Rektor UIN Maliki Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Humas)
Rektor UIN Maliki Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Saat ini, Indonesia sudah memasuki era industri 4.0 dimana perubahan terjadi begitu cepat. Bahkan, merambah kepada proses pembelajaran.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Prof Dr Abdul Haris MAg menyampaikan, di era disrupsi ini, perguruan tinggi, khususnya UIN Malang, harus mengikuti arah perubahan. Kalau hal ini tidak dilakukan ia khawatir perguruan tinggi akan bernasib sama seperti Nokia dan Kodak.

Baca Juga : Ungkapan Mahasiswa Asing UIN Malang yang Terisolasi di Kampus

"Kalau kita tidak mengadaptasi perubahan maka kita kita kuatir bahwa perguruan tinggi nasibnya seperti yang dialami oleh Nokia dan Kodak. Meskipun dua perusahaan ini sesungguhnya telah menjaga dan mengawal kualitas, tetapi tidak mampu untuk beradaptasi dengan perkembangan di era disrupsi ini, maka kedua perusahaan ini ditinggalkan oleh pengguna jasanya," paparnya dalam acara pengukuhan guru besar di gedung rektorat lantai 5 UIN Malang belum lama ini.

Oleh karena itu, ditegaskan Haris, UIN Malang siap mengikuti dan mengadaptasi perubahan di era disrupsi ini. Salah satunya yakni dengan memanfaatkan artificial intelligent (kecerdasan buatan) dan Massive Open Online Courses dalam proses pembelajaran.

"Dua poin ini menjadi dasar untuk melakukan revolusi pembelajaran," ucapnya.

Meskipun, lanjutnya, menurut teori pendidikan Islam, seharusnya dalam pendidikan itu bukan hanya ada transfer of knowledge namun juga transfer of value, terutama nilai-nilai Islam.

"Yang seringkali tidak mampu dilakukan melalui kecerdasan buatan dan melalui massive open online courses itu," imbuhnya.

Prof Haris menambahkan, pada tahun 2020, UIN Malang sendiri sudah merancang bahwa kegiatan pembelajaran bisa dilakukan dengan tatap muka langsung dan e-learning.

Sementara untuk saat ini, rasio pembelajaran tatap muka dan e-learning di UIN Malang masih 70 persen tatap muka langsung dan 30 persen e-learning.

"Tapi untuk Fakultas Tarbiyah dalam program PPG telah melakukan daring. Jadi sesungguhnya kalau ini kita lihat dalam konteks untuk proses transformasi dalam pembelajaran, UIN maulana malik ibrahim ini telah mengadaptasi dengan perkembangan," tegasnya.

Baca Juga : Tatkala Tiba-tiba Ada Orang Kejang di Kampus UIN Malang

Kepada seluruh civitas academica UIN Malang, Prof Haris menyampaikan bahwa pembelajaran berbasis online ini adalah suatu kemudahan bagi dosen. Sebab dosen bisa mengajar di mana saja dan kapan saja. Dan untuk memperkuat hal ini, rencananya, ke depan dosen akan dipantau dengan sistem tertentu agar kegiatan pembelajaran tetap dijalankan sesuai ketentuan dan target.

"Bahkan saya sampaikan kepada pak Warek 1 kalau bisa bukan 70-30, tetapi mungkin 60 persen tatap muka di kelas, 40 persen bisa dilakukan dengan menggunakan IT," timpalnya.

Dengan mengikuti perkembangan ini, Haris berharap UIN Malang ke depan dapat cepat berkembang menjadi lebih baik lagi

"Dan bahkan menjadi World Class University sebagaimana yang kita idam-idamkan," tandasnya.