Api Melalap Dapur Gizi RSSA Malang, 45 Pasien Dipindah dan Penyebab Kebakaran Masih Misterius
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
09 - Sep - 2026, 08:50
JATIMTIMES - Kebakaran di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Rabu (9/9/2026), bukan sekadar insiden api yang melalap sebuah ruangan. Kobaran yang muncul dari dapur gizi di lantai dua itu memaksa rumah sakit mengambil langkah cepat karena lokasinya berdekatan dengan ruang perawatan pasien anak dan wanita.
Api pertama kali diketahui sekitar pukul 14.50 WIB. Dalam hitungan menit, asap dan kobaran api menjadi perhatian serius di kawasan rumah sakit. Sebanyak 20 personel UPT Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Malang kemudian dikerahkan dengan kekuatan empat unit water supply dan satu unit rescue.
Baca Juga : Satreskrim Polres Malang Ungkap 957 Kasus Kriminal, Terbanyak di Jatim Selama 2026
Langkah pemadaman dilakukan untuk memastikan api tidak merambat ke bagian bangunan lain yang masih digunakan untuk pelayanan pasien.
Setelah sekitar satu setengah jam penanganan, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.30 WIB.
Namun, persoalan tidak berhenti setelah kobaran api berhasil dijinakkan. Keselamatan pasien yang berada di sekitar lokasi menjadi perhatian berikutnya. Pihak RSSA memindahkan puluhan pasien dari ruang rawat inap sebagai langkah antisipasi terhadap paparan asap.
Direktur RSSA Malang Bachtiar Budianto mengatakan, pasien anak menjadi salah satu kelompok yang langsung mendapat perhatian karena ruang perawatannya berada tidak jauh dari lokasi kebakaran.
"Pasien di ruang rawat inap khusus anak telah dipindah ke ruang yang lebih safety dari asap, yakni di Grand Pavilion," kata Bachtiar.
Total terdapat 45 pasien yang dievakuasi ke ruang lain. Pemindahan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko apabila asap kebakaran masuk ke ruang perawatan.
Bachtiar memastikan kondisi pasien yang dievakuasi tidak mengalami kegawatan. Setelah dipindahkan, rumah sakit melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan tidak ada dampak kesehatan akibat kejadian tersebut.
"Alhamdulillah setelah dipindah kami lakukan screening ulang pada pasuen dan hasilnya tidak ada kegawatan atau hal mengkhawatirkan kepada anak," tegasnya.
Menariknya, perhatian RSSA tidak hanya tertuju pada kondisi fisik pasien. Situasi kebakaran yang terjadi di lingkungan rumah sakit juga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis, terutama bagi pasien anak.
Baca Juga : Dapur Gizi RSSA Malang Terbakar, Direktur Ungkap Jaringan Listrik Belum Sepenuhnya Diperbarui
Karena itu, rumah sakit menyiapkan pendampingan psikologis. Psikiater dan psikolog akan diterjunkan langsung ke ruang perawatan untuk memantau kondisi mental pasien setelah kejadian.
"Ada psikiater dan psikolog akan mendampingi turun ke ruangan setiap hari," jelasnya.
Di sisi lain, kebakaran tersebut menyisakan kerugian yang tidak kecil. Ruang dapur gizi yang terbakar memiliki luas sekitar 300 meter persegi. Nilai kerugian sementara ditaksir mencapai Rp 900 juta.
Besarnya nilai kerugian membuat penanganan pascakebakaran menjadi perhatian tersendiri. Terlebih, dapur gizi merupakan bagian penting dalam mendukung kebutuhan makanan pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit.
Sementara itu, penyebab kebakaran belum disampaikan. Area yang terdampak masih dipasangi garis polisi untuk kepentingan keamanan sekaligus proses investigasi oleh pihak berwenang.
Artinya, ada sejumlah hal yang masih menunggu jawaban dari proses penyelidikan, termasuk bagaimana api pertama kali muncul di dapur gizi dan apa yang menjadi pemicu kebakaran.
Untuk sementara, RSSA memastikan keselamatan pasien menjadi prioritas. Sebanyak 45 pasien telah dipindahkan dari area yang dinilai berisiko terpapar asap, sementara kondisi mereka terus dipantau oleh tim medis rumah sakit.
