Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

MALANGTIMES - Ini wabah bukan persoalan siapa rezim berkuasa atau siapa partai pemenang. Ini soal bersama di luar kuasa manusia. Rapatkan shaf, kita hadapi bersama.

Di balik kebijakan penanganan pagebluk Covid-19, orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum proletariat, dan prekariat dibiarkan mati duluan. Tidak terlalu sulit untuk melihat siapa yang mendapat prioritas untuk diselamatkannya dan siapa yang harus tenggelam dan menjadi bangkai.

Setidaknja demikian di sebuah Artikel di The New York Times, tentang Noah Covin bersaudara seorang pengusaha atau tepatnya spekulan yang menangguk untung dari memborong tisu, dan jutaan sinitizer yang dia jual saat pageblug. Atau ambisi Trump membeli perusahaan Jerman  CureVac senilai satu milyar dolar karena perusahaan itu ditelisik mampu membuat vaksin korona. Gabungan spekulan Noah Covin dan ambisi politik Trump, sudah pasti menghasilkan kekuasaan dan uang.

Siapakah yang mampu melakukan "social distancing"? Siapakah yang mampu bekerja dari rumah? Siapakah yang mampu mengunci diri tidak berhubungan dengan orang lain?

Jelas bukan orang-orang yang hidupnya pas-pasan, yang pagi makan, sore bengong. Atau mereka yang tidak bisa makan hari ini, kalau tidak kerja hari ini. Jelas bukan kaum buruh yang hidupnya tergantung dari upah minimum. Jelas bukan sopir ojol yang mau tidak mau harus berinteraksi dan bersentuhan dengan konsumen yang mereka bonceng.

Yang paling terdampak dari kebijakan lockdown adalah orang-orang miskin, para pekerja upah harian, buruh pabrik dan pekerja layanan umum. Pastikan ada makanan dan minuman cukup di rumah mereka karena gizi buruk akan membuat mereka rentan terserang virus apapun termasuk covid-19

Yang berkecukupan, berbagilah dengan para jamaah atau tetangga yang bekerkurangan, bila perlu ambil kas masjid pastikan jamaah ada makanan dan minuman cukup selama mereka dirumahkan.

Ambil sebagian harta orang-orang kaya untuk diserahkan kepada negara. Jangan hanya lantang bicara defisit anggaran negara. Tapi tiada keberanian.

Kumpulkan semua ormas, para saudagar kaya, para politisi, cerdik cendekia, para ulama, pemangku adat rembug bersama. Negara terkena musibah, masihkah harus saling menyalahkan. Masihkah partai dan pilihan beda menjadi penghalang.

Pastikan tetangga sebelah sehat, cukup makan dan minum, saling berkabar dan saling menenangkan. Orang mukmin itu bersaudara. Ibarat satu tubuh, senasib sepenanggungan dan sependeritaan. Jangan ingin hidup sehat sendiri, jangan ingin selamat sendiri. Juga jangan ingin masuk surga sendirian. Tapi harus bersama.

Itulah kewajiban mula. Mencintai tanah air itu bagian dari iman, dibuktikan saat negara memanggil. Bukan di ruang-ruang seminar atau mimbar-mimbar yang riuh.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar