Kondisi rumah Mbah No (atas) yang tidak mendapatkan bantuan PKH, Kondisi rumah Bu Imah (bawah) yang mendapatkan bantuan PKH di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kondisi rumah Mbah No (atas) yang tidak mendapatkan bantuan PKH, Kondisi rumah Bu Imah (bawah) yang mendapatkan bantuan PKH di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Di siang yang terik, perjalanan dari Kota Malang menuju Kabupaten Malang tepatnya di Kecamatan Tirtoyudo yang berjarak sekitar 49 kilometer terasa melelahkan. 

Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan mengendarai sepeda motor sangat memacu adrenalin dengan melewati jalanan sepi yang menanjak dan menurun. Serta yang membuat khawatir adalah di sebelah kanan kiri jalan terdapat jurang dan lereng bukit yang rawan longsor. Karena jika siang sudah terik seperti ini, sorenya selalu didominasi awan mendung dan akhirnya turunlah hujan yang cukup deras.

Dari perjalanan menyusuri hutan dan perbukitan yang mengarah ke wilayah Tirtoyudo, pewarta berhenti sejenak melihat seorang kakek dengan baju yang tampak lusuh sedang berada di depan rumahnya. Rumah yang kurang layak, berdinding bilik bambu, beralaskan tanah sudah lama menjadi tempat tinggal kakek yang biasa disapa Mbah No itu.

Saat ditanyai oleh pewarta mengenai sudah pernahkah mendapatkan bantuan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Mbah No mengutarakan dengan wajah tuanya dan pasrah tersebut menjawab bahwa belum pernah mendapatkan bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH). "Saya belum pernah didatangi petugas yang data-data gitu mas, apalagi bantuan yang PKH (Program Keluarga Harapan)," ujar Mbah No sambil menunjukkan wajah pasrahnya.

Mbah No menceritakan kondisi keluarganya yang serba pas-pas an dengan 2 anaknya dan memiliki 1 cucu. "Saya kerja jadi petani mas, 2 anak saya jadi buruh tani biasanya juga merawat kambing. Istri saya kadang-kadang jadi buruh tebang kayu. Kondisi keluarga saya dari dulu ya seperti ini mas," beber Mbah No dengan wajah yang nelangsa.

Dengan serba keterbatasan, Mbah No masih menyempatkan untuk melestarikan budaya jaranan. "Ya biasanya juga ngajari anak kecil-kecil latihan jaranan mas, tiap malem Jum'at Legi, nama kelompoknya Manunggale Joyo Ningati," tuturnya.

Setelah berbincang cukup lama, pewarta berpamitan pulang karena waktu sudah mulai sore dan awan mendung sudah mulai hadir di langit Tirtoyudo. Jika sudah malam hari, sudah dapat dipastikan jalanan ini minim penerangan. Karena selama perjalanan pewarta menyusuri desa ini, hampir tidak ada penerangan lampu. 

Pada saat pewarta mengarah ke jalan pulang, pewarta berinisiatif untuk bertamu ke rumah warga yang tampak aneh di pintu depan rumahnya. Ternyata keluarga yang ada di rumah ini sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Ini dibenarkan dengan adanya tulisan cat ''Keluarga Pra Sejahtera Penerima Bantuan Sosial'' serta penuturan ibu yang ada di dalam rumah tersebut bahwa keluarganya penerima bantuan Program Keluarga Harapan. 

Ketika bertamu, pewarta merasakan perbedaan yang sangat drastis kondisi rumah Bu Imah dengan Mbah No, dinding tembok yang terdapat balutan keramik ubin. Bu Imah juga bercerita kehidupan sehari-harinya. "Pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga, sama nanam-nanam jeruk, sayuran, tomat, lombok di belakang rumah," jarnya.

Bu Imah sendiri mengaku sudah mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sejak 2018. "Saya dapat bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) dari tahun 2018 kalau nggak salah, pokoknya data dari desa itu saya diberi bantuan PKH (Program Keluarga Harapan). Saya dapatnya 3 bulan sekali," jelasnya.

Saat Bu Imah menyuguhkan minuman pada pewarta, Bu Imah bercerita, saat dia memantau media sosial bahwa yang dapat bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) itu orang yang tidak mampu. "Kalau saya lihat di medsos itu ya bantuan ini untuk warga yang kurang mampu. Tapi saya heran, yang mampu kok juga dapat ya," heran Bu Imah bercerita dengan pewarta.

Bu Imah menganggap jika memang bantuan itu rejeki, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. "Ya kalau rejeki ya gimana ya, pokoknya dimanfaatkan seoptimal mungkin, sebaik-baiknya untuk masa depan anak, kan nggak papa," jelas ibu 3 orang anak ini.

Setelah selesai berbicara dengan Bu Imah, pewarta berpamitan pulang agar tidak terlalu malam. Menyusuri jalanan kecil dan turunan yang lumayan curam membuat pewarta harus ekstra hati-hati. Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB sore. 

Pada saat pewarta turun mengarah ke jalan pulang, ternyata masih ada beberapa rumah warga yang terlihat bagus dan dapat digolongkan sebagai keluarga berada, yang pintu depan rumahnya terlihat terdapat tulisan cat "Keluarga Pra Sejahtera Penerima Bantuan Sosial" di wilayah Kecamatan Tirtoyudo. 

Jalanan yang sangat-sangat minim penerangan membuat pewarta mengurangi kecepatan laju sepeda motor, karena gerimis hujan rintik-rintik pun juga mulai datang. 

Melihat kondisi tersebut, dirasa pendataan yang kurang tepat juga terjadi di lain kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Seperti contohnya di Kecamatan Jabung dan Pakis. Tidak menutup kemungkinan ini juga dapat terjadi di wilayah kecamatan lain maupun di kota atau kabupaten lain yang ada di Indonesia.

Sejatinya bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dicanangkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia ini diperuntukkan untuk kesejahteraan warga Indonesia. Warga yang menjadi peserta harus mengacu pada 5 komponen yang telah ditentukan dalam aturan. "5 komponen tersebut ada Ibu Hamil, Balita, Anak (SD, SMP, SMA), Disabilitas, Lansia (Lanjut Usia)," jelas salah satu pendamping peserta Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang yang enggan disebutkan namanya.

Dia juga menambahkan dalam satu keluarga maksimal yang dapat tercover hanya 4 orang. "Dalam satu keluarga itu yang tercover bantuan maksimal hanya 4 orang," tambahnya.

Jika dilihat dari jumlah nominal uang yang akan diterima oleh komponen tersebut, jumlahnya berbeda-beda. "Kalau Program Keluarga Harapan (PKH) itu kan diberikan 1 tahun 4 kali. Kalau ibu hamil itu 3 juta, ya kalau bagi 4 kan tinggal bagi aja, per orang. Balita sama 3 juta. Anak SD nya itu 900ribu, anak SMP 1juta setengah, anak SMA 2 juta, kemudian disabilitas sama lansia masing-masing 2 juta 4 ratus," bebernya.

Harapan masyarakat dalam penerapan Program Keluarga Harapan (PKH) agar lebih selektif dalam memverifikasi data yang ada, serta selalu melakukan pembaharuan-pembaharuan data orang miskin di wilayah masing-masing.