Impor limbah sampah yang membanjiri Jawa Timur (Jatim) dan berdampak sangat buruk bagi lingkungan dan manusia (mongabay.co.id)
Impor limbah sampah yang membanjiri Jawa Timur (Jatim) dan berdampak sangat buruk bagi lingkungan dan manusia (mongabay.co.id)

MALANGTIMES - Gerakan masif lingkungan hidup terus digelorakan berbagai kalangan. Khususnya terkait sampah plastik yang masih menjadi pekerjaan rumah seluruh negara di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Sampah plastik tak hanya melahirkan persoalan serius bagi kehidupan laut yang kerap menghiasi berbagai media. Tapi, juga menjadi ancaman sangat berbahaya bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan perutnya terhadap berbagai jenis makanan hewani, misalnya ikan yang semakin tercemar oleh racun plastik di lautan.

Kini, masyarakat pun digemparkan dengan hasil penelitian dari jaringan kesehatan lingkungan global IPEN, Asosiasi Arnika, serta beberapa organisasi lokal Indonesia. Dimana, mereka merilis laporan berjudul "Plastic Waste Poisons Indonesia’s Food Chain" dari hasil penelitian di Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Sebuah lokasi yang menurut para peneliti dibanjiri dengan limbah plastik impor dari Cina.

Dari hasil penelitian itu ditemukan, ayam yang mencari makan di sekitar tumpukan sampah plastik di Tropodo, menghasilkan telur yang memiliki tingkat kontaminasi racun dioksin terparah sedunia. Temuan ini hampir serupa dengan yang terjadi di Bien Hoa, Vietnam, yang merupakan salah satu lokasi paling terkontaminasi dioksin di Bumi.

Apa bahaya telur ayam yang berkeliaran dan mencari makan di lokasi limbah plastik yang di Tropodo dijadikan bahan bakar pabrik tahu itu?
Disadur dari The Guardian, Jumat (15/11/2019), telur yang terkontaminasi racun dioksin dan dikonsumsi manusia akan menyebabkan berbagai penyakit serius. Misalnya penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan endometriosis. 

Telur ayam di Tropodo itu pun ditemukan mengandung asam perfluorooctanesulfonic (PFOS) yang merupakan salah satu bahan kimia terlarang yang sangat berbahaya serta bisa  menyebabkan kerusakan sistem reproduksi dan kekebalan tubuh.

Masih menurut para peneliti, telur ayam di wilayah pabrik Tropodo yang dikumpulkan dari masyarakat, tingkat kontaminasi dioksinnya tujuh kali lipat dari ambang batas yang ditoleransi oleh European Food Safety Authority.

Lee Bell, salah satu peneliti telur ayam di Tropodo, mengatakan, bahwa temuan-temuan nyata ini memperlihatkan betapa bahaya plastik bagi kesehatan manusia. "Kondisi ini harus menggerakkan para pembuat kebijakan untuk melarang pembakaran limbah sampah. Selain itu mengatasi kontaminasi lingkungan dan secara ketat mengontrol impor sampah plastik," ujarnya seperti dilansir The Guardian.

Sebelumnya, elemen masyarakat yang mengatasnamakan Brantas River Coalition To Stop Imported Plastic Trash (Bracsip) pernah menggelar unjuk rasa  Konsulat Jenderal Amerika Serikat (AS) di Citra Raya Niaga, Surabaya, untuk  sampah plastik impor yang diduga diselundupkan secara ilegal dari Amerika.

Amerika adalah salah satu negara eksportir sampah tersebut terbesar ke Indonesia, selain China dan beberapa negara lainnya. Modusnya adalah impor sampah waste paper, tapi disusupkan bernagai jenis limbah bahan berbahaya dan beracun. Baik sampah plastik berupa botol, bungkus makanan, pakaian bekas, popok bayi, sampah elektronik, kaleng, dan sebagainya. Dengan prosentase mencapai 30 persen dari impor sampah kertas yang tergolong green line (diizinkan).

Parahnya, berbagai limbah bahan berbahaya dan beracun itu dijadikan bahan bakar pabrik, seperti yang terjadi di Tropodo, Gresik. Tak hanya satu pabrik saja yang memanfaatkan limbah impor itu.

Temuan Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), menyebut ada 12 pabrik kertas yang memanfaatkan bahan baku sampah impor yang 40 persennya tak bisa didaur ulang dan akhirnya jadi bahan bakar yang membahayakan lingkungan dan manusia.

Pabrik-pabrik itu berlokasi di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Kediri dan Nganjuk. Saat sampah dibakar atau jadi bahan bakar, plastik akan memicu terlepasnya senyawa dioksin dan furan, keduanya merupakan bahan karsinogen pendorong kanker paru-paru. Begitu pula saat tumpukan limbah plastik itu pun dijadikan makanan para hewan, seperti di Tropodo, bahan kimia dari plastik itu akan menjadi "cakar el-maut" bagi manusia yang mengkonsumsinya.