Nurbani Yusuf
Nurbani Yusuf

Saya menyebutnya, ahistoris. Hampir 30  tahun menjadi aktivis pergerakan: dua masjid saya bangunkan, tiga musala saya berikan, satu PAUD dan TK saya sembahkan, semuanya dari harta sendiri. Tapi saya tak punya kenangan. Saya dan mungkin hampir sebagian besar kader tak diajarkan biasa mengenang masa lalu. Sebab itu bukan bagian dari sunah yang harus di amalkan.

^^^
Dan saya tak pernah tahu masuk pada generasi Muhammadiyah yang mana: masa sahabat, tabiin,  tabiut tabiun atau generasi tanpa sanad (generasi tanpa masa lalu)

Kiai  Munawir punya adik, namanya Kiai Mudzakir. Kiai Mudzakir punya anak, namanya Prof. Kahar Mudzakir. Rumahnya Kiai Munawir di Kauman Jogjakarta itu dulu depannya rumah Ki Bagoes Hadikusumo. Jadi Prof. Kahar itu dulu sering mampir di rumah Ki Bagoes, karena saudaranya di Kauman masih banyak. Jadi, Kiai Mudzakir aktivis Muhammadiyah sedangkan Kiai Munawir aktivis NU yang punya ponpes Al Munawir Krapyak.

Itu pembicaraan antara Pak Afnan Hadikoesoemo yang merupakan Ketua Umum Tapak Suci yang juga cucu dari Ki Bagus Hadikoesomo dengan Pak Hajriyanto Thohari yang merupakan Ketua PP dan menjadi dubes Lebanon.  Sungguh menarik bagi saya, sekaligus mengharukan. Mengharu biru mengacak pikiran. Kenapa saya tak punya masa lampau yang bisa dikenangkan tentang Pak Djindar, Pak Prodjo, Pak AR, Pak Azhar, Pak Abdullah Wasian, Pak Abdurahim Noor, atau ulama-ulama Muhammadiyah lainya yang punya ‘karomah dan kewalian’ tapi dilupakan.

Sepotong pembicaraan mengenang guru atau ulama-ulama masa lalu, hal yang tak lazim di Persyarikatan Muhammadiyah. Saya ngiri mendengarnya, sebab saya tak punya sesuatu atau guru untuk dikenang dan diceritakan. Mungkin ini semacam kerinduan tentang suatu masa, di mana kita pernah belajar dan berguru.

^^^^
Kami belajar Muhammadiyah dari guru-guru Al Islam dan kemuhammadiyahan pada teks-teks buku cetak yang dinilai tiap satu semester sekali. Pelajaran yang menurut sebagian murid tak penting dan membosankan. Karena itu ditaruh pada jam terakhir, kalah prestige dibanding matematika apalagi bahasa Inggris atau IPA

Dalam buku ‘Pengajaran’ itu disebutkan tentang sejarah ormas Islam yang katanya berdiri tahun 1912 di Jogjakarta—konon pendirinya bernama Kiai Hadji Ahmad Dahlan— mungkin pula itu wajah orang berjanggut putih bersurban yang dipajang di dinding kelas sekolah. Hanya itu yang aku tahu, jadi kami tak pernah merasa ada kedekatan dengannya. Tak ada ‘sesuatu’ yang bisa kami peroleh darinya. Kami dilarang mendoakannya apalagi bertawashul kepadanya, sebab dikawatirkan kultus. Sesuatu yang kami sangat dilarang melakukannya. Sebab itu, kami tak mengenal hari lahirnta, keluarga, dan anak-anaknya. Kami juga tak pernah atau dianjurkan ziarah ke kuburnya. Di rumah pun kami takut pajang lukisan gambarnya.

Kemudian guruku bilang bahwa MUHAMMMADIYAH bertujuan memberantas tahayul, bid’ah, dan khurafat. Sejak saat itu kami tak pakai usholi saat mau salat, tak baca sayidina pada tahiyat, dan tidak salaman usai salat. Mengundurkan diri dari keanggotaan jamaah Yasin dan keluar dari kumpulan tahlilan dan tidak selametan saat kedua orang tuaku meninggal, dan tidak ziarah kubur.

^^^
Di kampung itu, Awalnya kami hanya bertujuh. Kakekku berhaji tahun 1909 saat Wahabi gencar melakukan pergerakan menjelang rubuhnya raja Syarif Husei di Hejaz. Beruntung kakekku punya tanah luas, kami membangun musala yang kemudian dijadikan masjid untuk salat Jumat.

Malam hari kami mengaji bersama ayah, dua orang adikku dan lima orang teman dari tetangga sebelah rumah. Punya masjid  sendiri yang berbeda dengan masjid kampung: mereka menyebutnya masjid  ‘kamdhol’ (kamandholah). Sebutan ledekan untuk orang Muhammadiyah di kampungku. Masjid azan satu atau masjid tanpa qunut subuh dan diba’.

Kami tak punya masa lalu atau tepatnya tak punya guru yang mengajarkan bagaimana berMuhammadiyah secara kultural. Mungkin juga tak punya sejarah (a-historis). Lantas kami membuat sejarah sendiri, semacam tradisi berMuhammadiyah, itupun kalau ada kemampuan.

^^^
Jadi apa substansinya? Saya (kita) butuh ‘masa lalu’ bukan hanya untuk dikenang tapi sebagai sumber etik ‘masa lalu’. Saya menyebuthya ‘masa salaf'. Kita perlu teladan dan uswah dari para pendiri dan penggerak Persarikatan di awal pergerakan. Kita ambil spirit para generasi awal MUHAMMADIYAH, di bawah asuhan Kiai Dahlan. Bagaimana beliau berpikir,  beramal, dan bergerak. Generasi awal adalah ruh berMuhammadiyah yang otentik sebagai sumber etik, sumber teladan dan rujukan.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar