Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

TAHDZIR itu artinya mewanti-wanti agar menjauhi seseorang. Tahdzir itu boleh jika memang orang yang ditahdzir berhak ditahdzir dan mashlahatnya lebih besar dari mudlarat tahdzir. Apabila mudlaratnya lebih besar maka tidak boleh.

Di zaman dahulu para ulama menggunakan tahdzir juga untuk membela agama. Seperti Imam Asy Syafii, Ad Darimi mentahdzir Bisyir Al Marisi. Bahkan imam Ad Darimi menulis buku: Bantahan Utsman bin Sa'id Ad Darimi terhadap Bisyir Al Marisi yang sesat. Imam Ahmad mentahdzir Seorang ulama yang bernama Husain Al Karobisi karena ia mengatakan: lafdzi bil qur'an makhluk. Juga mentahdzir Amru bin Ubaid karena keyakinan qodariyahnya, padahal Amru bin Ubaid ini ahli ibadah yang hebat.

Para ulama juga mentahdzir Al Hasan bin Shalih bin Hayy karena pendapatnya membolehkan memberontak kepada pemimpin muslim. Padahal Al Hasan bin Shalih ini sangat hebat keilmuan haditsnya bahkan setarap Sufyan Ats Tsauri.

Saya sarankan jamaah Muhammadiyah mentahdzir ulama-ulama Salafi-Wahabi karena mengundang mereka banyak mudharat dari pada manfaat—ilmunya tak seberapa, kebiasaannya mencela dan menyesatkan, membid’ahkan siapapun yang berbeda terasa sangat menyakitkan.

Kehadirannya sering membuat gaduh dan melahirkan perselisihan baik internal jamaah maupun terhadap masyarakat sekitar— tak heran jika kemudian pengajian mereka banyak diprotes karena mengundang kontroversi —Muhammadiyahpun terkena imbas dituduh Wahabi dan segala macam karena sering mengundang mereka.

Mereka (salafi) hanya mau mendengar dari ulamanya sendiri dan tak mau mengundang atau mendengar dari ulama kita —- bukankah mereka juga sudah mentahdzir ulama-ulama dari kalangan NU yang dianggap sebagai ulama ahli  bid’ah dan ulama Muhammadiyah yang dianggap sebagai ulama subhat—

Dengan senang hati saya terima tahdziernya dan Ijinkan aku membalas dengan mentahdzir mereka—agar jamaah Muhammadiyah tidak mendengar tausiyahnya, tidak mematuhi fatwanya dan tak perlu mengundang ke masjid atau halaqah di Muhammadiyah, sebagai mana mereka mentahdzir ulama-ulama Muhammadiyah pada halaqah mereka. Impas kan ?

Jangan dekat-dekat mereka karena banyak mudharat dari manfaat — mereka tak memberi manfaat apapun terhadap Persyarikatan— tidak akan membuat jamaah bertambah bahkan berselisih. Tidak akan menambah jumlah AUM di Persyarikatan tapi sudah berani mencela putusan tarjih, mencela organisasi dan menganggapnya bid’ah dan lain-lain—

Jadi sama sekali tiada berguna mengundang mereka sebagaimana mereka menganggap kita tiada berguna kecuali menambah perpecahan, karena ber-Muhammadiyah dan ber-NU dianggap ashabiyah. Jadi jangan harap ada ulama lain dihadirkan di kajian mereka dan penulis penulis NU atau Muhammadiyah di muat di majalah mereka. Nggak bakalan —-

Jujur h ini bukan kebiasaan kami di MUHAMMADIYAH —ini amalan yang tidak populair dikalangan kami — sebenci apapun— kami tak akan mentahdzir, apalagi hanya selisih kecil-kecil pada soal yang furu—jadi tahdzir itu kebiasaan ulama-ulama Salafi untuk menyelamatkan pengikutnya dari pengaruh luar,  menjaga fanatisme, dan kepatuhan, semacam taqlid dengan packaging beda.

Inilah tahdzirku atasmu sebagaimana tahdzirmu atasku —-inilah tahdzir yang menurutmu berada di atas kebenaran karena ada di jalan sunah —aku lakukan dengan senang hati karena bersandar pada manhaj salaf—aku hanya melaksanakan tahdzirku —

Memang enak di tahdzir —? jadi kenapa saling men-tahdzir —jika berteman itu lebih baik ?

Afwan beribu afwan 
Salam tahdzir dariku —-

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar