CH (tengah baju oranye) tersangka kasus pencabulan dan pemalsuan ijazah saat digelandang menuju ruang penyidikan Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
CH (tengah baju oranye) tersangka kasus pencabulan dan pemalsuan ijazah saat digelandang menuju ruang penyidikan Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - ”Iya, saya kelainan. Saya biseksual (suka dengan sesama jenis dan lawan jenis),” ungkap tersangka CH, saat ditanya terkait motifnya sehingga tega mencabuli sedikitnya 18 orang muridnya, Sabtu (7/12/2019).

Di hadapan awak media, pria kelahiran 18 November 1981 itu mengaku mulai tertarik dengan laki-laki sejak dirinya duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas). ”Saya bergejolak mulai SMA, tiba-tiba perasaan itu (biseksual) muncul,” terang CH yang sudah membina keluarga dan dikaruniai seorang anak ini.

Baca Juga : Napi yang Bebas Kembali Berulah, Yasonna Laoly Ambil Tindakan Tegas Ini

Namun demikian, meski sejak SMA sudah mengalami biseksual, namun CH remaja tidak sampai melampiaskan hasratnya kepada sesama jenis. Hal itu diakuinya bertahan hingga dirinya masuk ke perguruan tinggi dan beranjak dewasa. Bahkan, CH juga sempat memutuskan menikah dengan perempuan tulen dan memiliki seorang anak.

Baru setelah dirinya diterima kerja di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 4 Kepanjen, keinginannya untuk melampiaskan kebutuhan biologis kepada sesama jenis tak bisa terbendung.

Dari pendalaman MalangTIMES.com, tersangka sudah mencabuli sedikitnya 18 orang siswanya. Bahkan jumlah korban diperkirakan bertambah, setelah polisi mendapat keterangan jika aksi pencabulan berjalan selama 2 tahun lamanya. Parahnya lagi dalam 1 bulan, CH bisa mencabuli 1 hingga 3 orang muridnya.

”Seingat saya hanya 18 anak (korban),” kata CH dengan kaki gemetar dan sura lirih yang disertai genangan air mata di kedua kelopak matanya tersebut.

Perlu diketahui, belasan korban yang ‘disantap’ tersangka ini semuanya merupakan pelajar pria. Parahnya lagi, setiap kali mencabuli korban, CH juga mengaku memiliki kepuasan tersendiri.

Maklum saja, para pelajar yang ‘dinikmati’ tersangka merupakan remaja pilihan. Selain memiliki paras tampan dan rupawan. Pria 38 tahun itu, juga memilih beberapa siswa dari muridnya yang berprestasi. Baik yang menonjol di bidang akademik maupun non akademik. ”Iya (saya menikmatinya),” kata CH singkat sembari terus menundukkan kepala di sepanjang sesi rilis berlangsung.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, tersangka CH diringkus anggota Satreskrim Polres Malang, pada Jumat (6/12/2019). Dia diamankan petugas karena melakukan pencabulan terhadap 18 orang muridnya.

Modusnya, tersangka mengaku sedang melakukan penelitian terkait kenakalan remaja. Dalam tugas yang diakui merupakan tuntutan disertasi tersebut, CH mengaku membutuhkan sampel berupa sperma, bulu kemaluan, bulu ketiak, bulu kaki, hingga ukuran alat vital.

Baca Juga : Edarkan Sabu di Tengah Pandemi Covid-19, Pengedar Asal Malang Dicokok Polisi Blitar

Dengan bujuk rayunya, tersangka meminta tolong kepada korban agar bersedia dijadikan objek penelitian. Setelah terperdaya, korban yang masih mengenakan seragam usai jam sekolah selesai itu dibuka pakaian dan celana dalamnya oleh tersangka.

Kemudian CH akan menyuruh korban untuk berbaring di atas sofa yang ada di ruang guru BK. Tidak lama setelahnya, tersangka akan merangsang kemaluan korban hingga klimaks (mengeluarkan sperma).

Setelah itu terjadi, korban akan disumpah di bawah kitab suci dengan maksud agar tidak menceritakannya kepada orang lain, jika dirinya pernah dijadikan ‘objek’ penelitian.

Dari hasil pengembangan, penyidik kepolisian menemukan fakta baru jika ternyata ijasah yang digunakan tersangka CH, saat melamar sebagai guru di SMPN 4 Kepanjen pada bulan Desember 2015 lalu, ternyata palsu.

Akibat perbuatannya tersebut, tersangka CH diancam kurungan penjara maksimal 20 tahun. Yakni sesuai dengan ketentuan yang terlampir dalam pasal 82 ayat 1 dan 2 juncto pasal 76E Undang-undang nomor 35 tahun 2014 dan pasal 294 KUHP, tentang perlindungan anak dan pencabulan. Serta pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat.