(dua dari kiri) Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg bersama para pimpinan lain. (Foto: Ima/MalangTIMES)
(dua dari kiri) Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg bersama para pimpinan lain. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menyusul merebaknya virus Corona di Indonesia, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki/UIN Malang) melakukan upaya pencegahan penyebaran dengan menerapkan kuliah daring hingga akhir Maret.

Hal ini disampaikan Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg kepada MalangTIMES saat ditemui di Perpustakaan (Senin, 16/3/2020) usai khatmil Quran, salawatan, istighosah bersama para pimpinan dan tenaga kependidikan.

Baca Juga : Ungkapan Mahasiswa Asing UIN Malang yang Terisolasi di Kampus

 

"Tetap kita melakukan kegiatan perkuliahan, tetapi memakai online. Untuk sementara ini pembelajaran daring 100 persen," ucap dia.

Meski kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online, kampus tetap dibuka. Kuliah daring ini dilakukan hingga tanggal 31 Maret nanti.

"Kampus tetap dibuka tidak di-lockdown. Jadi nanti sampai tanggal 31 daring. Setelah reda insya Allah kembali normal," tutur Haris.

Ia menambahkan, semua dosen, karyawan, dan pimpinan tetap masuk setiap hari. Namun, semuanya harus menjaga kesehatan.

"Semuanya harus bersih, membawa hand sanitizer, kemudian bagi mereka yang batuk-batuk meskipun itu tidak ada indikasi karena Corona tetapi harus menjaga diri, bahkan mungkin harus diperiksa," paparnya.

UIN Malang juga akan memanfaatkan para dosen yang dokter untuk memelihara, menjaga, dan menjadi konsultan bagi kesehatan di kampus.

Baca Juga : Siswa yang Tak Punya Akses Internet Mulai Senin Belajar Lewat TVRI

 

"Kita semua mengkondisikan agar hidup bersih. Semua lingkungan kampus usahakan agar bersih," tegasnya.

Hal ini juga berlaku di ma'had. Prof Haris mengimbau agar penghuni ma'had menjaga diri dengan berperilaku hidup bersih dan sehat. Ia juga meminta agar santri ma'had tidak pulang dulu.

"Yang di ma'had juga nggak boleh pulang. Karena kalau pulang kan menjadi persoalan tersendiri. Secara teoritik sangat mungkin mahasiswa pulang itu dia membawa virus di sana atau tertular di daerahnya lalu dibawa ke sini. Jadi kalau ukuran wabah itu orang seharusnya tidak ke mana-mana," tandasnya.