Abu Vulkanik Krakatau Bisa Bikin Mesin Pesawat Bermasalah, Begini Penjelasannya
Reporter
Irsya Richa
Editor
A Yahya
06 - Sep - 2026, 05:15
JATIMTIMES - Abu vulkanik dari aktivitas erupsi gunung api tidak hanya berpotensi mengganggu kesehatan manusia, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan. Material vulkanik yang terbawa angin dapat menyebar hingga ke jalur penerbangan dan mengganggu kinerja mesin pesawat.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran sangat kecil, yakni kurang dari 2 milimeter. Karena ukurannya sangat halus, material tersebut dapat terbawa angin dalam jarak yang cukup jauh dari pusat erupsi.
Baca Juga : Pameran dan Launching Buku Jatuh Cinta: Melihat Perjalanan 40 Tahun Maestro Seni Keramik Muchlis Arif
“Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral,” kata Daryono.
Menurutnya, karakteristik abu vulkanik tersebut membuat material ini berbahaya apabila masuk ke dalam mesin pesawat. Pada temperatur tinggi di dalam mesin jet, partikel abu dapat meleleh dan kemudian menempel pada komponen mesin, termasuk bagian turbin.
Penumpukan material tersebut berpotensi mengganggu aliran udara dan kinerja mesin. Dalam kondisi konsentrasi abu yang cukup tinggi, mesin pesawat bahkan dapat kehilangan daya dorong atau mengalami engine flameout.
Selain mesin, abu vulkanik juga dapat mengganggu komponen pesawat lainnya. Partikel yang bersifat abrasif dapat mengikis permukaan kaca kokpit dan mengurangi jarak pandang pilot. Abu juga berpotensi mengganggu sensor, sistem navigasi, serta komponen pesawat yang berada di luar mesin.
Risiko tersebut menjadi perhatian dalam aktivitas penerbangan ketika terjadi erupsi gunung api, termasuk apabila abu hasil erupsi terbawa angin menuju ruang udara yang menjadi jalur penerbangan.
Imbas aktivitas erupsi Krakatau juga perlu diwaspadai apabila sebaran abu vulkanik bergerak menuju wilayah dengan aktivitas penerbangan. Arah dan luas penyebaran abu sangat bergantung pada kondisi angin, ketinggian kolom erupsi, serta intensitas erupsi.
Baca Juga : Hari Ini Empat Gunung Api Erupsi Bersamaan, Ancaman Abu hingga Awan Panas Mengintai
Karena itu, informasi mengenai sebaran abu vulkanik menjadi salah satu pertimbangan penting bagi otoritas penerbangan dalam menentukan apakah suatu rute penerbangan masih aman untuk dilalui.
Pesawat tidak harus berada tepat di atas gunung api untuk terdampak abu vulkanik. Material yang terbawa angin dapat membentuk awan abu di wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi, sehingga penerbangan di kawasan terdampak dapat mengalami perubahan rute, penundaan, hingga pembatalan apabila kondisi ruang udara dinilai berisiko.
Dengan karakter abu vulkanik yang sangat halus dan dapat menyebar mengikuti atmosfer, pemantauan arah pergerakan abu menjadi bagian penting dalam mitigasi dampak erupsi terhadap keselamatan penerbangan.
