Tim Dosen Unisba Blitar Lolos Program Bestari Saintek LPDP 2026, Usung Inovasi Pakan Lokal

30 - Apr - 2026, 01:24

Perwakilan tim dosen Universitas Islam Balitar (Unisba) mengikuti penandatanganan kontrak pendanaan Program Bestari Saintek LPDP 2026 di Gedung D Kemendikti Saintek, Jakarta. (Foto: Dok. Unisba Blitar)

JATIMTIMES - Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Pada 2026, tim dosen kampus tersebut berhasil lolos pendanaan Program Bestari Saintek yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui proposal inovatif bertajuk Circular Farming Living Lab: Inovasi Pakan Lokal Menuju Kemandirian dan Ekonomi Peternak Ruminansia Berkelanjutan di Blitar.

Capaian ini menjadi penanda penting bagi penguatan peran perguruan tinggi daerah dalam ekosistem riset nasional. Di tengah persaingan ketat, hanya 4,9 persen periset dari 65 perguruan tinggi terbaik negeri dan swasta di Indonesia yang dinyatakan lolos pendanaan Program Bestari Saintek 2026. Angka tersebut menunjukkan tingginya standar seleksi sekaligus menegaskan kualitas riset yang diusung tim dosen Universitas Islam Balitar (Unisba).

Baca Juga : Sinergi Jaga Keamanan, Polres Situbondo Libatkan Ratusan Warga dalam Apel Sabuk Kamtibmas

Tim pelaksana program ini diketuai oleh Alfan Setya Winurdana, S.Pt., M.Pt., dengan anggota Resti Yuliana R., S.Pt., M.Pt., Aris Sunandes, S.E., M.M., serta Yuli Agustina, S.E. Kolaborasi lintas bidang keilmuan tersebut memperkuat pendekatan riset yang tidak hanya berorientasi pada aspek teknis peternakan, tetapi juga menyentuh dimensi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Integrasi Pertanian dan Peternakan

Ketua tim pelaksana Alfan Setya Winurdana mengatakan, keberhasilan ini menjadi motivasi bagi tim untuk menghadirkan inovasi yang benar-benar aplikatif di lapangan. “Program ini kami rancang sebagai solusi konkret bagi peternak, khususnya dalam menghadapi persoalan ketersediaan dan mahalnya biaya pakan. Kami ingin menghadirkan sistem yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Program Circular Farming Living Lab mengusung konsep integrasi pertanian dan peternakan berbasis ekonomi sirkular. Dalam skema ini, limbah pertanian dan berbagai potensi sumber daya lokal diolah menjadi bahan pakan alternatif ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan siklus produksi yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.

Menurut Alfan, konsep ekonomi sirkular menjadi kunci dalam menciptakan sistem peternakan yang berkelanjutan. “Kami memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini belum optimal untuk diolah menjadi pakan berkualitas. Dengan teknologi fermentasi dan pengolahan yang tepat, bahan lokal bisa memiliki nilai tambah tinggi,” katanya.

Ia menambahkan, pendekatan living lab menjadi pembeda utama program ini dibandingkan riset konvensional. Dalam konsep tersebut, peternak tidak hanya menjadi objek penerima teknologi, tetapi dilibatkan secara aktif dalam proses inovasi dan pengembangan.

“Kami ingin peternak menjadi bagian dari ekosistem inovasi. Mereka bukan sekadar pengguna, tetapi juga aktor utama yang memahami dan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Alfan.

Dampak Sosial dan Penguatan UMKM

Selain aspek teknologi, program ini juga diarahkan untuk memberikan dampak sosial-ekonomi yang lebih luas. Salah satu fokus utama adalah peningkatan kapasitas peternak serta penguatan UMKM lokal yang terlibat dalam rantai pasok pakan.

Anggota tim, Resti Yuliana R., menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari inovasi teknologi, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat. “Kami ingin memastikan bahwa program ini berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan peternak. Pendampingan dan transfer pengetahuan menjadi bagian penting dalam implementasi nanti,” ujarnya.

Evaluasi program akan difokuskan pada sejumlah indikator terukur. Di antaranya peningkatan penerapan teknologi fermentasi pakan, pertumbuhan bobot harian ternak atau Average Daily Gain (ADG), stabilitas ketersediaan pakan, serta peningkatan partisipasi dan kapasitas produksi UMKM yang terlibat.

Dengan indikator tersebut, program diharapkan tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga dampak nyata dalam bentuk peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan sektor peternakan rakyat yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam hal pakan.

Aris Sunandes, anggota tim lainnya, menambahkan bahwa pendekatan integratif menjadi kekuatan utama program. “Kami menggabungkan aspek produksi, manajemen usaha, hingga penguatan ekonomi lokal. Harapannya, peternak tidak hanya kuat dari sisi produksi, tetapi juga memiliki daya saing secara ekonomi,” katanya.

Baca Juga : Kritik Program Prabowo, KH Marzuki Mustamar Sebut MBG Konyol dan Tak Tepat Sasaran

Sementara itu, Yuli Agustina menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendukung keberhasilan program. Menurut dia, sinergi antara perguruan tinggi, peternak, dan pelaku usaha lokal menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.

“Program ini dirancang sebagai model kolaboratif. Kami berharap keterlibatan berbagai pihak dapat mempercepat adopsi inovasi sekaligus memperluas dampak manfaatnya,” ujarnya.

Keberhasilan tim dosen Unisba Blitar dalam meraih pendanaan nasional ini juga menunjukkan peran strategis perguruan tinggi dalam pembangunan daerah. Kampus tidak lagi hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi motor penggerak inovasi yang mampu menjawab tantangan nyata di masyarakat.

Aris

Peran Kampus dalam Pembangunan Daerah

Melalui riset terapan seperti Circular Farming Living Lab, Unisba Blitar dapat berkontribusi langsung dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya di sektor peternakan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembangunan berbasis pengetahuan yang menempatkan inovasi sebagai pilar utama.

Ketua tim pelaksana, Alfan Setya Winurdana, menegaskan bahwa keberhasilan lolos pendanaan Program Bestari Saintek 2026 menjadi momentum penting bagi penguatan peran kampus dalam pembangunan daerah.

“Pendanaan Program Bestari Saintek 2026 ini menjadi momentum penting bagi Unisba Blitar untuk terus menghadirkan riset yang berdampak. Kami berharap inovasi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat, khususnya peternak di Blitar,” ujarnya.

Ia menambahkan, program yang dirancang tidak hanya berhenti pada aspek penelitian, tetapi diarahkan untuk menjadi model pengembangan peternakan rakyat berbasis inovasi yang dapat diterapkan di berbagai daerah.

“Ke depan, kami berharap model ini bisa direplikasi di daerah lain. Dengan dukungan riset yang kuat dan kolaborasi yang solid, sistem pakan berkelanjutan yang mandiri dan produktif bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan,” kata Alfan.

Melalui capaian ini, Unisba Blitar menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan melalui riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa perguruan tinggi daerah mampu tampil sebagai pemain utama dalam peta riset nasional.