Sejarah Datangnya Malam Lailatul Qadar Menurut Gus Baha, Ternyata Berawal dari Keresahan Nabi Muhammad
Reporter
Mutmainah J
Editor
Dede Nana
29 - Mar - 2024, 02:31
JATIMTIMES - Menjelang 10 hari terakhir Ramadan, terdapat hal yang begitu spesial. Sebab dalam waktu tersebut, terdapat sebuah malam yang sangat didambakan oleh seluruh umat muslim, dikarenakan turunnya lailatul qadar.
Tak heran jika, banyak masjid yang diisi oleh orang-orang yang melakukan itikaf di dalamnya ketika menjelang waktu sahur atau tengah malamnya, dengan tujuan berdoa agar mendapatkan malam penuh kemuliaan yakni malam lailatul qadar.
Baca Juga : 8 Adab Bertamu di Hari Lebaran Sesuai Anjuran Rasulullah
Lantas bagaimana sejarah dari malam lailatul qadar sehingga menjadi tradisi umat muslim disetiap 10 hari terakhir ramadan?
Melansir dari sebuah kajian yang diunggah melalui kanal Youtube channel Nu Online, KH Ahmad Bahaudin Nursalim atau yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Baha, menyampaikan tentang adanya malam Lailatul qadar ini berawal dari keresahan Nabi Muhammad SAW.
Keresahan Rasulullah ini berkaitan dengan usia umatnya yang rata-rata pendek dan tentu kesempatan untuk beribadah tidaklah sama dibanding usia umat Rasul terdahulu yang mencapai ratusan tahun.
“Saya punya kitab dan kitab ini kredibel, ya, kitab orang dulu kitab hadits, itu ceritanya, Nabi Muhammad SAW sedang bercerita Nabi Nuh itu umurnya 1000 Tahun kurang 50, berarti 950 tahun, Nabi Ibrohim juga memiliki umur ratusan tahun macam–macam, terus ada keresahan,” ucap Gus Baha menjelaskan.
Belajar dari nabi terdahulu yang memiliki umur ratusan bahkan ribuan tahun untuk berdakwah, Nabi Muhammad pun memiliki keresahan yang luar biasa, dikarena Nabi Muhammad tahu, bahwa umatnya akan memiliki umur yang pendek. Jika dihitung maka amalan ibadah umat Nabi Muahammad SAW, tentu akan sangat jauh berbeda dengan umat nabi terdahulu.
“Keresahan Nabi Muhammad SAW itu seperti ini, “Lho, kalau umatku umurnya pendek terus bagaimana?” terus Allah merespon resahe Kanjeng Nabi dengan diberikan bonus berupa Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan 1000 tahun,” lanjut Gus Baha menjelaskan.
Hal ini juga telah dinyatakan dalam berbagai riwayat hadis, salah satunya diriwayatkan oleh Muhammad ibn al-Musayyab ibn Ishaq.
Rasulullah bersabda, "Usia umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit sekali di antara mereka yang melebihi usia tersebut."
Berdasakan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Malik dalam al-Muwaththa:
إنَّ رَسُوْلَ اللهِ r أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ ما شاءَ اللهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أعمارُ أُمَّتِهِ أَنْ لاَ يَبْلُغُوْا مِنَ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِيْ بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِيْ طُوْلِ الْعُمْرِ فَأَعْطَاهُ اللهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya -yang relatif panjang- sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka beramal karena panjangnya usia mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan,” (HR Malik).
Sabagaiamana disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-Ankabut ayat 14, Allah SWT menjelaskan tentang usia umat Nabi Nuh seribu tahun kurang lima puluh tahun, atau 950 tahun. Lantas Allah menetapkan malam Qadar setara dengan seribu bulan adalah sebagai fasilitas bagi umat Rasulullah apabila ingin mendapatkan banyak pahala.
Menurut hadis sahih yang dikutip dari Hadis Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169, Nabi Muhammad SAW menyebutkan:
“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadan” [Hadis Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169].
Lebih jauh Gus Baha juga menjelaskan untuk mencari malam Lailatur Qadar tidak hanya pada 10 malam terakhir bulan Ramadan. Melainkan berdasarkan beberapa pendapat ulama, melalui surat Al-Baqarah ayat 185 di mana selama bulan Ramadan adalah bulan yang mulia.
Baca Juga : Memakai Baju Baru di Hari Raya Idul Fitri, Wajib atau Sunah?
Dengan melaksanakan ibadah puasa, membaca Alquran, salat tarawih menghadap kiblat dan menjauhi maksiat, menurut Gus Baha berarti bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qadar.
"Jika hanya berpatokan pada Hadits Nabi yang mencari (Lailatur Qadar) ketika 10 hari tekahir atau sejak malam 21 berarti tidak sungguh-sungguh. Jika memang bersungguh-sungguh (umat Islam) akan mencari sejak pertama puasa," tandasnya.
Untuk meraih malam yang begitu istimewa itu, penting untuk mengetahui tanda-tanda akan datangnya malam lailatul qadar. Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini beberapa tanda datangnya malam lailatul qadar:
1. Udara dan angin yang menyejukkan
Saat malam lailatul qadar tiba, biasanya ditantai dengan udara dan angin yang terasa tenang dan menyejukkan. Rasulullah SAW bersabda, Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari Matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan," (HR Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi).
2. Langit bersih
Tanda malam lailatul qadar lainnya adalah keadaan langit yang tampak bersih. Maksudnya, langit bersih tanpa awan sedikit pun dengan suasana tenang dan sunyi. Rasulullah SAW bersabda, "Malam lailatul qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, binatang tidak nampak dan pada siang hari matahari bersinar tidak begitu panas," (HR Ahmad).
3. Matahari tidak menyengat
Suasana tenang juga akan terasa saat pagi hingga siang di mana matahari terbit tidak begitu menyengat. Dari Ubaiy bin Ka'ab RA berkata, Nabi SAW bersabda,"Pagi hari dan malam lailatul qadar terbit matahari tidak menyengat bagaikan bejana sampai meninggi," (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Abu Daud).
4. Malam terlihat cerah dan tidak gelap
Selain suasana yang menenangkan, datangnya malam lailatul qadar juga ditandai dengan kondisi malam hari yang terlihat cerah dan tidak gelap seperti hari-hari biasa. Hal ini tertulis di hadis riwayat Muslim, "Malam itu adalah malam yang cerah, yaitu malam ke-27 (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru," (HR Muslim).
5. Malaikat turun dengan membawa ketenangan
Saat malam lailatul qadar tiba, malailat akan turun dengan membawa ketenangan. Saat ini terjadi, manusia akan merasakan ketenangan dan nikmatnya beribadah yang sulit didapatkan pada hari-hari biasa.
