Jejak Panjang Ibadah Haji sejak 4 Milenium Silam hingga Era Modern: Sarat Makna Spiritual di Baliknya

Editor

Yunan Helmy

28 - Apr - 2026, 08:12

Ilustrasi perjalanan panjang ibadah haji dan berdirinya Kakbah. (pixabay)

JATIMTIMES - Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan rangkaian panjang sejarah yang berakar kuat sejak masa Nabi Ibrahim AS bersama Siti Hajar dan Nabi Ismail AS lebih dari empat milenium silam. Dari kisah itulah bermula pembangunan Kakbah serta perjuangan mencari air yang kemudian dikenal sebagai Zamzam.

Tradisi ini terus hidup dan mencapai bentuk sempurnanya ketika Nabi Muhammad SAW menunaikan haji wada’ pada tahun 10 Hijriah, yang menjadi rujukan utama pelaksanaan haji hingga hari ini.

Baca Juga : UIN Malang Gandeng Resalat Al-Salam Mesir Bangun Gedung Tahfidz di Kampus 3

Perintah mendirikan Kakbah dan menjadikannya pusat ibadah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 125. Ayat ini menegaskan bahwa haji bukan sekadar ritual, melainkan bagian dari jejak ketaatan para nabi yang diwariskan kepada umat Islam.

“Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.” 

1

Dalam perjalanan sejarahnya, merujuk pada literatur sejarah Islam yang mengulas perkembangan pelaksanaan haji dari masa jahiliyah, era kenabian, hingga periode Khulafaur Rasyidin seperti Umar bin Khattab, praktik haji sempat mengalami perubahan. Pada masa Arab jahiliyah, masyarakat tetap melaksanakan haji namun dengan berbagai penyimpangan yang tidak lagi sesuai dengan ajaran tauhid. Unsur-unsur pagan bercampur dalam pelaksanaannya, meski sebagian ritual seperti thawaf tetap dipertahankan.

 Perubahan besar terjadi ketika Rasulullah SAW membersihkan praktik tersebut dari unsur kemusyrikan dan mengembalikannya pada ajaran Nabi Ibrahim.

Setelah wafatnya Rasulullah, penyelenggaraan haji terus berkembang. Pada masa Umar bin Khattab, pengelolaan haji mulai ditata lebih sistematis, termasuk perluasan Masjidil Haram serta peningkatan pelayanan bagi jamaah. 

Seiring berjalannya waktu, kemajuan teknologi transportasi di abad modern membuat perjalanan haji semakin mudah diakses umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Pemerintah Arab Saudi bahkan membentuk lembaga khusus untuk mengelola haji dan meningkatkan fasilitas demi kenyamanan jamaah.

Rangkaian ibadah haji sendiri sarat makna simbolik. Thawaf mengelilingi Kakbah mencerminkan kepasrahan total kepada Allah. Sementara sa’i antara Safa dan Marwah mengingatkan perjuangan Siti Hajar dalam mencari air. Wukuf di Arafah menjadi puncak perenungan spiritual, menggambarkan padang mahsyar tempat manusia berkumpul kelak.

Baca Juga : Sertijab Kepala MTsN 2 Kota Malang: Amanah Berpindah, Harapan Tetap Dijaga

Melempar jumrah melambangkan perlawanan terhadap godaan setan. Sedangkan tahallul mengajarkan kesederhanaan dan pembersihan diri.

Keutamaan haji juga ditegaskan dalam hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa melaksanakan haji dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari dilahirkan oleh ibunya.” 

Lebih dari itu, haji memiliki dimensi sosial yang kuat. Pertemuan jutaan umat Islam dari berbagai bangsa menciptakan rasa persatuan tanpa memandang status sosial. Semua mengenakan pakaian ihram yang sama, menegaskan kesetaraan di hadapan Allah. Nilai solidaritas, kepedulian, serta kesadaran akan keadilan sosial juga tumbuh dari pengalaman bersama selama pelaksanaan ibadah.

Dari sisi historis, haji menjadi pengingat akan perjuangan panjang para nabi dalam menegakkan tauhid. Setiap rangkaian ibadah mengandung pelajaran tentang pengorbanan, ketaatan, dan keteguhan iman. Dengan demikian, haji tidak hanya menjadi kewajiban bagi yang mampu, tetapi juga perjalanan spiritual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan harapan akan kehidupan akhirat.