ilustrasi para korban pelecehan terhadap pelajar SMP negeri di Kabupaten Malang
ilustrasi para korban pelecehan terhadap pelajar SMP negeri di Kabupaten Malang

MALANGTIMES - Terdapat fakta baru dari kasus dugaan pelecehan dan pencabulan yang dialami belasan pelajar di Kabupaten Malang. Modus yang digunakan terduga pelaku, CH (inisial) ternyata tidak hanya untuk penelitian pendidikan S-3 saja. Melainkan juga mengajak para korban untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.

”Dulu waktu masih awal masuk SMP, diajak untuk ikut kegiatan modelling. Meski saya tolak, dia (CH) terus memaksa. Akhirnya terpaksa saya mau ikut,” kata salah satu korban.

Baca Juga : Miris, Pesta Seks dan Balapan Liar Masih Terjadi di Tengah Pandemi Covid-19

Setelah mengikuti beberapa kali pertemuan, lanjutnya, suatu ketika saat korban hendak pulang kegiatan modelling, dirinya dihadang CH yang kemudian diajak untuk masuk ke dalam ruangannya. Yakni di ruang guru BK (Bimbingan Konseling). ”Setelah masuk ruangan, pintu, jendela, dan selambu langsung ditutup,” celetuknya.

Didalam ruangan yang sepi tersebut, korban kemudian dicerca dengan beragam pertanyaan. Diantaranya terkait dimana alamat rumah dan pekerjaan orang tuanya. ”Setelah ditanya-tanya, dia (CH) minta tolong kepada saya untuk membantu tugas S3-nya,” ungkapnya.

Kepada korban, CH mengaku membutuhkan sperma dan bulu kemaluan untuk dijadikan objek penelitian. Bahkan, terduga pelaku juga mengaku jika perlu mengukur alat kelamin korban guna kepentingan tugasnya tersebut.

”Sebenarnya saya sudah tidak mau, tapi karena ruang BK keadaan tertutup dengan terpaksa saya akhirnya bilang mau,” sambung korban seolah menyatakan dirinya ketakutan saat itu.

Mendapat jawaban tersebut, CH langsung menyuruh korban untuk tidur diatas meja. Setelah itu, celana korban dibuka sebelum akhirnya kemaluannya dipegang dan dirangsang berulang-ulang kali.

”Saya digituin sebanyak 3 kali, kejadiannya terjadi dalam satu tahun,” kata korban yang saat ini sudah duduk dibangku kelas VIII SMP tersebut.

Setiap kali dijadikan ‘objek’ penelitian, korban mengaku jika dirinya dipaksa untuk mengalami klimaks (keluar sperma). ”Soalnya kalau gak keluar (klimaks) tidak boleh keluar ruangan BK, akhirnya terpaksa saya bersedia digitukan sampai keluar,” ucapnya.

Setelah kejadian memilukan itu terjadi, korban selalu disumpah agar tidak menceritakannya kepada orang lain. ”Dulu saya kira kalau penelitian S3-nya sudah mendapat ijin, tapi ternyata cuma abal-abal. Semuanya hanya palsu, alasan saja. Harapannya agar dia (CH) dihukum seberat-beratnya,” tegas korban dengan nada geram.

Seperti yang sudah diberitakan, CH dilaporkan ke Polres Malang dengan dugaan kasus pencabulan kepada 18 siswanya yang kesemuanya merupakan pelajar pria. Laporan tersebut diterima pihak kepolisian pada awal pekan lalu, Selasa (3/12/2019).

Baca Juga : Terkuak, Suami Ini Tega Bunuh Istrinya karena Rebutan Hasil Penjualan Tanah

Perlu diketahui, CH ini merupakan GTT (Guru Tidak Tetap) di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 4 Kepanjen. Disana, pria 38 tahun tersebut mengajar pelajaran BK (Bimbingan Konseling).

Aksi tidak senonoh itu, diduga kuat terjadi sejak satu tahun lalu, tepatnya pada bulan Juni 2018. Dari belasan siswa yang menjadi korban, diantaranya ada yang dilecehkan dan dicabuli CH sebanyak 3 kali. Yakni sejak korban masih duduk dibangku kelas VII SMP dan kini yang bersangkutan sudah duduk dibangku kelas VIII.

Belasan korban tidak dicabuli secara bersamaan, namun bergantian. Modus yang digunakan CH, adalah dengan cara memanggil korban untuk masuk ke ruangannya. Setelah menutup pintu dan slambu, terlapor mengaku jika dirinya sedang melakukan penelitian untuk program studi lanjutan S-3 dan membutuhkan bantuan para siswa.

Setelah disumpah, para korban langsung ditelanjangi yang kemudian di rangsang kemaluannya oleh terlapor. Mirisnya lagi, aksi pelecehan dan pencabulan itu baru berhenti setelah korban yang di onani mengalami klimaks (mengeluarkan sperma).

Modus semacam itu dilakukan kepada semua korban. Kasusnya baru terbongkar setelah salah satu korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada keluarganya. Merasa tidak terima, kejadian ini akhirnya dilaporkan ke Polres Malang.

Hingga berita ini ditulis, polisi masih mendalami kasusnya. Termasuk memburu keberadaan pelaku dan menggali keterangan dari beberapa saksi. Keterangan para saksi itu rencananya digunakan penyidik untuk mengungkap motif terlapor, yang membuat dirinya tega melecehkan dan mencabuli muridnya.