Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Suban Wahyudiono ST MM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Suban Wahyudiono ST MM. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sesuai analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada November ini sebagian besar wilayah Jawa Timur (Jatim) mengalami masa pancaroba. Jeda pergantian musim kemarau ke musim hujan ini, memiliki potensi munculnya angin kencang yang sifatnya merusak.

Baca Juga : 10 Daerah Resmi Dapat Persetujuan Terapkan PSBB

Hal ini disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Suban Wahyudiono ST MM saat ditemui di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Senin (18/11/2019).

"Kecepatannya (angin) kira-kira 45 kilometer (km) per jam," lanjutnya.

Angin yang sifatnya merusak tersebut, bahkan ada juga yang membawa material debu. Seperti yang terjadi di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada September lalu dan juga kemarin (Minggu, 17/11/2019).

"Di Batu itu yang dibawa tanah. Sehingga tanah itu masuk ke rumah-rumah, orang susah bernapas. Yang kemarin itu, 270 orang yang ngungsi," bebernya.

Suban juga menjelaskan, yang menjadikan warga berbondong-bondong harus mengungsi sebetulnya adalah angin yang membawa material debu tersebut.

"Sebetulnya anginnya nggak papa. Cuma membawa debunya itu yang jadi masalah. Makanya orang turun semua. Kalau hanya angin rusak itu sudah biasa," terangnya.

Ia menambahkan, angin di Bumiaji tersebut sifatnya seperti aliran sungai. Hanya terjadi di sekitar Bumiaji saja.

Baca Juga : Viral! Mobil Jenazah Terjebak Lumpur Usai Pemakaman Pasien Covid-19

"Angin itu ya di situ-situ saja. Makanya di Batu ya di Bumiaji itu aja. Menurut informasi dari BMKG, alirannya seperti aliran sungai," terangnya.

Lantas, sampai kapan warga harus mewaspadai angin kencang ini? Suban menyampaikan, angin yang bersifat merusak ini baru Desember nanti akan mereda. Untuk itu, masyarakat harus terus siap siaga.

"Sesuai analisa BMKG, angin ini nanti Desember agak mereda," ungkapnya.

Sementara itu, di Jawa Timur, angin puting beliung yang terjadi pada tanggal 9 sampai 11 November lalu melanda daerah Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, dan Madiun.

"Tapi yang paling parah itu di Bojonegoro. Bojonegoro itu 1.300 rumah rusak. 45 rusak berat," pungkasnya.