Wali Kota Malang Sutiaji. (Foto: Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji. (Foto: Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Meski telah menyandang status sebagai Kota Layak Anak, kasus kekerasan, pelecehan, eksploitasi, hingga tindak pidana yang melibatkan anak masih saja terjadi di Kota Malang. Beberapa tahun terakhir ini, publik mendapati kasus-kasus kekerasan pada anak hingga beberapa di antaranya harus menghembuskan napas terakhir.

Kekerasan yang dialami anak semakin beragam, baik secara fisik maupun psikis. Mirisnya, kejadian ini tidak hanya terjadi di lingkup keluarga saja. Melainkan, merambah ke ranah sekolah.

Padahal, berdasar Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: adanya diskriminasi; adanya eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; adanya penelantaran.

Sekolah sebagai tempat yang seharusnya menjadi media pembelajaran siswa itu seakan tercoreng dengan aksi-aksi kekerasan. Saat ini, di Kota Malang salah satu pelajar kelas VII berinisial MS di SMPN 16 diduga mengalami perundungan atau bullying.

Aksi tersebut kabarnya dilakukan oleh tujuh temannya, hingga menjadikan korban harus menjalani operasi amputasi jari tengah tangan kanannya. Tak hanya itu, kondisi tubuh lainnya juga mengalami lebam, yakni di bagian kaki, punggung, dan tangannya.

Kasus di awal tahun 2020 ini, seakan menjadikan predikat kota pendidikan ini tercoreng. Apalagi, Kota Malang tengah mempertahankan status sebagai Kota Layak Anak.

Menanggapi itu, Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan kejadian ini pasti akan berpengaruh dalam penilaian Kota Layak Anak. Pihaknya juga menyayangkan adanya tindakan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah.

"Ini mesti berpengaruh pada penilaian Kota Layak Anak, tapi mudah-mudahan ini yang terakhir," ujarnya belum lama ini.

Apalagi, kasus ini bukan kali pertama terjadi. Di tahun sebelumnya, kasus kekerasan anak dialami siswi SDN Kauman 3 yang mendapatkan pelecehan seksual dari gurunya. Kemudian, kasus penganiayaan orang tua yang berujung kematian bocah berusia 3 tahun di kawasan Kedungkandang, Kota Malang.

Politisi Demokrat ini berharap, kasus-kasus kekerasan terhadap anak tidak akan pernah terjadi lagi di Kota Malang. Pihaknya menginginkan ada pembinaan bagi semua sekolah untuk bisa memberikan tempat pengajaran yang sesuai, aman dan nyaman bagi siswa sekolah.

"Mudah-mudahan ini tidak menjadikan bobot Kota Layak Anak berkurang, harapan kami ini harus tetap kita kuatkan. Dengan kejadian ini, seharusnya ada tidak ada kejadian maka harus dilakukan pembinaan. Sehingga tidak ada lagi kejadian kekerasan yang terulang," tandasnya.