Pedagang saat beraktivitas di Pasar Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Pedagang saat beraktivitas di Pasar Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Untuk memenuhi target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 167 miliar, beragam upaya bakal dilakukakan. Salah satunya dengan melakukan menaikkan tarif retribusi pasar.

Melihat retribusi pasar hingga saat ini, atau sudah 9 tahun terakhir belum diperbarui. 

Hingga saat ini ancang-ancang kenaikan itu masih dalam kajian.

“Masih dalam tahapan ancang-ancang kenaikan retribusi ini. Kenaikan itu akan dilakukan dengan memaksimalkan fasilitas-fasilitas untuk kenyaman pedagang di sana,” ungkap Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso.

Ia menambahkan, Pemkot Batu masih dalam tahapan mengkaji, kenaikan itu akan dilakukan pada kios tertentu atau untuk semua golongan.

Melihat dalam Perda Nomor 16 Tahun 2010 tentang Retribusi Pelayanan Pasar, tarif retribusi pasar terbagi menjadi tiga golongan.

Untuk golongan A seperti kios perhiasan ditarik Rp 200 per meter persegi, kemudian Golongan B untuk toko tekstil dan plastik ditarik Rp 160 per meter persegi, sedangkan untuk golongan C seperti toko kue dan ikan basah ditarik Rp 120 per meter persegi.

Para pedagang itu membayar retribusi tersebut setiap harinya, terbagi untuk pelataran, kios, dan los. 

“Saat ini pedagang membayar sesuai dengan retribusi tersebut. Semoga dengan dinaikkannya retribusi tersebut bisa mengangkat PAD,” ucapnya.

Sedang pada tahun 2019, retribusi pasar pelataran dengan target Rp 580 juta bisa terealisasi Rp 592 juta. 

Lalu untuk los dari target Rp 8,3 juta tercapai Rp 29 juta. Kemudian etribusi kios dari target Rp 425 juta. Namun hanya terealisasi Rp 318 juta.