Okupansi Hotel Kota Malang saat Idul Adha Hanya 60 Persen, Long Weekend Akhir Mei Tembus 90 Persen
Reporter
Irsya Richa
Editor
Yunan Helmy
02 - Jun - 2026, 08:01
JATIMTIMES - Libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah belum mampu menjadi pendorong utama peningkatan okupansi hotel di Kota Malang. Tingkat hunian kamar selama momen tersebut masih bertahan di kisaran 60 persen.
Sebaliknya, lonjakan justru terjadi pada long weekend akhir Mei 2026. Sejumlah hotel mencatat okupansi hingga 80 persen, bahkan menyentuh 90 persen.
Baca Juga : Inflasi Kota Malang 3,1 Persen pada Mei 2026, Harga Emas hingga Cabai Jadi Pemicu Utama
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan pola yang hampir selalu terjadi setiap tahun saat Idul Adha. Masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di kampung halaman atau mengikuti kegiatan kurban bersama keluarga dan lingkungan sekitar.
“Kalau saat Idul Adha rata-rata 60 persen. Pada Idul Adha tahun kemarin juga sama, 60 persen. Jadi, memang tidak ada kenaikan signifikan pada periode libur Idul Adha,” kata Agoes, Selasa (2/6/2026).
Kondisi itu berbeda dengan momentum akhir pekan panjang yang justru mampu mendongkrak tingkat hunian hotel. Pada long weekend yang berlangsung pada 30 hingga 31 Mei 2026 lalu, sejumlah hotel di Kota Malang mencatat peningkatan okupansi yang cukup menggembirakan.
Wisatawan yang datang memanfaatkan waktu libur untuk menikmati berbagai destinasi wisata, wisata kuliner, hingga suasana khas Kota Malang yang dikenal sejuk dan nyaman. Dampaknya, tingkat keterisian kamar di sejumlah hotel mengalami kenaikan cukup signifikan.
Menurut Agoes, rata-rata okupansi hotel selama akhir pekan panjang berada di kisaran 70 hingga 80 persen. Bahkan, beberapa hotel dengan lokasi strategis dan fasilitas unggulan mampu mencatat angka hunian yang lebih tinggi.
Baca Juga : Libur Panjang Usai, KAI Daop 8 Surabaya Layani Hampir 290 Ribu Penumpang
“Saat weekend mulai hari Sabtu sampai dengan Minggu bisa mencapai 70 sampai 80 persen. Memang di beberapa hotel ada yang mencapai 80 sampai 90 persen,” imbuh Agoes.
Data tersebut menunjukkan bahwa tren perjalanan wisata masyarakat saat ini lebih banyak terkonsentrasi pada akhir pekan dibandingkan libur Idul Adha. Faktor aktivitas keagamaan dan tradisi berkumpul bersama keluarga menjadi alasan utama mengapa pergerakan wisatawan ke Kota Malang tidak terlalu tinggi pada periode tersebut.
Meski okupansi belum mengalami lonjakan besar saat Idul Adha, pelaku usaha perhotelan tetap optimistis terhadap prospek sektor pariwisata Kota Malang. Berbagai program promosi dan penawaran khusus terus disiapkan untuk menarik minat wisatawan, terutama menjelang musim libur sekolah yang diperkirakan akan meningkatkan jumlah kunjungan ke wilayah Malang Raya.
