CITRAPATA 2026 Buka Jalan Mahasiswa Tembus Pasar Global Lewat Ekspor Kekayaan Intelektual

Reporter

Hendra Saputra

10 - Jul - 2026, 05:10

Karya mahasiswa dalam pameran tugas akhir Citrapata yang disebut bisa masuk pasar global (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pameran tugas akhir CITRAPATA 2026 menjadi bukti bahwa karya mahasiswa tak berhenti sebagai proyek akademik. Melalui ajang yang digelar pada 6-9 Juli 2026, puluhan inovasi hasil riset diproyeksikan memiliki peluang berkembang menjadi produk berbasis intellectual property (IP) yang mampu bersaing di pasar global.

Sebanyak 94 karya dari Program Visual Communication Design serta Interactive Design & Technology dipamerkan dalam gelaran tersebut. Seluruh karya lahir dari proses riset yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan diterjemahkan menjadi solusi kreatif berbasis teknologi.

Baca Juga : Sidak Tambang Gunung Sadeng, Satgas ITT Temukan 10 Perusahaan Nunggak Pajak Hingga Capai Rp.1,6 Miliar

Rektor BINUS, Dr Nelly, mengatakan CITRAPATA menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa inovasi dapat memberikan solusi nyata bagi berbagai persoalan.

"Melalui CITRAPATA, mahasiswa menunjukkan bahwa setiap permasalahan dapat direspons dengan solusi yang kreatif dan berbasis teknologi. Ini merupakan wujud nyata komitmen Binus melalui karya yang relevan dan berdampak," ujar Nelly.

Direktur Kampus BINUS @Malang, Dr Robertus Tang Herman, menjelaskan bahwa peluang ekspor saat ini tidak lagi terbatas pada pengiriman produk fisik. Menurutnya, perkembangan industri kreatif dan digital membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memasarkan karya berbasis kekayaan intelektual ke berbagai negara.

Komik digital, mainan edukatif, hingga boneka terapi yang dikembangkan mahasiswa dinilai memiliki potensi menembus pasar internasional. Meski dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat Indonesia, produk-produk tersebut dapat diadaptasi ke berbagai bahasa sehingga mudah diakses oleh pengguna dari berbagai belahan dunia.

"Karena bergerak di bidang desain dan digital, akses bisnisnya bersifat global. Karya-karya ini dapat menjadi IP yang bernilai ekonomi tinggi," ungkap Robertus.

Baca Juga : Harga Kedelai Impor Naik, Sentra Tempe Desa Beji Kota Batu Butuh 6 Ton Kedelai per Hari, Terpaksa Naikkan Harga

Sementara itu, Head of Visual Communication Design BINUS @Malang, Victor Adiluhung Abednego, mengungkapkan bahwa sejumlah mahasiswa dan alumni telah berhasil membangun startup dengan produk maupun model bisnis yang berorientasi ekspor. Bahkan, beberapa di antaranya telah menembus pasar internasional sejak masih menempuh pendidikan.

Ia menambahkan, kampus tidak menetapkan target nilai ekspor tertentu. Fokus utama saat ini adalah memperkuat ekosistem melalui pendampingan branding, perluasan jejaring, hingga fasilitasi distribusi agar karya mahasiswa semakin siap memasuki pasar global.

"Pendekatan ini menjadikan kampus tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai inkubator lahirnya pelaku industri kreatif yang mampu mengubah ide dan karya menjadi komoditas ekspor berbasis IP," ucapnya.