Situasi demo yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Fakultas Hukum Unisma (Hendra Saputra)
Situasi demo yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Fakultas Hukum Unisma (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Halaman Gedung Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) Senin (16/3/2020) kembali ricuh akibat aksi mahasiswa yang meneruskan aksi pertamanya pada Kamis (5/3/2020) lalu.

Suasana Unisma yang biasanya hanya ada lalu lalang mahasiswa dengan aktivitas perkuliahan berubah menjadi ramai bahkan hingga pembakaran bahan baku aspal dan ban di depan gedung Yayasan Unisma.

Situasi tersebut dipicu karena tuntutan mahasiswa pada aksi pertama dianggap tidak dihiraukan oleh pihak kampus. Dalam sekian waktu berorasi, juga sempat terjadi konflik, adu mulut hingga saling lempar ban antara pihak keamanan Unisma dengan mahasiswa, tapi kondisi tersebut bisa teredam dengan diskusi kecil dan mahasiswa melanjutkan aksinya.

Seperti diketahui, ada tiga tuntutan yang dikeluarkan mahasiswa dan mencoba terus disuarakan kepada pihak Unisma, antara lain:

Pertama, menyikapi etika dosen dan perilaku yang menyimpang sebagai seorang pendidik, yang semena-mena dalam proses belajar mengajar.

Kedua, menuntut transparansi Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan terkait Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) Angkatan 2019 yang sampai sekarang belum ada kejelasan.

Ketiga, meminta pertanggungjawaban Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan atas praktik pemotongan dana beasiswa PPA mahasiswa Fakultas Hukum Unisma periode 2019.

Koordinator lapangan (korlap) aksi yang juga Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum Unisma, Agung Rizki mengatakan bahwa aksi yang dilakukan ini adalah lanjutan dari aksi pertama yang tidak kunjung mendapat respon dari rektorat ataupun pihak yayasan.

"Kami meminta audiensi tapi tidak ditanggapi. Aksi hari ini adalah tindakan lanjut karena keputusan yang dijanjikan belum dikeluarkan, bahkan sampai hari ini juga belum," ujar Agung saat ditemui di sela-sela aksi.

Disisi lain, Aliansi Mahasiswa Fakultas Hukum Unisma meminta untuk 'memecat' oknum salah satu dosen yang dianggap mahasiswa menyalahi etika. Mereka menganggap "Persoalan etika salah satu oknum dosen yang kurang humanis bahkan mengarah pada rasis bahasanya. Kami mengharap oknum dosen ini dikeluarkan dari Unisma," tegas Agung.

Hingga berita ini ditulis, Aliansi Mahasiswa Fakultas Hukum Unisma masih menunggu keputusan dari pihak kampus terkait tuntutan yang sudah dibeberkan pada pertemuan pertama lalu. "Hari ini kami tetap meminta audiensi dengan jaminan harus ada keputusan. Jika tetap tidak ada keputusan, teman-teman sepakat untuk mengadakan aksi lanjutan," pungkas Agung.