Jajaran Forkopimda Kota Malang kala meninjau dan melakukan penertiban aktivitas di keramaian. (Foto: Humas Pemkot Malang).
Jajaran Forkopimda Kota Malang kala meninjau dan melakukan penertiban aktivitas di keramaian. (Foto: Humas Pemkot Malang).

MALANGTIMES - Merebaknya virus corona atau covid-19 masih menjadi momok di penjuru dunia. Upaya menanggulangi penyebaran penularan juga terus gencar dilakukan pemerintah daerah.

Salah satunya dengan menerapkan social distancing dan menggalakkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) untuk menjaga daya tahan tubuh. Namun, penerapan itu tidak mudah dilakukan oleh masyarakat.

"Meskipun semakin ke sini sudah terbangun kesadaran, bahkan teman-teman asosiasi pengelola pusat perbelanjaan juga mendukung sepenuhnya tutup usaha karena panggilan kemanusian di atas kalkulasi bisnis," ujar Wali Kota Malang Sutiaji melalui Kabag Humas Pemkot Malang Nur Widianto.

Namun, kala operasi gabungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, TNI, dan Polri dilakukan, masih saja ditemukan kerumunan orang dan ketidakpatuhan dalam pembatasan pembukaan jam usaha.

Hal inilah yang menjadi dasar dikeluarkannya SE Wali Kota Malang Nomor 9/2020. Yakni, perubahan untuk kali keempat berkaitan dengan pengaturan tempat usaha dalam menyikapi covid-19. Salah satunya mengimbau penutupan pusat perbelanjaan atau mal. 

Adapun jika tenant di dalamnya tetap beroperasi, maka dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip social distancing atau physical distancing, berjarak minimal satu meter, dan buka antara pukul 07.00 sampai  20.00.

"Pada SE tersebut juga memberikan pengecualian untuk jasa SPBU, apotek, dan usaha fasilitas kesehatan. Normal sebagaimana biasanya," imbuhnya.

Tak hanya itu. Sutiaji juga mewanti-wanti masyarakat agar berhati-hati akan kondisi psikisnya. Sebab, daya tahan tubuh bisa mengalami penurunan apabila kondisi psikis juga turun.

Karena itu, dia meminta masyarakat untuk tidak panik dan tidak menyibukkan diri dengan perbincangan yang kurang valid. Masyarakat diminta selalu mengikuti informasi yang dilansir resmi oleh pemerintah dan selalu meyakini setiap pergerakan ODP (orang dalam pemantauan) maupun PDP (pasien dalam pengawasan) dalam pantauan ketat tim medis atau Satgas Covid-19 Kota Malang.

"Hati-hati psikologi down. Warga hanya perlu membatasi aktivitas keluar, membatasi giat kumpul-kumpul dan terus jaga kebersihan serta ketahanan tubuh. Mari kita ambil hikmah positif dari imbauan untuk lebih banyak di rumah. Perbanyak waktu untuk berinteraksi dengan keluarga. Terlebih, sebentar lagi kita juga masuk bulan Ramadan. Kami manfaatkan hal itu menjadi kekuatan imani secara bersama-sama di dalam rumah," tandasnya.