Oleh: Abi Fa’izzarahman Prabawa, M. Pd, Dosen Prodi BKPI UIN Salatiga dan Mahasiswa S3 BK Universitas Negeri Malang
JATIMTIMES - Fenomena sosial yang belakangan ini ramai diperbincangkan di media sosial dengan tagar #kaburajadulu bukan sekadar iseng atau candaan biasa. Tagar ini mencerminkan keresahan dan kekecewaan banyak anak muda terhadap ketidakpastian yang dihadapi dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi negara ini.
Ajakan untuk "kabur ke luar negeri" dengan tagar tersebut semakin menggema, seakan menjadi ajakan untuk lari dari situasi yang semakin tidak jelas arahnya. #Kaburajadulu, bagi banyak orang, adalah sebuah reaksi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, serta keresahan terhadap berbagai kondisi yang makin sulit dihadapi, seperti ketidakpastian pendidikan, pekerjaan, dan peningkatan biaya hidup yang semakin menekan.
Namun, di balik fenomena ini, terdapat sebuah lapisan yang lebih dalam, yang mencerminkan kegelisahan sosial yang tidak hanya terbatas pada protes terhadap kebijakan, tetapi juga mencerminkan keputusasaan, apatisme, dan rasa tidak percaya terhadap masa depan di dalam negeri. Tak jarang, fenomena ini juga berhubungan erat dengan masalah psikologis yang dialami oleh sebagian masyarakat, terutama di kalangan anak muda yang berjuang keras untuk meraih impian, namun merasa terhambat oleh berbagai ketidakpastian dan kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan mereka.
Ketidakpastian Sosial dan Politis yang Membebani Generasi Muda
Kondisi yang semakin memburuk dalam berbagai aspek kehidupan sosial-politik Indonesia mendorong anak muda untuk mencari pelarian. Mulai dari ketidakpastian pendidikan yang ditandai dengan sulitnya akses pendidikan berkualitas dengan biaya yang terus meningkat, hingga kurangnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi, menjadikan anak muda semakin ragu untuk bertahan di tanah air. Tak hanya itu, kebijakan pemerintah yang terus berubah dan seringkali tidak mempertimbangkan kebutuhan dasar masyarakat, semakin menambah kekhawatiran.
Salah satu contoh nyata dari kebijakan yang memicu ketidakpuasan adalah wacana efisiensi yang berujung pada pengurangan subsidi dan PHK beberapa karyawan. Hal ini semakin memperburuk kondisi ekonomi banyak orang, terutama mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kebijakan ini dianggap tidak sensitif terhadap kondisi sosial yang ada, mengingat banyak keluarga yang bahkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Selain itu, masalah kelangkaan gas LPG 3 kg, yang sering kali terjadi di beberapa daerah beberapa waktu terakhir, turut menambah beban hidup masyarakat. Kelangkaan ini mengindikasikan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola pasokan bahan pokok yang sangat dibutuhkan rakyat. Efisiensi yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup malah berbalik menjadi masalah baru yang memperburuk keadaan.
Fenomena #kaburajadulu merupakan bentuk kekecewaan anak muda terhadap kondisi yang semakin sulit. Mereka merasa bahwa mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri adalah satu-satunya jalan keluar dari ketidakpastian yang ada. Luar negeri, dengan segala fasilitas dan kesempatan yang lebih baik, sering kali dianggap lebih menjanjikan dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan taraf hidup. Bagi mereka, itu adalah tempat di mana mereka bisa meraih cita-cita yang selama ini terasa semakin jauh di Indonesia.
Kekecewaan Publik terhadap Ketidakadilan Kebijakan
Namun, jika kita lihat lebih jauh, ajakan untuk #kaburajadulu tidak hanya datang dari keinginan untuk mencari hidup yang lebih baik. Lebih dari itu, ini adalah tanda dari keputusasaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang sering kali tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Alih-alih menepati janji politik agar tidak dibilang hanya “omon-omon”, justru terlihat lebih fokus pada kepentingan politik dan ekonomi kelompok tertentu.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan berbagai kebijakan yang tidak memihak pada kesejahteraan rakyat. Alih-alih memperbaiki kesejahteraan masyarakat, kebijakan tersebut sering kali lebih fokus pada pencapaian target-target politik tertentu yang lebih bersifat jangka pendek, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang pada kehidupan rakyat. Janji-janji politik yang tidak terealisasi, serta kebijakan yang tidak pro-rakyat, membuat anak muda merasa bahwa mereka tidak lagi memiliki tempat di tanah air ini.
Di satu sisi, kebijakan yang diambil mungkin memang bertujuan untuk mengurangi beban negara, namun pada kenyataannya, kebijakan tersebut lebih banyak merugikan rakyat. Ketidakmampuan pemerintah untuk mengelola kebijakan yang adil dan merata memperburuk kondisi sosial, yang pada akhirnya mendorong sebagian besar anak muda untuk mempertimbangkan untuk meninggalkan negara ini demi mencari peluang di luar.
Sebuah Fenomena Psikologis yang Perlu Diperhatikan
Di luar kebijakan dan kondisi sosial-politik yang membingungkan, ajakan #kaburajadulu juga menyentuh aspek psikologis yang penting. Berbicara tentang fenomena ini, kita tidak bisa lepas dari kenyataan bahwa banyak orang, terutama anak muda, yang mengalami keputusasaan akibat kondisi yang semakin terjepit. Dalam banyak kasus, keputusasaan ini tidak hanya berasal dari ketidakpastian ekonomi, tetapi juga dari masalah sosial yang lebih besar, seperti ketidakadilan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial yang semakin menganga.
#Kaburajadulu, bagi banyak orang, adalah sebuah reaksi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat. Di balik frasa tersebut, tersimpan kepedihan akibat sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak, rasa frustrasi terhadap sistem pendidikan yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan zaman, serta kecemasan akan biaya hidup yang terus melambung tanpa seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Bukan sekadar rasa tidak puas, melainkan perasaan terancam akan masa depan yang dirasakan begitu gelap dan tanpa kepastian.
Dalam kajian psikologi sosial, reaksi kolektif semacam ini bisa dipandang sebagai bentuk coping mechanism, cara individu atau kelompok untuk menghadapi tekanan psikologis yang terus-menerus. Ketika individu merasa tidak memiliki kendali atas situasi di sekitarnya, mereka cenderung mencari pelarian, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam hal ini, #kaburajadulu menjadi representasi keinginan untuk melepaskan diri dari beban mental yang semakin menumpuk.
Rasa cemas adalah emosi yang dominan di balik tagar ini. Kecemasan akan masa depan yang tidak pasti, ketidakmampuan mengendalikan hidup sendiri, dan tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial yang kian memberatkan menciptakan kondisi psikologis yang rapuh. Anak muda yang sedang berada di fase pencarian identitas dan kemandirian menghadapi tantangan yang lebih besar: dunia yang serba cepat, ekspektasi kesuksesan instan, dan tekanan untuk mencapai stabilitas finansial di usia muda.
Perasaan terjebak dan hilangnya harapan menciptakan kondisi learned helplessness, yakni keadaan di mana individu merasa upaya apa pun yang mereka lakukan tidak akan mengubah situasi. Hal ini berbahaya karena bisa berujung pada apatisme sosial, bahkan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan kronis. Dalam konteks ini, #kaburajadulu bukan hanya sekadar keinginan untuk pindah negara, melainkan simbol dari keinginan untuk bebas dari tekanan batin yang dirasakan.
Bagi mereka yang masih punya harapan dan akal sehat tentu memilih kabur di luar negeri untuk sementara waktu. Namun, pernahkan terfikir bagaimana nasib mereka yang tidak punya daya dan upaya untuk sejenak pergi dari hiruk pikuk dan tekanan ini? Dalam kondisi seperti ini, tidak jarang beberapa orang merasa bahwa kematian adalah satu-satunya cara untuk keluar dari tekanan yang ada. Fenomena #kaburajadulu, meski seolah-olah hanya sebuah ajakan untuk berpindah ke luar negeri, sebenarnya menyimpan pesan yang jauh lebih dalam. Ajakan ini mencerminkan ketidakberdayaan sebagian anak muda yang merasa tidak lagi memiliki harapan di dalam negeri. Namun, ajakan tersebut, jika tidak ditanggapi dengan bijak, juga berpotensi memperburuk kondisi psikologis mereka yang sudah tertekan.
