https://risetcdn.jatimtimes.com/images/2020/02/28/Andalkan-Bantuan-Tangki-Air--PDAM-Dinilai-Tak-Kreatif-Atasi-Krisis-Air-Bersih68f2d6e76320c6d5.jpg
https://risetcdn.jatimtimes.com/images/2020/02/28/Andalkan-Bantuan-Tangki-Air--PDAM-Dinilai-Tak-Kreatif-Atasi-Krisis-Air-Bersih68f2d6e76320c6d5.jpg

MALANGTIMES - Penderitaan sebagian masyarakat Kota Malang yang mengalami krisis air masih terus berlanjut.  

Selama kurang lebih dua bulan ke depan atau lebih tepatnya sekitar 50 hari, masyarakat tetap masih belum bisa merasakan pelayanan maksimal dari PDAM Kota Malang.

Hal itu lantaran PDAM masih melakukan peggantian jaringan pipa di kawasan Pulungdowo Kabupaten Malang. 

Lamanya proses pergantian jaringan pipa tersebut, semakin hari semakin membuat masyarakat menjerit, dimana air sangat mereka butuhkan.

Salah satunya adalah Sulin (42) warga Jalan KH Malik Dalam, Baran Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang yang mencurahkan jeritan hatinya soal krisis air PDAM ini. 

Meskipun saat ini air PDAM tak setetespun air mengalir di rumahnya, tagihan rekening PDAM masih terus berjalan. Hal ini membuat dirinya cukup miris hati dan merasa keberatan akan hal tersebut. 

"Tagihanne tetap ada mas, tetap mbayar. Kalau rakyat seng salah dituntut, tapi lek kono seng salah meneng ae. Lek ngono a pemerintah iku (kalau rakyat yang salah dituntut, tapi kalau sana (pemerintah/PDAM) yang salah diam saja), kan begitu pemerintah itu," ungkapnya.

"Aku gak tau telat mas bayare, gak wani telat, nko telat didendo (saya tidak pernah telat bayar (rekening PDAM). Nggak berani telat, nanti telat kena denda," tambahnya. 

Selain permasalahan iuran yang tetap ada, kendati air tak mengalir, pihaknya juga harus menyiapakkan budget untuk membeli air, yang tiap satu curigen seharga Rp 1.000. 

Ia pun berharap agar ada keringanan berupa pembebasan tagihan selama air macet.

"Ya kerugian biaya juga, harus beli air lagi. Meskipun nilainya kecil, tapi kalau untuk kami yang itu lumayan besar," ungkapnya.

Terlebih lagi, selain biaya membeli air untuk kebutuhan sehari-hari, ia pun harus merogoh kocek lagi untuk membeli air guna kebutuhan dua ternak sapinya. 

Dalam sehari saja, sapi miliknya memerlukan air sekitar 35 liter untuk minum. 

Sementara ia sendiri memiliki dua sapi sehingga dalam sehari total 70 liter air dibutuhkan Sulin. 

"Daripada mati air lebih baik mati listrik setahun. Soalnya banyak kebutuhan kami yang memakai air. Yang jelas ya harapannya bisa segera nyala lagi mas airnya tidak jebol lagi," ungkapnya saat ditemui di rumahnya.

Sementara itu, warga lain yakni Sukmaning Tyas (50) warga Perum Griya Telaga Permai, ditemui ketika mengisi air pada hydrant di kawasan Kedungkandang, mengharapkan agar proses pekerjaan penggantian pipa bisa selesai tepat waktu dan tidak ada keterlambatan lagi.

Sebab, jika terjadi keterlambatan lagi, tentunya masyarakat yang akan menjadi korban.

"Ya kalau misal 60 hari ya 60 hari, jangan molor. Biar nanti bisa segera digunakan warga," pungkasnya.

Warga lain yakni Ika Yuliana (34) juga mengungkapkan jeritan harinya prihal matinya air PDAM ini. Ia menilai bantuan tangki dari PDAM selama ini dirasa tidaklah maksimal. 

Hal tersebut lantaran karena ketika tangki datang pun tak bisa mengcover rumah per rumah warga. 

Warga masih harus mendatangi tangki dan mengangkat air untuk dibawa ke masing-masing rumah.

"Kita masih harus mengangkat air, memakan waktu. Belum lagi yang kerja tentu tidak bisa mengambil air, yang di rumahpun juga sibuk mengurus anak ataupun mengerjakan yang lain. Ini kan menghambat," ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, PDAM sendiri harusnya juga tak tinggal diam dengan memberikan opsi lain. 

Misalnya rekayasa jaringan ataupun opsi lain yang itu bisa meringankan permasalahan warga yang lama menderita akibat krisis air bersih.

Selian itu, pihaknya juga menyayangkan adanya iuran rekening bulanan PDAM yang tetap ada, meskipun air di rumahnya tidak mengalir sama sekali.

"Tapi misalkan rekayasa jaringan nggak bisa atau lama, ya kasihlah opsi lain. Misalkan tandon besar tiap blok, kemudian langsung dialirkan ke rumah-rumah itu kan lebih maksimal, lebih membantu," usulnya.