Saya adalah orang Malang. Jaraknya cukup jauh dari Jakarta. Jika ditempuh menggunakan pesawat, kira-kira perlu waktu 1,5 jam untuk sampai ke Malang. Jika menggunakan kereta api, butuh waktu sekitar 14 jam. Dan jika menggunakan kendaraan pribadi, dengan kecepatan normal plus istirahat sang sopir, perjalanan Jakarta-Malang, kira-kira butuh waktu 26 jam.
Jauh memang. Namun, hari-hari ini Jakarta-Malang rasanya sangat dekat sekali. Banyak warga Malang yang tiba-tiba mempunyai kedekatan emosional dengan Jakarta. Tengok saja di warung-warung, tempat ibadah, sekolah, kampus, kantor, pabrik, pasar, salon, pusat kebugaran, ataupun di tempat tongkrongan yang ada di Malang, semuanya membicarakan Gubernur Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Mereka terlihat gayeng membicarakan kata-kata Ahok yang dianggap menistakan agama Islam. Ada yang membela, ada juga yang menentang Ahok. Ada yang berdiskusi, ada juga yang berdebat. Isi perbincangan mereka beragam.
Bila di televisi nasional yang berpusat di Jakarta, yang membahas ucapan Ahok adalah pejabat, akademisi, ulama, politisi, dan para ahli, di Malang lain lagi. Di kota sejuk ini, yang berbicara mengenai Ahok lebih beragam lagi. Selain orang-orang yang disebut di atas, ada juga ibu-ibu yang menenteng tas belanjaan, kuli bangunan, tukang parkir, tukang becak, pedagang, mahasiswa, semuanya berbicara mengenai Ahok.
Bahkan, para siswa SD di Malang yang kerap mengeluhkan pelajaran IPA dan Matematika, kini juga asyik membicarakan Ahok. Saya berpikir, nama Ahok kini sudah terserap ke alam pikiran orang-orang Malang, mulai dari orang tua hingga anak kecil, mulai dari kakek hingga cucu. Benar-benar populer.
Saking senangnya membahas Ahok, warga Malang sampai lupa bahwa dirinya sedang dililit kemacetan yang makin parah. Warga Malang makin tak peduli dengan APBD yang tak lagi memihak masyarakat, kesulitan ekonomi, maraknya narkoba di kalangan pelajar, serta makin banyaknya tempat hiburan penyedia purel dan minuman keras yang terus mendapatkan izin dari Pemkot Malang. Ahok ini benar-benar membuat rangsangan sendiri dalam otak, sehingga kita melupakan semua persoalan hidup yang kompleks ini.
Pada akhirnya, sayapun juga tertarik untuk ngomongin Ahok. Apa sih ucapan Ahok? Kok bisa dia membuat puluhan ribu warga Malang menentangnya pada 4 November 2011 lalu? Kok bisa jutaan massa di seantero Nusantara secara bersama-sama mendemo Ahok? Sepertinya hati mereka sangat terluka oleh pejabat Jakarta tersebut.
Di televisi nasional sudah dibahas semuanya, di berita media online dijelenterehkan secara gamblang, di media sosial juga sudah diperdebatkan sedemikian rupa. Sepertinya saya sudah khatam ketika mendengar dan membaca kasus Ahok dari beberapa media tersebut.
Sampai suatu hari saya membaca sebuah status di sebuah akun Facebook milik ibu rumah tangga bernama Dwi Ratnasari, dia orang Malang yang berjilbab, anak-anaknya juga lahir dan besar di Malang. Di fotonya, ibu ini terlihat cukup cantik. Kalau boleh saya sebut, dia mirip-mirip artis Cut Keke.
Pada intinya, wanita ini berkata, dirinya ingin hidup tenang dan damai di Nusantara yang beragam. Dimana yang mayoritas melindungi minoritas, dan yang minoritas menghormati mayoritas. Jangan sampai ketenangan ini diambil oleh siapapun, termasuk oleh ucapan Ahok.
Ibu Ratna ini menjelaskan, Ahok sebagai seorang pejabat sebenarnya harus tahu mana rambu-rambu yang tak boleh dilanggar. Rambu-rambu yang bisa memecah keragaman Indonesia. Ahok dengan pengalamannya yang segudang sebagai bupati, anggota DPRRI, dan gubernur, seharusnya bisa membuat negara ini kondusif dengan perkataan atau pidatonya. Jika Ahok seorang negarawan tulen, maka dia tak akan ihklas jika Nusantara ini terpecah belah. Namun, Ahok rupanya punya pertimbangan lain.
