Profesor Ini Kenalkan Marinescape, Teknologi AI untuk Prediksi Lokasi Ikan di Tengah Dampak Perubahan Iklim

Editor

Dede Nana

10 - Jun - 2026, 06:28

Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D, Gubes FPIK UB (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Perubahan iklim global tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga mengubah pola migrasi berbagai spesies ikan yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi nelayan. Kondisi tersebut mendorong lahirnya inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan yang mampu membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan secara lebih akurat dan efisien.

Gagasan tersebut disampaikan oleh Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D. saat menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Marinescape: Integrasi Penginderaan Jauh dan Machine Learning untuk Prediksi ZPPI di Era Perubahan Iklim” dalam rangka pengukuhannya sebagai profesor di bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FKIP UB). Dengan pengukuhan tersebut, ia resmi menjadi profesor ke-28 di FPIK dan profesor ke-256 di UB.

Baca Juga : Beasiswa Garuda Gelombang II Masih Dibuka hingga 25 Juni 2026, Kuliah S1 Gratis dan Dapat Biaya Hidup

Dalam orasinya, Prof. Bambang memperkenalkan Marinescape atau Marine Intelligence System for Spatio-temporal Catch Prediction, sebuah sistem yang dirancang untuk memprediksi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) secara presisi, adaptif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian dinamika laut akibat perubahan iklim.

Menurutnya, pemanasan global telah memicu perubahan signifikan pada suhu permukaan laut dan pola arus laut. Dampaknya, spesies bernilai ekonomi tinggi seperti ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) mulai mengubah jalur migrasinya sehingga semakin sulit diprediksi menggunakan pendekatan tradisional yang selama ini mengandalkan pengalaman empiris dan kearifan lokal nelayan.

“Zona penangkapan ikan yang selama ini dipandu oleh pengalaman empiris turun-temurun dan kearifan lokal nelayan kini menjadi semakin sulit diprediksi. Akibatnya, nelayan harus menghabiskan waktu pencarian yang lebih lama, memboroskan bahan bakar minyak (BBM), serta menghadapi risiko kerugian ekonomi yang tinggi,” ujar Prof. Bambang.

Melalui Marinescape, berbagai data multisensor yang diperoleh dari satelit penginderaan jauh, seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan fenomena front laut, diolah menggunakan pendekatan machine learning. Sistem ini memanfaatkan teknologi Artificial Neural Networks (ANN) dan Deep Learning untuk mengenali pola spasio-temporal yang kompleks sehingga mampu memberikan peringatan dini terhadap perubahan kondisi lingkungan laut sebelum dampaknya dirasakan di lapangan.

Pendekatan tersebut dinilai memiliki dasar ilmiah yang kuat. Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa metode deep learning terintegrasi dapat menghasilkan tingkat akurasi prediksi hingga 82,6 persen. Tingkat ketepatan tersebut tidak hanya membantu nelayan menemukan daerah penangkapan yang potensial, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi hasil tangkapan sampingan atau bycatch yang tidak diinginkan.

Sebagai tindak lanjut dari pengembangan teknologi tersebut, Prof. Bambang juga menggagas pembentukan UB-Marinescape sebagai platform kelembagaan strategis di UB. Platform ini dirancang menjadi pusat riset sekaligus pusat diseminasi data operasional yang menghubungkan hasil penelitian akademik dengan kebutuhan praktis nelayan, pengelola sumber daya perikanan, hingga para pengambil kebijakan.

Ia menegaskan bahwa kehadiran sistem tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia dalam aktivitas penangkapan ikan, melainkan menjadi alat bantu pengambilan keputusan yang lebih cerdas.

“Marinescape hadir bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan sebagai decision support system yang cerdas guna membantu nelayan kita bergerak dari sistem yang reaktif menjadi antisipatif, demi menjaga ketahanan pangan kelautan bagi generasi masa depan,” tegasnya.

Prof. Bambang mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama pengembangan sistem tersebut adalah agar dapat dimanfaatkan nelayan secara gratis. Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan penggunaan perangkat gawai saat ini membuka peluang besar bagi distribusi informasi yang lebih mudah dibandingkan masa lalu.

“Tujuannya memang kita akan memberikan ini secara gratis. Sekarang dengan adanya teknologi gadget, peluang untuk bisa diakses gratis itu sangat besar. Yang penting bagaimana informasi ilmiah tadi diterjemahkan menjadi sesuatu yang praktis sehingga nelayan tinggal menggunakannya dengan mudah,” katanya.

Meski demikian, pengembangan Marinescape masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait pendanaan untuk penelitian lanjutan dan validasi lapangan. Dukungan infrastruktur juga menjadi kebutuhan penting, termasuk pembangunan stasiun pengolahan data di kawasan pesisir yang menjadi sentra perikanan.

Baca Juga : Festival Literasi Kolaborasi OOTB GBK 2026, Tawarkan Jutaan Buku dan Beragam Aktivitas Menarik di Kota Kediri

Ia mencontohkan kawasan Sendang Biru yang dinilai potensial menjadi lokasi pembangunan stasiun pendukung. Keberadaan fasilitas tersebut memungkinkan proses pengolahan data dilakukan lebih dekat dengan pengguna sehingga informasi dapat disampaikan secara lebih cepat dan efektif.

“Kalau di daerah seperti Sendang Biru, kita bisa membangun semacam stasiun. Di sana data bisa diolah langsung sehingga lebih dekat dengan nelayan. Tetapi tentu memerlukan infrastruktur, mesin, penerima data satelit, dan itu membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit,” jelasnya.

Menurut Prof. Bambang, sejumlah lembaga pemerintah seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Lapan, maupun institusi lain sebenarnya telah mengembangkan informasi terkait zona penangkapan ikan. Namun, pendekatan yang dikembangkan timnya memiliki keunggulan karena mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan yang diyakini mampu meningkatkan tingkat akurasi prediksi.

“Mereka juga sudah memiliki sistem informasi seperti ini. Bedanya, kami mencoba menggunakan artificial intelligence sehingga ketepatan dan akurasinya bisa lebih tinggi,” ujarnya.

Ke depan, akses informasi Marinescape direncanakan dapat dilakukan langsung oleh nelayan melalui platform digital berbasis website. Sistem tersebut akan memungkinkan nelayan memperoleh informasi secara cepat tanpa harus melalui birokrasi yang panjang.

“Prinsipnya kita ingin memperpendek birokrasi. Kalau bisa nanti nelayan mengakses langsung. Website-nya sudah saya buat. Nanti mereka bisa masuk menggunakan password. Ini bukan untuk dijual, tetapi untuk mendapatkan umpan balik dari pengguna sehingga akurasi sistem bisa terus ditingkatkan. Aksesnya nanti bisa gratis,” katanya.

Saat ditanya mengenai perkembangan sistem saat ini, Prof. Bambang menjelaskan bahwa aspek penelitian telah berjalan dan menghasilkan berbagai temuan penting. Namun implementasi dalam bentuk aplikasi yang siap digunakan masyarakat masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.

“Kalau secara penelitian sudah berjalan. Tetapi aplikasinya memang masih belum,” ujarnya.

Melalui pengembangan Marinescape dan pembentukan UB-Marinescape, kampus berupaya memperkuat kontribusi dunia akademik dalam mendukung pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan. Inisiatif tersebut juga sejalan dengan agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim dan SDGs 14 mengenai pelestarian ekosistem laut.