Siap-siap Nostalgia Lagu 2000-an, Astrid hingga Kahitna akan Manggung di Kota Malang

Reporter

Hendra Saputra

19 - Sep - 2026, 06:13

Penyanyi lagu Terpukau, Astrid (perempuan tengah) akan tampil di Kota Malang pada Januari 2027. (Foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kota Malang bakal kembali menjadi panggung nostalgia musik era 2000-an. Konser bertajuk Titik Balik akan digelar di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) pada 30 Januari 2027 dengan menghadirkan empat nama besar, yakni Astrid, Reza Artamevia, Kahitna dan Element.

Konser yang digagas JC Entertainment bersama Luxar Creative tersebut tidak sekadar menawarkan nostalgia. Titik Balik membawa cerita tentang perjalanan seseorang ketika melewati masa sulit, mulai dari patah hati, kesedihan hingga fase ketika hampir menyerah, sebelum akhirnya mampu bangkit dan merayakan hidup.

Baca Juga : Anggota DPRD Rendra Masdrajad Jadi Ketua Kodrat Kota Malang, Siapkan Gebrakan Baru hingga 2030

Manager JC Entertainment, Ahmad Anas mengatakan, gagasan konser tersebut lahir dari pengalaman banyak orang yang pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Musik era 2000-an dipilih karena dianggap memiliki kedekatan dengan perjalanan tersebut.

“Nah, kami di JC Entertainment dan Luxar Creative ingin memberikan apresiasi kepada orang-orang yang sudah melewati titik terendah itu dan kembali ke atas dengan mempersembahkan sebuah konser yang bertema musik di era 2000-an. Yang mana lagu-lagu tersebut sangat relate dengan perjalanan, mungkin ya, perjalanan cinta, perjalanan hidup, atau bahkan realita-realita kehidupan mereka,” kata Anas.

Menurut Anas, lagu-lagu era 2000-an memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali memori lama. Karena itu, penonton nantinya tidak hanya diajak bernyanyi, tetapi juga mengingat perjalanan yang pernah mereka lewati.

“Jadi konser ini buat teman-teman sekalian ini adalah konser yang semua berawal dari sebuah memori, tapi yang pada ujungnya akan turun ke hati,” imbuh Anas.

Konser Titik Balik menargetkan sekitar 6.000 penonton. Menariknya, meski identik dengan generasi milenial, konser ini juga menyasar Gen Z yang saat ini masih akrab dengan lagu-lagu 2000-an melalui versi remix maupun cover.

“Mungkin seolah-olah konser ini tidak menyasar ke Gen Z ya, tapi realitasnya sebenarnya Gen Z itu tahu lagu-lagu era-era 2000, cuma mereka dengarnya di modal musik yang sudah diremix atau bentuk cover. Nah, kami ini menghadirkan musisi-musisi yang menyanyikan lagu tersebut,” ungkap Anas.

Nuansa emas atau gold juga sengaja dipilih sebagai warna utama konser. Anas menyebut warna tersebut menjadi simbol keberhasilan setelah seseorang mampu melewati masa sulit.

“Jadi kita di sini akan merayakan kesuksesan ini bersama, dengan gold adalah lambang dari sebuah kesuksesan atau lambang sebuah orang yang sudah lepas dari masa sulit,” kata Anas.

Sementara itu, tiket early bird akan mulai dijual beberapa hari setelah konferensi pers dengan harga mulai Rp175 ribu. Penonton dapat memilih tiga kategori, yakni Tribune, VIP Standing dan VIP Seating.

Astrid menjadi salah satu nama yang paling lekat dengan musik era 2000-an. Ia mengaku tertarik tampil karena konser tersebut mengingatkannya pada masa ketika mulai merintis karier di industri musik Indonesia.

“Karena konser Titik Balik ini kan nostalgia era 2000-an ya. Itu saya pikir sangat menarik, apalagi itu era 2000-an tuh adalah di mana saya merintis karier di industri musik Indonesia, dan akhirnya ya bertahan sampai sekarang, gitu. Jadi saya rasa ini konser yang oke banget,” kata Astrid.

Baca Juga : 6 Rekomendasi Drakor untuk Teman Akhir Pekan, Ada Romance hingga Kisah Balas Dendam

Menurut Astrid, musik era 2000-an mempunyai karakter yang membuatnya tetap dicari hingga sekarang. Lirik yang dianggap jujur dan mudah mengikat kenangan menjadi salah satu alasannya.

“Iya, kalau menurut saya ya, musik era 2000-an tuh memorable. Memorable, terus liriknya tuh juga jujur gitu, terus timeless,” ungkap penyanyi yang lekat dengan lagu dengan judul Terpukau ini.

Astrid bahkan telah menyiapkan konsep yang membawa penonton kembali ke masa galau dan kasmaran. Ia juga membuka kemungkinan adanya sesi bernyanyi bersama.

“Saya sudah menyiapkan sih sebetulnya konsep yang vibesnya itu memang mengajak teman-teman itu untuk mengingat kembali masa-masa galau itu, masa-masa kasmaran itu di era 2000-an. Jadi saya mah pengennya teman-teman tuh benar-benar teringat masa itu gitu. Terus juga mungkin ada momen sing along kayaknya ya pengen saya kasih, supaya ada surprise lah ya,” ungkap Astrid.

Bagi Astrid, titik balik dalam perjalanan seorang musisi bukan sekadar perubahan, melainkan proses menemukan karakter dan terus bertumbuh.

“Titik balik itu menurut saya adalah momen di mana seorang musisi itu beradaptasi, menemukan warna sejatinya, dan terus bertumbuh,” kata Astrid.

Ia juga mengungkap lagu Ratu Cahaya sebagai salah satu titik balik dalam kariernya. Lagu debut yang dirilis pada 2003 tersebut menjadi soundtrack film Tusuk Jelangkung dan hadir dengan karakter yang kala itu dianggap cukup berbeda.

“Lagu saya yang menjadi titik balik yaitu di lagu debut ya, lagu pertama yang saya rilis itu lagu Ratu Cahaya. Memang tidak banyak yang tahu, dan rasanya kayak aneh lagu itu,” ungkap Astrid.

Konser Titik Balik pun disiapkan sebagai ruang untuk mempertemukan musik, kenangan dan perjalanan hidup. Satu malam di Graha Cakrawala UM nantinya bukan hanya menjadi panggung empat musisi besar, tetapi juga ajakan untuk menoleh sejenak pada masa lalu dan merayakan titik di mana setiap orang berhasil bangkit.