Begini kata Ibu Ratna. Untuk mengungkap kasus Ahok di ranah hukum sebenarnya cukup mudah. Tak perlu guru besar ahli bahasa, tak perlu profesor bidang hukum pidana, atau kiai yang ahli tafsir untuk menelaah ucapan Ahok.
Menurut wanita yang cantik berumur 38 tahunan, sekali lagi saya memberikan pujian tersebut (karena dia memang benar-benar cantik), apa yang dikatakan Ahok itu sudah melukai jutaan orang. Buktinya, ada sebelas ormas Islam melaporkan kasus tersebut ke polisi. Faktanya, mereka berdemo secara serempak secara ihklas tanpa dibayar. Demo itu tak hanya terjadi di Jakarta, tapi nyaris terjadi di semua daerah di Indonesia.
Apa yang membuat orang Islam terluka hatinya? Begini terang Ibu Ratna, Ahok yang merupakan non Muslim masuk ke otoritas Islam. Dia membawa-bawa Surat Al Maidah 51 pada masa pilkada Jakarta.
Ini salah satu kutipan Ahok yang membuat jutaan muslim terluka. "Bapak ibu nggak bisa pilih saya, karena dibohongin pake surat Al Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan ga bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak apa-apa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu ga usah merasa gak enak. Dalam nuraninya ga bisa pilih Ahok".
Dalam akunnya, Ibu Ratna menjelaskan, kenapa Ahok mengurusi agama orang lain. Tentu bukan hal yang salah jika ulama menyampaikan tafsir surat dalam Alquran kepada umatnya, termasuk tafsir Al Maidah 51. Apakah salah ulama menyampaikan ayat Alquran?
Lalu kenapa Ahok harus protes dengan dakwah ulama dan keyakinan orang yang beragama lain?
Syiar yang diucapkan ulama soal Al Maidah bisa disamakan dengan ceramah pendeta di gereja yang mengatakan bahwa Ahok adalah cahaya Yesus, Ahok adalah orang yang dikirim Tuhan untuk memimpin Indonesia. Lalu mengapa Ahok yang non muslim mengatakan pake dibohongin Al Maidah 51. Bagaimana jika ada pejabat Islam yang mengatakan pake dibohongin ayat di Injil? Tentu saja umat kristiani juga akan terluka.
Apapun dialetikanya, bagaimanapun susunan tata bahasa yang diucapkan Ahok, yang pasti umat Islam sudah terluka. Mungkin hanya segelintir muslim Nusantara yang membela Ahok, itupun karena ada kepentingan politis pilkada Jakarta.
Yang jelas, Ibu Ratna dan masyarakat Indonesia ini ingin hidup damai dalam keheterogenan. Sekarang, kasus Ahok sudah bergulir di tangan Polri. Sekarang, tinggal keputusan Polri inilah yang akan membuat Indonesia menjadi damai atau semakin ramai.
Biarkan Presiden Joko Widodo mencari aktor politik di balik sedikit kericuhan kasus demo 4 November 2016 lalu. Yang pasti, masyarakat Indonesia saat ini mencari keadilan.
Yang pasti, Ibu Ratna dan jutaan umat muslim lainnya ingin aman dan nyaman tinggal di Indonesia. Dia yakin, jika umat Islam berniat rusuh pada 4 November lalu, maka dengan jumlah yang begitu banyak, maka kerusuhan Mei 1998 bisa terulang lagi. Tapi, bukan kerusuhan yang diinginkan mereka, hanya keadilan, itu saja.
Bayangkan, gara-gara ucapan Ahok yang di luar rambu asas Bhineka Tunggal Ika, berapa harga yang harus dibayar Indonesia? Begitu mahalnya. Yang mahal bukan mobil polisi yang dibakar, yang mahal bukan taman kota yang dirusak, yang mahal bukan ongkos mengirim pasukan atau pendemo. Yang mahal adalah keutuhan bangsa yang nyaris terkoyak. Yang mahal adalah cita-cita pendiri bangsa yang sudah menetapkan Pancasila, kini nyaris terkoyak. Dengan apa semuanya bisa dikembalikan? Tentu dengan rasa adil dan keadilan.