Suasana saat warga RW 09 Perumahan Joyogrand tengah memasok air dari tangki PDAM Kota Malang, Kamis (14/11) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Suasana saat warga RW 09 Perumahan Joyogrand tengah memasok air dari tangki PDAM Kota Malang, Kamis (14/11) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Minggu kedua Januari 2020, hujan menghiasi Kota Malang hampir setiap hari. 

Namun, Apriliani mangkel. Warga Perumahan D'Rich Garden, Kelurahan Lesanpuro Kecamatan Kedungkandang itu mendapati layanan air di rumahnya mampet.

Baca Juga : Dewan Nilai Dirut PDAM Tak Penuhi Kompetensi, Usul Konkret Dicopot

Sebulan lebih, air tak mengalir lancar di rumahnya. Padahal sebagai ibu rumah tangga, air bersih merupakan kebutuhan utama. 

Baik untuk konsumsi, mandi, mencuci, dan lain-lain. Perempuan ini merupakan pelanggan Perumda Tugu Tirta, yang dulu bernama PDAM Kota Malang. 

Hingga Rabu (26/2/2020), air juga masih belum mengalir. 

"Masih macet. Total berapa hari air mati sudah lupa, saking suwene (karena sudah terlalu lama), sebulan lebih. Macet nggak mengalir blas (sama sekali)," ujarnya. 

Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, dia dan suaminya mesti bergantian mengambil air di tangki air yang dikirim Perumda Tugu Tirta ke perumahan tempat dia tinggal. 

"Ngambil dari tandon portable pakai galon, tetap butuh tenaga," tuturnya. 

Menurut Apriliani, saat ramai diberitakan soal krisis air hingga menjadi perhatian Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak, air sempat menyala. 

Namun, dia kembali terkejut ketika tagihan bulanannya tetap sama dengan bulan-bulan ketika air mengalir wajar. 

"Sempat nyala sehari. Lumayan lancar. Tetapi sekarang macet lagi. Herannya kok tagihan tetap, sekitar Rp 60-70 ribu per bulan seperti biasa meski mati berminggu-minggu," sebutnya. 

Jika Apriliani heran karena tagihannya tetap, Sisca, warga lain justru terkejut sekaligus tak habis pikir. 

 

Sisca mengeluh lantaran tagihan pemakaian air bersih miliinya naik dua kali lipat. Padahal, tagihan yang harus ia bayarkan di Februari ini adalah untuk pemakaian di Januari.

"Bulan lalu saya habis sekitar Rp 43 ribuan, Februari ini saya ditagih Rp 93 ribu. Padahal air saya kan macet kemarin, nggak ngalir," katanya kesal.

Baca Juga : Pipa Terus Bocor, Wali Kota Malang Sutiaji Beri Komentar Ini

Dia pun merasa sangat dirugikan. Pasalnya, selama ini ia merasa menjadi salah satu korban krisis air. 

Tak hanya harus ngangsu air ke rumah teman saja, selama sebulan terakhir dia juga harus merasakan numpang mandi di kosan atau rumah teman saat akan berangkat kerja.

Kejadian krisis air di musim penghujan ini tidak hanya dirasakan Apriliani dan Sisca. Puluhan ribu warga Kota Malang pelanggan Perumda Tugu Tirta pun terimbas. 

Pihak Perumda Tugu Tirta berdalih soal kerusakan teknis. Namun, di luar itu semua, MalangTIMES kali ini menuliskan laporan khusus mengenai kronik permasalahan di perusahaan daerah plat merah ini. 

Masalah yang tumpang tindih tak terselesaikan, mulai dari peremajaan infrastruktur, sumber air, kebocoran air, tagihan pelanggan yang tak sesuai, hingga soal aliran keuangan Perumda Tugu Tirta. 

Banyak dugaan yang muncul, apakah faktor teknis menjadi semata-mata kambing hitam atas buruknya manajemen? Ataukah segala sial yang melanda pelanggan Perumda Tugu Tirta dianggap hanya imbas balak setelah ganti nama?

Yang pasti, selama PDAM Kota Malang berdiri hingga berganti nama menjadi Perumda Tugu Tirta, kiris air bersih berkepanjangan yang terjadi beberapa bulan terakhir dicatat oleh masyarakat khususnya para pelanggan sebagai potret pelayanan paling buruk sejak perusahaan daerah ini dinahkodai M Nor Muhlas. 

Lalu, bagaimana tanggapan sejumlah tokoh publik, pakar, wakil rakyat, hingga warga lain selain Apriliani yang berbulan-bulan menjadi korban krisis air bersih di Kota Malang? 

Simak selengkapnya dalam rangkaian laporan khusus Kekeringan di Musim Hujan Kota Malang.