Ilustrasi strategi dan skenario parpol di Pilkada Kabupaten Malang. (Ist)
Ilustrasi strategi dan skenario parpol di Pilkada Kabupaten Malang. (Ist)

MALANGTIMES - Loncatnya Sanusi sebagai kader PKB ke PDI Perjuangan serta turunnya rekom calon bupati membuat peta politik di Kabupaten Malang dalam pilkada 2020 semakin menarik dinanti.
Khususnya strategi dan skenario yang akan dipakai PKB yang secara jumlah perolehan kursi di legislatif pada  Pileg 2020 sama-sama meraih 12 kursi dengan PDI Perjuangan.

Dengan resminya Sanusi-Didik Gatot Subroto menjadi calon dari PDI Perjuangan, pilihan PKB adalah mengusung calonnya sendiri di tingkat internal. Beberapa nama pun telah dikantongi oleh PKB. Baik Ali Ahmad, Umar Usman, Hasan Abadi, Hanif Dhakiri, dan Lathifah Shohib.

Sedangkan di tingkat eksternal, partai berlogo bola dunia dikelilingi sembilan bintang ini bisa saja melenggang sendiri atau berkoalisi dengan satu dan dua parpol untuk menghadapi calon dari PDI Perjuangan. Atau, mengikuti jejak PKB Kota Surabaya, yakni melakukan koalisi besar dengan berbagai parpol. 

Sekretaris Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Malang Kholiq juga tak menampik adanya prediksi skenario dan strategi itu. "Berkoalisi besar, maka peluang untuk menang juga besar. Harapan saya berkoalisi besar seperti PKB Kota Surabaya dan ini bisa saja terjadi di Kabupaten Malang," ucapnya.

Kholiq melanjutkan, bila partainya melakukan koalisi besar seperti di Kota Surabaya, dirinya tentu menyambut gembira. "Tapi sekali lagi kepastiannya seperti apa saya tak tahu. Itu kewenangan di DPP PKB. Kalau prediksi saya minimal  berkoalisi dengan NasDem," ujarnya.

Harapan itu tentunya tak salah dalam matematika politik. Hal itu telah dijalankan juga oleh PKB Kota Surabaya yang  mengusung mantan Kapolda Jatim Irjen (Purn) Machfud Arifin sebagai calon wali kota Surabaya. PKB berkoalisi dengan PAN, PPP, Partai Demokrat, dan Partai Gerindra untuk melawan calon dari PDI Perjuangan.

Bila koalisi besar dilakukan PKB, maka tentunya menjadi 'warning' bagi PDI Perjuangan yang juga masih berupaya menjalin komunikasi politik dengan berbagai parpol lainnya. 

Sejarah pilkada di Kabupaten Malang telah mencatat bahwa perolehan suara banyak di legislatif belum menjadi tolak ukur kemenangan. Hal ini pernah terjadi di tubuh PDI Perjuangan yang memberangkatkan kadernya sendiri tanpa berkoalisi dengan parpol lainnya.

Tak heran pula parpol dengan kursi kecil di DPRD, seperti PPP dan Demokrat pun memiliki kans untuk memberikan warna kemenangan dalam pilkada 2020. Apalagi dengan beberapa parpol seperti Golkar, NasDem dan Gerindra yang juga bersiap untuk mengusung calonnya masing-masing di pilkada 2020.

Lepas dari akankah PKB berkoalisi besar seperti di Kota Surabaya atau hanya menggandeng satu atau dua parpol, masyarakat masih menunggu nama calon yang nantinya akan diusung oleh DPP PKB. Pasalnya, bila PKB memberangkatkan pasangannya secara langsung, maka koalisi besar pun dimungkinkan akan sulit diwujudkan. Sedangkan nama-nama yang masuk radar sampai saat ini masih dominan dari kalangan internal. 

Ali Ahmad yang elektabilitasnya, menurut riset Adiwangsa Research and Consultan dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berada satu strip di bawah Sanusi, yaitu 22,9 persen, serta Hasan Abadi yang mendulang 20,41 persen bisa jadi pasangan potensial dari PKB pada nantinya.
Maka, apa yang diprediksi Kholiq bahwa PKB akan berkoalisi dengan NasDem memang memiliki peluang untuk bergandengan tangan menghadapi PDI Perjuangan. Pasalnya, Hasan Abadi yang tak mendapat rekom PDI Perjuangan juga mendaftar ke NasDem.

"Ali Ahmad dan Hasan Abadi menjadi sosok potensial. Mereka masih dikehendaki oleh responden dengan angka yang juga tinggi walau di bawah calon petahana," ujar Mahatva Yoga Adi Pradana.

Bila hal ini terwujud pada nantinya, maka dipastikan pilkada Kabupaten Malang akan terbilang ramai dan panas serta dimungkinkan juga akan diikuti oleh 4 pasang calon bupati dan wakil bupati. Dari PDI Perjuangan, PKB, dan NasDem, Golkar yang dimungkinkan berkoalisi dengan parpol lainnya, serta pasangan dari jalur independen.