Pengujian struktur eksisting jembatan muharto
Pengujian struktur eksisting jembatan muharto

MALANGTIMES - Pemerintah Kota Malang pastikan penanganan Jembatan Muharto akan dilaksanakan pekan ini. Pemasangan penyangga dengan sistem retrofitting akan dilaksanakan untuk memastikan kekuatan jembatan aman.

Pemasangan penyangga itu merupakan rekomendasi tim forensik Universitas Brawijaya (UB) Malang yang sudah bekerjasama dengan Pemkot Malang sejak diketahui terdapat keretakan pada jembatan.

Kepala Dinas PUPR Kota Malang Hadi Santoso menyampaikan, retrofitting itu sendiri merupakan metode atau teknik untuk melengkapi bangunan dengan memodifikasi atau me-restore dengan menambah bagian atau peralatan baru yang dianggap perlu karena tidak tersedia pada saat awal pembuatannya.

Teknik retrofitting bertujuan untuk menyesuaikan kondisi atau keperluan baru terhadap bangunan seperti memperbaiki bangunan yang rusak, memperkuat bangunan, menambah ruangan dan lain sebagainya, tanpa harus membongkar total bangunan yang sudah ada.

"Minggu ini kami akan lakukan penanganan," kata pria yang akrab disapa Sony itu melalui keterangan tertulis yang diterima MalangTIMES, Selasa (19/11/2019).

Sony menegaskan jika Pemerintah Kota Malang tak tinggal diam dengan keretakan yang terjadi di Jembatan Muharto. Karena diagnosa atas kondisi Jembatan Muharto pertama kali dilakukan Pemkot Malang yang bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.  

"Karenanya kami saat itu juga langsung bekerjasama dengan Dinas Perhubungan untuk melakukan langkah antisipasi awal dengan pemasangan portal untuk membatasi masuknya kendaraan besar di jembatan ini," jelas Sony.

Dari hasil uji forensik, menurutnya kapasitas jembatan turun hingga 40 persen. Sesuai dengan rekomendasi tim teknis, maka akan diambil langkah pemeliharaan jembatan dengan metode refrofit. Metode ini dipastikan  mampu mengembalikan kondisi fisik seperti semula.

Dia menjelaskan, pekerjaan konstruksi akan dikerjakan dalam satu minggu ke depan dengan konsep retrofit. Selama pekerjaan arus tidak ditutup total. Sehingga aktivitas tetap jalan, namun pada saat titik tertentu (pengukuran elevansi) tidak boleh ada kendaraan lalu lalang sama sekali.

"Diperkirakan elevansi dilaksanakan pada malam hari karena membutuhkan waktu kisaran tiga sampai empat jam," jelasnya.

Lebih jauh Sony menyampaikan, sebagaimana catatan hasil uji forensik Tim FT UB,m lebar tidak dapat digunakan sebesar 1,5 meter diukur dari kanan kiri trotoar lantai kendaraan dan beban kendaraan maksimal sebesar 3 ton (pick up). Sehingga kendaraan dengan muatan besar akan terus menjadi perhatian.

"Untuk penyangga Jembatan Muharto menggunakan anggaran insidentil 2019 senilai Rp 1,3 Miliar," pungkasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan jika pembenahan Jembatan Muharto akan dilaksanakan sebelum akhir 2019. Pembenahan saat ini sifatnya hanya memberikan penyangga khusus yang mampu memberi kekuatan pada jembatan.

Langkah pembenahan sementara dilaksanakan lantaran Jembatan Muharto tak masuk dalam penganggaran APBD 2020. Sementara saat ini, APBD 2020 telah ditetapkan. Selain itu, tahun depan Pemkot Malang akan melakukan pembangunan Jembatan Kedungkandang. Sehingga jika Muharto dan Kedungkandang dibangun dalam waktu bersamaan dipastikan akan membuat kemacetan terjadi semakin parah.

"Anggaran tidak bisa langsung diubah secara tiba-tiba. Karena aturan dalam regulasi jelas. Jika kita tetap lakukan maka akan melanggar aturan dan saya nggak mau teman-teman Perangkat Daerah (PD) jadi korban," tegas Sutiaji.