Salah satu sumber mata air di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Salah satu sumber mata air di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berkurangnya jumlah mata air, menjadi keprihatinan tersendiri bagi Pemkot Batu. Karena itu agar tidak semakin tergerus Pemkot Batu mengalokasikan anggaran Rp 30 miliar.

“Anggaran Rp 30 miliar itu bukan hanya untuk sumber mata air, tapi untuk melindungi lingkungan di Kota Batu. Yang sudah kami buat untuk 5 program,” kata Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. 

Ia menambahkan kondisi sumber mata air di Kota Batu terus berkurang, sehingga ke depan perlu dilakukan dengan Pelestarian Kawasan dan Perlindungan Sumber Mata Air dengan anggaran Rp 2,5 miliar.

Kemudian untuk program pelestrian penghijauan DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas bagian hulu, dengan menganggarkan sebesar Rp 2 miliar. Anggaran itu digelontorkan untuk menjaga DAS dibagian hulu. 

“Kita harus menjaga kelestarian air kita, sumber, DAS dari hulu perlu dijaga, karena ini menyangkut banyak orang bukan hanya warga Kota Batu tapi juga daerah lainnya,” ucapnya.

Menurutnya dari anggaran Rp 30 miliar itu program yang menyerap  anggaran paling besar adalah pemberian TPST 3R (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Reduce, Recycle, dan Reuse) untuk 24 Desa dan kelurahan Kota Batu. Kurang lebih menggelontorkan anggaran sebesar Rp 10,5 miliar. 

“Ini untuk menekan sampah yang masuk di TPA Tlekung. Jadi sebelum dibuang di sana akan diolah dulu di masing-masing desa,” jelas istri Eddy Rumpoko ini. 

Juga revitalisasi TPA Tlekung yang menghabiskan Rp 4,5 miliar. Lalu juga untuk merealisasikan rencana pembangunan Gedung Museum Air dan Kantor PDAM.

“Agar wisatawan yang datang ke Kota Batu bisa diberikan edukasi dalam pengelolaan air. Dan semoga dengan upaya program ini kelestarian alam Kota Batu terjaga,” tutupnya.