Pencemaran sungai oleh limbah PT Greenfields lndonesia di Blitar belum usai, Warga Ngajum pun mulai bergerak karena hal sama (dok JatimTimes)
Pencemaran sungai oleh limbah PT Greenfields lndonesia di Blitar belum usai, Warga Ngajum pun mulai bergerak karena hal sama (dok JatimTimes)

MALANGTIMES - Belum tuntas persoalan pencemaran sungai di Wlingi, Blitar, oleh PT Greenfields Indonesia yang membuat masyarakat protes keras. Serta membuat pemerintah Kabupaten Blitar, DPRD dan Polres turun tangan. Persoalan tahunan terkait pencemaran limbah kotoran sapi pabrik susu ini juga kembali disoal warga Ngajum, Kabupaten Malang.

Warga yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Margotani 1 Desa Kesamben, Ngajum, tak lagi bisa bersabar dengan pencemaran dari Greenfields yang membuat hasil panen menurun.
Matori, Ketua Poktan Margotani 1, hampir dibuat putus asa dengan berbagai cara agar pencemaran pabrik susu bisa menyelesaikan persoalan tahunan yang berdampak buruk pada lahan pertanian warga.

"Empat tahun sudah kita merasakan limbah pabrik. Petani sangat dirugikan, dan tak mendapat solusi dengan berbagai cara yang telah ditempuh. Pabrik tak pernah memberi solusi atas kerugian petani dengan pencemaran limbahnya," ujarnya saat bersama rekan petani lainnya mendatangi DPRD Kabupaten Malang.

Perjuangan para petani atas lahan pertaniannya dari aliran limbah pabrik susu PT Greenfields Indonesia, bila ditarik ke belakang telah mencuat di Ngajum sejak tahun 2016 lalu. Walau banyak pihak yang mencoba mengatasi persoalan limbah, ternyata setiap tahun juga warga akhirnya protes dengan kondisi yang nyaris sama. Lahan pertanian warga kerap gagal panen dan membuat rugi petani.

"Gagal panen dan beralih dari petani padi ke tebu yang bisa kita lakukan. Limbah yang dibuang ke Sungai Gesang telah membuat hasil panen padi merosot tajam," ujar Matori.

Di Kesamben, Ngajum, lahan pertanian yang dialiri air irigasi melalui 2 dam seluas 141 hektar (ha). Tapi, dengan adanya pencemaran limbah PT Greenfields lndonesia, luasan lahan pertanian itu pun menjadi tak maksimal. Bahkan banyak petani yang mengalami gagal panen.

Hal ini dipertegas oleh Sunarto yang menyatakan dirinya mengetahui terkait limbah yang dibuang pabrik ke sungai yang menjadi aliran air untuk kepentingan irigasi pertanian.

"Buangnya waktu malam, tengah malam. Saya tahu itu," ujarnya yang sempat di tahun lalu juga ditunjuk untuk melakukan inventarisir kerugian para petani akibat pencemaran limbah pabrik yang dibuang ke sungai.

"Tapi, sampai sekarang tak ada tindaklanjut. Tak ada keseriusan oleh para pihak itu," ujarnya marah sambil menyebut para pihak yang berkali-kali melakukan survei dan analisa limbah PT Greenfields Indonesia, cuma tak ada tindaklanjutnya.

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang yang berkali-kali turun lapangan pun, ternyata tak membuahkan hasil yang bisa merubah kondisi saat berhadapan dengan PT Greenfields Indonesia.

Poktan Margotani 1 pun kembali mengadu ke DPRD Kabupaten Malang, Senin (9/3/2020) kemarin. Dimana melalui Zia Ulhaq anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang, pihaknya akan segera memanggil pihak PT Greenfields lndonesia dan dinas terkait.

"Dalam waktu dekat kita panggil. Kita akan fasilitasi keluhan petani secepatnya," ujarnya.
Jauh hari, melalui Head of Manufacturing PT Greenfields Indonesia di Palaan, Darmanto Setyawan, seperti dikutip surya Malang, Jumat (21/2/2020), mengklaim pengelolaan limbahnya sudah sesuai prosedur.

Dimana, sejak tahun 2016 lalu, setelah pencemaran sungai terjadi dikarenakan adanya pipa yang bocor, pihaknya telah memperbaiki tata pengolahan limbah dengan menggunakan proses mikrobiologi lumpur aktif.

Proses itu menurut Darmanto, membuat air limbah berwarna jernih dan ramah lingkungan. Bahkan, masih menurutnya, air limbah yang telah diproses itu dipergunakan uruk menyiram tanaman di pabriknya.

"Jadi sebelum dibuang ke sungai di belakang pabrik, dilakukan pengolahan air limbah. Pipa yang sempat bocor (2016 lalu, red) juga sudah diganti dengan menggunakan gravitasi," ujarnya.