Ilustrasi pemimpin yang diharapkan masyarakat (Ist)
Ilustrasi pemimpin yang diharapkan masyarakat (Ist)

MALANGTIMES - Bagi para calon Bupati Malang yang akan bertarung di Pilkada 2020 datang, patut tentunya untuk mencermati harapan besar masyarakat Kabupaten Malang sebagai pemilihnya nanti. 

Harapan-harapan itu, tentunya akan menjadi bagian dalam indikator pemenangan para calon bupati. Meskipun hingga saat ini, belum terlihat ada calon yang secara resmi diumumkan oleh partai politik (parpol) di Kabupaten Malang.

Baca Juga : Dewan Dorong Pemkot Malang Salurkan Bantuan Sembako bagi Warga Terdampak Covid-19

Lepas masih alotnya komunikasi politik itu, bocoran harapan masyarakat Kabupaten Malang yang akan menjadi pemilih para calon nantinya, telah disampaikan oleh berbagai kalangan. Salah satunya adalah dari hasil survei Laboratorium Politik dan Rekayasa Kebijakan (LaPoRa) Universitas Brawijaya (UB).

Melalui pendekatan atau parameter pada pilkada 2010 dan 2015, para peneliti dari LaPoRa UB menyampaikan beberapa bocoran terkait harapan-harapan masyarakat Kabupaten Malang terhadap calon bupatinya.

Yakni, sekitar 40,63 persen masyarakat Kabupaten Malang mengharapkan calon bupatinya dekat dengan rakyat kecil. Kedekatan itu menjadi paramater dengan nilai tertinggi di pilkada 2010.

Bahkan tahun 2015 lalu pun calon yang memiliki kedekatan dengan rakyat kecilnya, mengalami kenaikan persentase. Dari 40,63 persen tahun 2010 menjadi 50,5 persen di Pilbup 2015 lalu.

"Data itu memperlihatkan harapan besar masyarakat memiliki pemimpin yang dekat dengan rakyatnya di dua pilbup yang lalu. Ini juga kita prediksi tak jauh berbeda nantinya di tahun 2020," ucap Oni Dwi Arianto, Koordinator Kelas Ilmu Komunikasi Politik dan Media yang memaparkan hasil survei LaPoRa UB.

Selain faktor kedekatan calon dengan rakyat kecil, indikator lain yang jadi harapan selama dua kali Pilbup Malang adalah terkait sosok pemimpin yang memiliki 'kesolehan' dengan persentase 20,44 persen. Diikuti calon yang memiliki pengalaman jabatan formal di pemerintahan dengan persentase 17,27 persen.

Indikator ini telah terbukti dalam dua periode kepemimpinan Rendra Kresna saat menjabat sebagai Bupati Malang. Yakni kedekatan dengan rakyat, pengalaman di pemerintahan, serta unsur lainnya saat itu mampu merebut perhatian masyarakat Kabupaten Malang.

Baca Juga : Menkopolhukam Mahfud MD Tegaskan Tak Ada Remisi Bagi Koruptor di Tengah Covid-19

LaPoRa UB juga tak lupa merilis beberapa indikator lainnya bagi para calon yang akan maju dan menginginkan jadi bupati Malang 2020 datang. Misalnya, terkait paramater calon yang mampu merangkul semua kalangan dan sifat kejujuran dengan prosentase di tahun 2010 mencapai 63,75 persen. Walau di tahun 2015 untuk indikator ini turun cukup drastis menjadi 21,8 persen.

Mengejutkan adalah parameter pemimpin yang suka membantu dan mementingkan masyarakat atau kepentingan umum dengan nilai harapan yang naik cukup tinggi juga. "Sifat mengutamakan kepentingan umum naik dari 17,52 persen di tahun 2015 dibandingkan 2010 yang hanya 13,3 persen. Sedangkan pemimpin yang suka membantu dari 1,46 persen jadi 11,6 persen," ujar Oni.

Selain itu, adanya penurunan persentase indikator popularitas yang sampai saat ini disebutkan sebagai bagian dari kriteria para parpol untuk mengusung calonnya di tahun 2020.

"Popularitas turun menjadi 33,3 persen pada November 2015 lalu. Sebelumnya, persentase popularitas berada di angka 57,5 persen. Sedangkan kapasitas teknis dan integritas seorang calon yang angkanya naik dan jadi tren di dua pilbup lalu," tandas Oni.