagai ruang doa, kegiatan tersebut menjadi ikhtiar merawat ingatan sejarah serta mendekatkan generasi hari ini dengan perjalanan dan pemikiran Sang Proklamator.

Gus Lubby sempat meminta Mbah Joko berbagi pengalamannya secara langsung. Namun, Mbah Joko memilih tidak memberikan penuturan panjang. Gus Lubby kemudian mengisahkan kembali cerita yang sebelumnya pernah disampaikan Mbah Joko kepadanya.

Dalam penuturannya, Gus Lubby juga menyebut peran Kiai Zahid, yang kala itu merupakan Rais Syuriyah PCNU Blitar. Berdasarkan cerita yang diterimanya, Kiai Zahid termasuk ulama yang mendukung pemakaman Bung Karno di Blitar di tengah dinamika politik pada masa tersebut.

Setelah Bung Karno dimakamkan, Gus Lubby menuturkan, warga sekitar bersama kalangan Nahdlatul Ulama menggelar selamatan dan tahlil di makam. Para kiai, termasuk Kiai Zahid, datang pada malam hari dengan penerangan lampu sentir.

“Setelah dimakamkan itu, warga sini sama warga NU selamatan, tahlilan. Tahlilannya di makam. Itu sampai tujuh hari, setiap malam,” tutur Gus Lubby.

Berdasarkan cerita tersebut, doa selama tujuh malam juga diisi dengan pembacaan Surah Al-Ikhlas atau yang lazim disebut Qulhu sebanyak 3.333 kali. Bagi Gus Lubby, kisah itu menunjukkan kuatnya ikatan masyarakat Blitar dengan Bung Karno sejak Sang Proklamator dimakamkan di kota ini.

“Begitu cintanya warga Blitar, warga kota ini, pada sosok Bung Karno. Luar biasa,” katanya.

Jejak sejarah itu kini menemukan ruang baru melalui rutinan malam Jumat dan Minggu Kliwon. Bagi Pemkot Blitar, doa di pusara Bung Karno berjalan beriringan dengan upaya merawat ingatan sejarah serta mengenalkan kembali pemikiran Sang Proklamator kepada generasi berikutnya.

“Insyaallah Minggu Kliwon dan malam Jumat ini menjadi acara rutin, bukti cinta kita kepada Bung Karno dan menghidupkan kembali apa yang telah diwariskan beliau. Sebagaimana kata Mas Romy, api perjuangannya harus kita lanjutkan,” pungkas Mas Ibin.

Topik Terkait
# syauqul muhibbin# kota blitar# makam bung karno

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap