Terdakwa pembunuh begal (seragam abu-abu pakai topi dan masker) saat menuju ruang persidangan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Terdakwa pembunuh begal (seragam abu-abu pakai topi dan masker) saat menuju ruang persidangan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jauh sebelum ZA (inisial) pelaku pembunuh begal memilih pindah sekolah, pelajar yang saat ini duduk di bangku kelas XII SMA (Sekolah Menengah Atas) tersebut, ternyata pernah terancam dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap membuat pelanggaran berat.

Dari penelusuran MalangTIMES.com, remaja belasan tahun itu pernah terancam dikeluarkan dari sekolah lantaran statusnya yang sudah menikah. ”Dulu pernah ada kasus, kalau skor-nya sudah tinggi kasus itu. Akhirnya pada saat Kelas XI dulu kami meminta agar dia (ZA) membuat surat pernyataan. Dalam klausul pernyataan tersebut, yang bersangkutan siap dikeluarkan dari sekolah jika kembali membuat kesalahan,” ungkap salah satu pihak sekolah yang harus kami sembunyikan identitasnya demi alasan keamanan.

Perlu diketahui, ZA saat ini sudah tidak menjadi siswa di salah satu SMA di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Atas dasar berbagai pertimbangan, termasuk konsekwensi dalam surat pernyataan yang dibuat, membuat pelajar kelas XII itu akhirnya memilih opsi untuk pindah ke sekolah swasta yang ada di Kecamatan Pagelaran.

Berawal dari sini, MalangTIMES.com mencoba mencari kebenarannya dari mantan kepala sekolah ZA. Namun saat ditanya perihal surat pernyataan dibuat karena pelanggaran apa, yang bersangkutan memilih untuk tidak menjelaskan secara gamblang. ”Saat itu harusnya dikeluarkan, tapi karena beragam pertimbangan akhirnya kami terima kembali. Tapi dengan catatan tidak mengulangi kesalahannya lagi,” kata Kepala Sekolah tersebut.

Dari hasil penelusuran wartawan, ZA diketahui menikah dengan teman sekelasnya. Saat itu si istri terpaksa harus dikeluarkan dari sekolah, sedangkan ZA masih tetap berstatus pelajar di sekolah tersebut. Saat ini, remaja belasan tahun itu sudah dikaruniai satu orang anak yang berusia sekitar 1 tahun.

Namun, meski sudah berstatus sebagai pasutri (pasangan suami istri), keduanya tidak tinggal satu rumah. Si istri ZA dan anaknya, kebanyakan memilih untuk tinggal bersama orang tuanya yang ada di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Sekitar satu tahun setelah kejadian tersebut, surat pernyataan yang tertuang dalam materai 6000 itu kembali muncul saat ZA terjerat kasus pembunuhan begal. ”Atas dasar itu, keluarganya datang ke sekolah dan meminta untuk keluar dari sekolahan. Tapi kami perhalus agar bisa pindah sekolah, harapan kami agar anak itu masih bisa menunaikan pendidikannya. Tetap bisa belajar sampai lulus sekolah (SMA),” jelas kepala sekolah ZA.

Status ZA yang sudah menikah itu kembali mencuat setelah dirinya sering mendatangi PN (Pengadilan Negeri) Kepanjen untuk menjalani persidangan kasus pembunuhan begal. Bahkan saat disinggung perihal statusnya oleh Kepala Plt. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Hariyono. ZA mengiyakan pertanyaan sensitif tersebut. ”Iya sudah menikah, pada awal tahun 2019 lalu,” kata ZA sambil menganggukkan kepala.

Status ZA yang sudah berkeluarga juga menjadi pertimbangan bagi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam. Menurut Surono selaku sekertaris sekaligus pengurus harian LKSA Darul Aitam, status ZA yang sudah menikah bakal menjadi pembahasan saat musyawarah sebelum menerima pelajar kelas XII SMA itu sebagai santri binaan.

”Setahu saya dia (ZA) sudah menikah. Jika benar akan dibawa ke sini (LKSA) Darul Aitam, tentunya akan kita musyawarahkan dulu terkait background-nya, dan kasus hukumnya,” tukas Surono kepada wartawan saat ditemui MalangTIMES.com di kantornya, Rabu (22/1/2020).