Mahasiswa yang menciptakan teknologi Lemper. (Ist)
Mahasiswa yang menciptakan teknologi Lemper. (Ist)

MALANGTIMES - Tiga mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) mengikuti Paper Competition bertajuk "Javanica, di Balik Tanah yang Makmur". Dalam kompetisi ini, mereka  berhasil meraih juara harapan III.

Mereka yakni Ida Silfia dari Prodi (Program Studi) Pendidikan Matematika, Benyamin Jemat dari Pendidikan Fisika, dan Abdullah Mubarok dari Teknik Informatika.

Dalam paper tersebut, tiga mahasiswa itu menerapkan teknologi yang bernama Large Epic Machine Pluper (Lemper).  Teknologi Lemper sangat berguna untuk dipakai dalam pengolahan kopi dengan memanfaatkan sentuhan teknologi.

“Kami melihat masih banyak sekali masyarakat, terutama di desa, yang mengolah biji kopi dengan mesin tradisional. Apalagi, kapasitas penggunaannya masih sedikit. Maka dari itu, kami membuat teknologi Lemper ini guna membantu masyarakat agar lebih mudah memisahkan biji kopi dari kulitnya. Jadi, mempermudah mereka saat proses produksi kopi,” papar Ida Silfia selaku ketua pembuatan pape ini.

Ida menyampaikan, dalam perlombaan tersebut, bukan hanya presentasi semacam presentasi di kelas, namun di situ juga disertai praktik langsung penggunaan teknologi Lemper di hadapan tim juri.

“Presentasinya berbeda. Bukan seperti kita presentasi tugas di perkuliahan. Di sini, penjelasan harus detail dan tidak bertele-tele. Kami juga mempraktikkan teknologi Lemper di hadapan juri. Selain itu, tak lupa belajar dan sharing kepada senior yang pernah mengikuti kompetisi semacam ini,” tambahnya.

Sementara itu, Abdullah Mubarok menambahkan,  sebagai generasi yang tentunya diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat, mahasiswa harus mengerti apa kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan taraf perekonomian yang berimbas kesejahteraan.

“Mahasiswa itu harus mulai memfasilitasi apa yang dibutuhkan masyarakat, terutama untuk meningkatkan perekonomian. Teknologi sudah semakin canggih. Tetapi ada beberapa masyarakat yang belum tersentuh teknologi. Bahkan, mereka merasa teknologi ini terlalu ribet dibandingkan dengan cara tradisional,” ujarnya.

Dengan teknologi yang dibuat ini, pihaknya berharap nantinya Lemper akan semakin berkembang, lebih memberikan manfaat, dan semakin memudahkan masyarakat, khususnya dalam pengolahan kopi.

“Kami tidak hanya memberikan pengertian saja, tetapi juga menciptakan teknologi tersebut meskipun skalanya masih kecil. Kami berharap teknologi Lemper ini bisa lebih disempurnakan lagi agar dapat digunakan dengan skala besar dan bisa digunakan oleh banyak orang,” tutupnya.