Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Guru dan keselamatan mengajar, apa artinya merdeka belajar jika saat mengajar tak ada jaminan keselamatan ?

Guru bukan dewa, yang bisa meramal kejadian dan merumus masa depan murid.

Guru itu institusi. Profesi kebanggaan yang layak dimuliakan. Saya malah menganggapnya sakral, jadi harus ada perlindungan di tengah perundungan sistematis terhadap profesi keguruan. Saya melihat paradoks ketika ada sesama pendidik juga tak paham tentang profesi keguruan. Kemudian membenam kealpaan teman seprofesi sebagai sesuatu yang lumrah dan dipersalahkan tanpa simpati.

Ketika guru mencubit murid diusut karena dianggap kriminal. Ketika guru marah dianggap kekerasan dan ketika memberi nilai dianggap pembunuhan karakter. Kemudian kealpaan dianggap kejahatan, maka sesungguhnya pendidikan kita telah kehilangan ruhnya.  Sebab para guru telah dihilangkan kaki dan tangannya secara sistematis.

Fungsi guru sebagai pendidik dimatikan. Wibawanya diberangus. Kemuliaannya dibenam atas nama HAM atau komisi-komisi lain yang kian keruh. Ini jerat sistematis dan petaka di dunia pendidikan. Guru hanya diposisikan sebagai pengajar, tidak lebih. Transfer ilmu dengan berbagai cara, untuk menggenapi setiap tagihan. Lantas dibuat berbagai model dan strategi untuk memenuhi target belajar. Ini memang naif. Dari sinilah segala soal bermula.

Memang guru bukan profesi kebal hukum, tapi tak bolehkah guru mendapatkan perlindungan atas kerjanya. Berbagai kasus perundungan terhadap guru saat mengajar telah jauh terungkap dan bahkan telah menjadi urusan pengadilan karena ketiadaan pemahaman atas profesi guru sebagai pendidik.

Keselamatan mengajar harus mendapat perhatian lebih. Guru harus dilindungi. Sistem tidak berpihak kepada guru, maka guru harus merapatkan barisan. Solidaritas guru harus dibangun sejak sekarang. Ini saatnya bangkit bersatu. Profesi guru diancam digradasi dan diintervensi.

Sayangnya solidaritas sesama guru juga menipis untuk tidak mengatakan tiada sama sekali. Saya tak perlu mengadakan riset untuk mengatakan bahwa solidaritas guru setipis ATM. Setia kawan terus menyusut karena sikap individualistik. Maaf saya katakan bahwa sistem pengajaran telah membuat perihidup guru berubah hedon dan indiviadualistik, egoisme tumbuh menguat, mengalahkan dedikasi, dan loyalitas karena profesi guru bukan lagi mengabdi tapi area mecari rejeki, menggantikan kebersamaan dan gotong royong. Ini soal bersama, guru harus meluruskan niat.

Saya menyesalkan ada banyak persoalan yang mengancam eksistensi profesi guru dibiarkan berlalu. Guru sering dipojokkan, dicampuri, diminta begini dan begitu sesuai selera yang diingini. Tapi guru diam tiada bergeming.

Maaf bila saya sebut pendidikan adalah dunia paradoks. Ketika guru juga harus dilindungi dari kenakalan murid atau tuntutan wali murid yang terus menekan dengan berbagai keinginan. Memang tidak semua sekolah, tidak di semua tempat, tapi tetap harus ada perlindungan profesi,  perlindungan saat mengajar dan perlindungan saat mengambil tindakan pendidikan. Ini krusial!

@nurbaniyusuf
Guru di Universitas Muhammadiyah Malang