Musim Hujan 2026 Mulai Datang, Daerah Mana yang Lebih Dulu Diguyur Hujan?

16 - Sep - 2026, 05:39

Ilustrasi hujan. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Musim hujan di Indonesia tidak selalu dimulai pada waktu yang sama. Ketika sebagian daerah mulai mendapatkan hujan dengan intensitas lebih tinggi, wilayah lainnya masih harus menghadapi kondisi kering karena musim kemarau belum sepenuhnya berakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan pola curah hujan pada September 2026 hingga Februari 2027 secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah. Kondisi tersebut membuat datangnya musim hujan perlu dilihat berdasarkan wilayah, bukan secara serentak untuk seluruh Indonesia.

Baca Juga : Menelusuri Jejak Syekh Yusuf, Ulama asli Nusantara yang Jejaknya Mendunia hingga Diakui Nelson Mandela

Memasuki September 2026, sejumlah wilayah Indonesia mulai memiliki peluang mendapatkan curah hujan yang lebih tinggi. Namun, BMKG mengingatkan bahwa meningkatnya hujan di suatu daerah belum otomatis menandakan wilayah tersebut telah memasuki musim hujan.

Peluang curah hujan lebih dari 300 milimeter per bulan diprakirakan cukup tinggi di Aceh bagian selatan dan pesisir timur Sumatera Utara.

Di sisi lain, wilayah yang masih berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 100 milimeter per bulan cukup luas. Daerah tersebut antara lain:

• Sumatera Barat bagian selatan

• Jambi

• Bengkulu

• Sumatera Selatan

• Kepulauan Bangka Belitung

• Lampung

• Pulau Jawa

• Bali

• NTB

• NTT

• Kalimantan Barat

• Kalimantan Tengah

• Kalimantan Selatan

• Kalimantan Timur bagian timur

• Pulau Sulawesi

• Maluku Utara

• Maluku

• Sebagian besar Pulau Papua

Bahkan, peluang curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan masih tinggi di sejumlah wilayah, termasuk Bengkulu bagian selatan, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga beberapa wilayah Papua.

Memasuki Oktober 2026, kondisi atmosfer mulai menunjukkan perubahan di sejumlah daerah. Namun, hujan dengan intensitas rendah masih berpeluang terjadi di banyak wilayah Indonesia.

BMKG memprakirakan curah hujan lebih dari 300 milimeter per bulan berpeluang tinggi terjadi di Aceh bagian tengah dan barat, Sumatera Utara bagian barat, sebagian kecil Kalimantan Barat, serta Papua Barat Daya.

Sementara itu, curah hujan kurang dari 100 milimeter per bulan masih berpeluang tinggi terjadi di:

• Sebagian kecil Sumatera Barat bagian selatan

• Sebagian kecil Jambi

• Sebagian besar Sumatera Selatan

• Kepulauan Bangka Belitung

• Lampung

• Pulau Jawa

• Bali

• NTB

• NTT

• Kalimantan bagian selatan dan timur

• Sebagian besar Sulawesi

• Sebagian Maluku

• Sebagian Papua

Untuk curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan, peluang tinggi masih terdapat di Sumatera Selatan bagian selatan, Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTB, sebagian besar NTT, Kalimantan Selatan bagian selatan, Sulawesi Tengah bagian timur, Sulawesi Selatan bagian selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku bagian selatan, serta Papua Selatan bagian selatan.

Jawa Timur masih perlu bersiap menghadapi periode kemarau pada September hingga Oktober 2026. Berdasarkan prakiraan BMKG, Pulau Jawa termasuk wilayah yang berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 100 milimeter per bulan pada dua bulan tersebut.

Baca Juga : Ramai Keluhan MBG Tak Dimakan karena Stiker Batas Jam, Takut Keracunan

Sebagian wilayah Jawa bahkan memiliki peluang curah hujan di bawah 50 milimeter per bulan. Artinya, hujan yang sesekali turun belum bisa langsung dijadikan patokan bahwa musim hujan telah dimulai.

Khusus Surabaya, BMKG Juanda memprakirakan awal musim hujan berpotensi mengalami kemunduran. Salah satu faktor yang disebut berkaitan dengan kondisi El Niño yang diprakirakan masih berlangsung hingga Februari 2027.

Curah hujan di Surabaya pada September-November 2026 juga diprakirakan relatif rendah. Dengan kondisi tersebut, masyarakat Kota Pahlawan masih perlu mewaspadai dampak musim kemarau meskipun hujan mulai muncul di beberapa waktu tertentu.

Secara umum, periode Oktober mulai menjadi masa peralihan menuju kondisi yang lebih basah di sejumlah wilayah Indonesia. Musim hujan kemudian dapat meluas hingga awal tahun berikutnya.

Namun, awal musim hujan setiap daerah tidak dapat disamaratakan. Kondisinya dipengaruhi oleh pola atmosfer, dinamika iklim, serta karakteristik curah hujan masing-masing wilayah.

Karena itu, hujan yang turun pada September 2026 belum tentu menjadi tanda bahwa suatu daerah telah memasuki musim hujan.

Untuk memastikan awal musim hujan, masyarakat dapat mengacu pada prakiraan awal musim hujan berdasarkan Zona Musim (ZOM) yang diterbitkan BMKG. Informasi tersebut lebih spesifik karena mempertimbangkan karakteristik wilayah dan pola curah hujan setempat.

Dengan demikian, September hingga Oktober 2026 masih menjadi periode yang perlu dicermati. Sebagian wilayah memang mulai lebih sering diguyur hujan, tetapi sejumlah daerah, termasuk wilayah Jawa Timur, masih berpotensi mengalami kondisi kering sebelum musim hujan benar-benar meluas.