Data yang dipublikasikan oleh Pusiknas Polri (https://pusiknas.polri.go.id/gangguan) mengungkapkan bahwa Jawa Timur menjadi provinsi yang memiliki angka bunuh diri kedua tertinggi di Indonesia. Angka bunuh diri yang tinggi ini menggambarkan betapa beratnya kehidupan yang dihadapi oleh sebagian masyarakat, terutama mereka yang terjebak dalam kemiskinan atau kesulitan ekonomi. Tuntutan ekonomi, masalah utang, dan tekanan sosial sering kali membuat seseorang merasa terjebak, tanpa jalan keluar.
Di sisi lain, tagar ini juga bisa dibaca sebagai seruan perubahan. Di balik keluhan dan keinginan untuk lari, ada aspirasi tersembunyi untuk hidup yang lebih baik, lingkungan yang lebih mendukung, dan sistem yang lebih adil. Ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki harapan, meskipun diwujudkan dalam bentuk sarkasme dan candaan. Mereka tidak sepenuhnya menyerah; mereka sedang mencari jalan keluar, sekaligus menyuarakan aspirasi mereka kepada publik.
Dalam perspektif psikologi positif, fenomena ini bisa dilihat sebagai bentuk resilience atau ketahanan mental. Meski dihadapkan pada tekanan dan tantangan, individu tetap berupaya mempertahankan keseimbangan emosional dengan cara mengungkapkan keresahan mereka secara kolektif. Humor dan sarkasme yang digunakan dalam #kaburajadulu menjadi bagian dari emotional release, pelepasan emosi yang dapat meringankan beban mental meskipun hanya sesaat.
Sayangnya, jika ekspresi ini hanya berhenti pada tataran wacana tanpa diiringi dengan tindakan nyata, ia berpotensi menjadi katarsis semu. Individu mungkin merasa lega untuk sementara waktu, namun akar permasalahan tetap tidak terselesaikan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memperkuat rasa putus asa dan ketidakberdayaan.
Dari sisi psikologi perkembangan, fase dewasa muda (20-30 tahun) merupakan periode krusial di mana individu mulai membangun kemandirian, mengembangkan karier, dan membentuk relasi sosial yang stabil. Ketika pada periode ini mereka justru dihadapkan pada ketidakpastian struktural, individu bisa mengalami quarter-life crisis, krisis identitas dan arah hidup yang diiringi kecemasan berlebih. Tagar #kaburajadulu menjadi manifestasi dari kebingungan dan tekanan yang dialami banyak individu di fase ini.
Lantas, apa yang bisa dilakukan ?
Pertama, diperlukan ruang-ruang diskusi yang sehat dan terbuka bagi anak muda untuk menyuarakan aspirasi mereka tanpa rasa takut dihakimi. Ketika suara mereka didengar, perasaan memiliki kendali atas hidup dapat mulai dipulihkan. Kedua, penting untuk membangun budaya mental health awareness agar individu memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kondisi psikologis mereka dan tahu kapan harus mencari bantuan profesional. Ketiga, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan psikologis generasi muda.
Fenomena #kaburajadulu seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak bahwa ada kegelisahan kolektif yang perlu direspons dengan serius. Di balik tagar itu, ada individu-individu yang berjuang dengan ketakutan, kecemasan, dan harapan yang samar. Mereka tidak semata ingin lari, tetapi juga mendambakan kehidupan yang lebih baik, di mana hak untuk hidup sejahtera dan bermartabat benar-benar dirasakan.
Dengan memahami muatan psikologis di balik fenomena ini, kita dapat lebih bijak dalam meresponsnya. Bukan dengan menghakimi atau meremehkan, melainkan dengan membuka dialog dan membangun empati. Hanya dengan demikian, keputusasaan bisa diubah menjadi harapan, dan seruan untuk kabur bisa bertransformasi menjadi seruan untuk perubahan nyata.