Inilah Sejarah Persatuan Sepak Bola di Kebonagung yang Pernah Berjaya di Malang

Reporter

Nana

16 - Jun - 2017, 08:24

Suroso Effendi (59) yang merupakan mantan pemain sekaligus pernah menjabat sebagai Ketua RW 1 Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji memperlihatkan foto koleksinya kepada MALANGTIMES

Berawal dari foto hitam putih tahun 1973 serta satu foto berwarna, keberadaan Persatuan Sepak Bola (PS) PORKA (Persatuan Olahraga Kebonagung) terkuak ke permukaan.

Terkuaknya sejarah persepakbolaan di Kebonagung, Pakisaji yang mungkin sudah banyak tidak diketahui masyarakat ini, berawal dari kengototan warga yang diwakili oleh Eklesia Prodaksen, Kebonagung, sebuah perkumpulan yang konsen terhadap sejarah, kebudayaan, sosial yang ada dan hidup di desanya.

Eklesia Prodaksen yang digawangi oleh Asa Wahyu Setyawan Muchtar dan Abdul Malik ini merasakan kegelisahan atas sejarah Desa Kebonagung yang satu persatu hilang dan beralih fungsi, misalnya keberadaan lapangan sepak bola Magersari Utara Kebonagung yang menjadi kawah candradimukanya para pesepakbolaan waktu itu.

Dari kengototan para pengurus Eklesia Prodaksen inilah, akhirnya ditemukan dokumentasi mengenai kejayaan dan kewibawaan sepak bola Kebonagung yang bernama PS PORKA, koleksi Suroso Effendi (59) yang merupakan mantan pemain sekaligus pernah menjabat sebagai Ketua RW 1 Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji.

"Di tahun itu (1973, red) Kebonagung sudah menapakkan dirinya sebagai daerah atlit sepakbola sekaligus memiliki lapangan yang sering dipakai untuk pertandingan. Bahkan di tahun-tahun itu gairah bermain sepak bola sangatlah hidup di sini," kenang Pak Os, panggilan Suroso Effendi yang dicatat oleh Eklesia Prodaksen.

Pemain PS PORKA adalah sebagian karyawan PG Kebonagung, sebagian lagi anak-anak muda Kebonagung. Dulu, saat PG Kebonagung akan buka giling pasti mengadakan pertandingan sepak bola. PG Kebonagung sering menggelar pertandingan persahabatan antara PS PORKA melawan persatuan sepakbola yang ada di Malang, antara lain PS Satria dari Blimbing dengan pelatih Nino Sutrisno, PS IM (Indonesia Muda) Malang, pelatihnya bernama Andut, dan PS Dinoyo. 

"Jadi PG Kebonagung dan PS PORKA itu dulu tidak bisa dipisahkan. Bahkan PS PORKA itu brand image PG Kebonagung di bidang olah raga khususnya sepak bola," ujar Pak Os yang juga menyampaikan pertandingan sepak bola serupa tradisi setiap kali PG akan buka giling pabrik. "Hukumnya wajib ada pertandingan sepakbola dan ditutup dengan pertunjukan ludruk," imbuhnya. 

Lantas sejak kapan pertandingan sepak bola di Kebonagung dimulai? 

Menurut Pak Os, pertandingan sepak bola di Kebonagung dimulai sejak tahun 1960-an. Di tahun itu juga, PS PORKA mengalamai kemajuan yang pesat dan sejajar dengan persatuan sepak bola yang ada di Malang seperti PS Gajayana, PSIM, Faroka di bawah binaan Pak Meyer, warga Belanda yang bekerja di PG Kebonagung sebagai Kepala Garasi. 

Dari penelusuran lainnya, ternyata usia PS di Kebonagung lebih tua keberadaannya. Adalah Kasdi, warga gang 5 Desa Kebonagung yang menjadi saksi keberadaan maraknya klub sepakbola di Kebonagung. Menurut penuturannya, kisaran tahun 1954 seorang bernama Durachman warga Jl.Raya Kebonagung, mencetuskan persatuan sepakbola bernama PS Diesel. 

Para pemain PS Diesel yang kini masih bisa ditelusuri keberadaannya, menyatakan bahwa dalam tahun-tahun tersebut, Kebonagung tidak sekedar dikenal orang karena PG nya saja, tetapi kesebelasan sepak bolanya. "Karena para pemain ini mengharumkan nama Kebonagung, maka mereka direkrut jadi karyawan PG waktu itu," ujar Kasdi sambil mengenang masa-masa kejayaan persepakbolaan Kebonagung yang kini hanya tinggal cerita para orang tua dan jejak-jejak sejarahnya akan beralih fungsi. 

'Kita memang tidak bisa menghindar dari laju jaman, tetapi jangan sampai modernisasi juga membuat kita lupa dan kehilangan jejak sejarah yang telah membentuk kita saat ini," ujar Asa Wahyu Setyawan Muchtar, Ketua 1 Eklesia Prodaksen Kebonagung, dalam perbincangan beberapa waktu lalu dengan MalangTIMES, media online berjejaring terbesar di Indonesia.