Mengapa Anak Yatim Mendapat Tempat Istimewa dalam Islam?
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
24 - Jun - 2026, 10:46
JATIMTIMES - Memuliakan anak yatim bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, melainkan salah satu amalan yang mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam. Bahkan, banyak ulama menyebut bahwa memperhatikan kehidupan anak yatim merupakan jalan yang dapat mengantarkan seorang muslim kepada keridaan Allah SWT dan kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga.
Perhatian Islam terhadap anak yatim tergambar jelas dalam Al-Qur'an. Kata yatim disebut sebanyak 23 kali, terdiri dari 8 kali dalam bentuk tunggal, 14 kali dalam bentuk jamak, dan satu kali dalam bentuk mutsanna atau dua. Pengulangan yang begitu banyak menunjukkan bahwa keberadaan anak yatim memiliki posisi istimewa yang harus dijaga dan diperhatikan oleh umat Islam.
Baca Juga : Bawa Coban Sewu ke Asia, Kabupaten Malang Bidik Wisman
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 220: "Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik."
Ayat tersebut menjadi penegasan bahwa setiap upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan anak yatim merupakan perbuatan yang bernilai ibadah di sisi Allah.
Dalam pandangan para ulama, anak yatim adalah anak yang ditinggal wafat oleh ayahnya sebelum mencapai usia dewasa. Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk menjaga hak-hak mereka, tetapi juga menjadikan kepedulian kepada anak yatim sebagai salah satu indikator kesalehan seorang muslim.
Keutamaan menyantuni anak yatim bahkan dikaitkan dengan golongan abror, yakni orang-orang yang berbuat kebajikan dan taat kepada Allah SWT. Hal itu dijelaskan dalam Surah Al-Insan ayat 5-8.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas yang campurannya adalah air kafur. Yaitu mata air dalam surga yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan."
Ayat tersebut menunjukkan bahwa salah satu ciri penghuni surga yang mendapat kemuliaan adalah mereka yang memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan kaum lemah.
Rasulullah SAW juga memberikan motivasi yang sangat besar kepada umat Islam untuk menjadi penanggung dan pemelihara anak yatim. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda:
"Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini," seraya beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan keduanya sedikit.
Hadis yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad RA tersebut menjadi salah satu dalil paling populer mengenai besarnya pahala menyantuni anak yatim. Kedekatan yang digambarkan Rasulullah SAW menunjukkan betapa mulianya orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu mereka.
Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira berupa jaminan masuk surga bagi orang yang memelihara anak yatim dengan ikhlas.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi dari Ibnu Abbas RA disebutkan : "Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni."
Baca Juga : Pelajaran dari Kisah Harut dan Marut, Ketika Manusia Diuji dengan Godaan Sihir
Besarnya perhatian Islam terhadap anak yatim tercermin dari banyaknya ayat Al-Qur'an yang membahas mereka. Di antaranya terdapat dalam Surah Al-An'am ayat 152, Al-Isra ayat 34, Ad-Duha ayat 6 dan 9, Al-Ma'un ayat 2, Al-Balad ayat 15, Al-Kahfi ayat 82, Al-Baqarah ayat 83, 177, 215 dan 220, An-Nisa ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36 dan 127, Al-Anfal ayat 41, hingga Al-Hasyr ayat 7.
Salah satu ayat yang menunjukkan pentingnya membantu anak yatim terdapat dalam Surah Al-Balad ayat 12-16. Allah SWT berfirman: "Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir."
Ayat tersebut menjelaskan bahwa membantu anak yatim merupakan bagian dari amal berat yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT. Sebaliknya, Islam juga memberikan peringatan keras kepada mereka yang mengabaikan, menyakiti, atau merampas hak-hak anak yatim. Dalam Surah Al-Ma'un ayat 1-7, Allah bahkan menyebut orang yang menghardik anak yatim sebagai pendusta agama.
Allah SWT berfirman: "Tahukah kamu orang yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."
Ancaman yang lebih tegas ditujukan kepada mereka yang memakan harta anak yatim secara zalim. Dalam Surah An-Nisa ayat 10, Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api ke dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala."
Pesan tersebut menunjukkan bahwa menjaga hak-hak anak yatim bukan hanya anjuran moral, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim.
Sebelum Islam datang, anak yatim sering menjadi kelompok yang terpinggirkan dan rentan mengalami eksploitasi. Kehadiran Islam mengubah kondisi tersebut dengan memberikan perlindungan, penghormatan, dan hak yang jelas bagi mereka. Karena itu, menyantuni anak yatim tidak hanya bernilai kemanusiaan, tetapi juga menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Keutamaan membantu sesama, termasuk anak yatim, juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda, "Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya."
