Suara Dentuman Misterius Gegerkan Bandung Raya, Ini Penjelasan BMKG
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
05 - Sep - 2026, 03:58
JATIMTIMES - Suara dentuman misterius terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya dan sekitarnya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. Bunyi tersebut dilaporkan warga terdengar berulang sejak sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.
Kemunculan suara dentuman itu membuat warga bertanya-tanya mengenai sumbernya. Beragam dugaan pun bermunculan, termasuk kemungkinan berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
Menindaklanjuti laporan masyarakat, BMKG Stasiun Geofisika Bandung melakukan pengecekan terhadap sejumlah data pemantauan. Pemeriksaan mencakup aktivitas kegempaan, petir, kondisi cuaca hingga data magnet bumi.
Kepala Stasiun Geofisika Bandung Suaidi Ahadi menjelaskan berdasarkan data kegempaan BMKG, tidak ditemukan aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya pada periode kejadian.
"Berdasarkan data yang tersedia, suara dentuman yang dilaporkan masyarakat tidak menunjukkan indikasi sebagai kejadian gempa bumi di wilayah Bandung Raya," kata Suaidi, dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9/2026).
Suaidi menyebut hasil monitoring kegempaan tidak menunjukkan adanya aktivitas gempa di Bandung Raya yang dapat menjelaskan suara dentuman tersebut.
Meski demikian, terdapat catatan anomali pada seismogram di Pulau Sibesi. Anomali itu tercatat pada pukul 16.08 UTC dan 16.32 UTC atau sekitar pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB.
Suaidi masih perlu melakukan analisis lebih lanjut terhadap anomali tersebut untuk mengetahui karakteristik dan sumbernya. Keterkaitannya dengan suara dentuman yang dilaporkan warga juga belum dapat dipastikan.
Selain data kegempaan, BMKG juga memeriksa rekaman magnet bumi. Hasil pemantauan pada 4 September 2026 pukul 23.00 WIB hingga 5 September 2026 pukul 02.00 WIB menunjukkan adanya gangguan atau anomali pada stasiun magnet bumi Sukabumi (SXE) dan Serang (SRG).
BMKG memastikan tidak terdapat aktivitas badai Matahari pada periode tersebut. Namun, anomali magnet bumi yang terekam belum bisa secara langsung dijadikan penyebab suara dentuman.
"Namun, berdasarkan data yang tersedia saat ini, gangguan atau anomali magnet bumi tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab suara dentuman yang dilaporkan masyarakat," jelas Suaidi.
BMKG juga mengecek aktivitas petir menggunakan Lightning Detector. Hasilnya, memang terdapat aktivitas petir di wilayah Bandung dan sekitarnya, tetapi intensitasnya relatif rendah.
Aktivitas tersebut dinilai tidak menunjukkan kondisi yang cukup signifikan untuk menjelaskan suara dentuman yang dilaporkan warga.
"Aktivitas petir lokal di wilayah Bandung Raya juga tidak cukup signifikan untuk menjelaskan suara dentuman tersebut," kata Suaidi.
Di sisi lain, alat pemantau justru merekam aktivitas petir yang cukup signifikan di sekitar Gunung Anak Krakatau dalam periode yang berdekatan dengan waktu kejadian.
Baca Juga : Anak Krakatau Erupsi Semalaman: Lava Merah Menyala, Jangan Dekati Radius 3 Km
Selain aktivitas petir, BMKG juga mendeteksi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau melalui data citra satelit.
Di sekitar GAK juga terpantau aktivitas petir yang cukup signifikan. Kondisi tersebut membuat aktivitas gunung api di kawasan tersebut turut diperiksa dalam penelusuran sumber dentuman.
Namun, BMKG belum menyimpulkan suara yang terdengar di Bandung berasal dari Gunung Anak Krakatau.
Pasalnya, pada saat aktivitas erupsi GAK terjadi, arah angin terpantau bergerak dari timur ke barat. Kondisi tersebut membuat kemungkinan suara dentuman berasal dari GAK masih perlu dikaji lebih lanjut.
"Namun, arah angin pada saat aktivitas erupsi GAK terjadi berarah Timur ke Barat, sehingga kemungkinan suara dentuman berasal dari sumber lain dan masih memerlukan kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan data lainnya," jelas Suaidi.
Kondisi atmosfer juga menjadi bagian dari pemeriksaan BMKG. Pada periode terjadinya laporan dentuman, cuaca di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, secara umum terpantau cerah.
Arah angin di wilayah tersebut juga bertiup dari timur menuju barat. Tidak ditemukan fenomena cuaca signifikan di sekitar Bandung yang dapat secara langsung dikaitkan dengan suara dentuman.
Dengan demikian, dari hasil pemeriksaan sementara, BMKG belum menemukan indikasi bahwa dentuman tersebut merupakan gempa bumi, aktivitas petir lokal yang signifikan, maupun fenomena cuaca di Bandung Raya.
Sementara aktivitas Gunung Anak Krakatau memang terdeteksi melalui citra satelit dan aktivitas petir di sekitar gunung. Namun, arah angin dan sejumlah data lainnya membuat sumber dentuman belum dapat dipastikan berasal dari GAK.
Hingga saat ini, BMKG masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas kegempaan, petir, magnet bumi serta kondisi atmosfer. Koordinasi dengan instansi terkait juga terus dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai sumber suara dentuman yang menghebohkan warga Bandung Raya tersebut.
