Sekitaran Balai Kota Malang yang ditumbuhi banyak pohon Trembesi (Arifina)
Sekitaran Balai Kota Malang yang ditumbuhi banyak pohon Trembesi (Arifina)

MALANGTIMES - Suhu udara yang relatif panas akhir-akhir ini dirasakan di Kota Malang khususnya membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mengajak seluruh elemen untuk berbondong-bondong menanam tanaman agar bisa banyak menghasilkan oksigen.

Suhu udara yang relatif panas saat ini pasti dirasakan oleh masyarakat Kota Malang. Hal itu juga tidak dipungkiri bahwa masyarakat di dunia pada umumnya juga merasakan hal yang sama.

Dilansir dari Republika.co.id, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September lalu memperingatkan dunia untuk mencegah bencana iklim sebagai akibat dari pemanasan yang tak terkendali. Laporan juga menunjukkan, 2019 merupakan tahun yang mengalami suhu terpanas sejak 2015.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres akan mendorong negara-negara untuk meningkatkan target pengurangan gas rumah kaca. Laporan itu menyoroti kebutuhan mendesak akan tindakan nyata dalam menghentikan pemanasan global dan efek terburuk dari perubahan iklim. Menurut laporan PBB yang juga disusun oleh Organisasi Meteorologi Dunia, suhu global rata-rata antara 2015 dan 2019 berada di periode terpanas. 

Kepala Seksi Pemeliharaan Lingkungan Hidup, DLH Kota Malang, Budi Heryanto mengatakan bahwa ini memang sebuah fenomena di semua wilayah tropis khususnya di wilayah Jawa yang panasnya memang luar biasa.

"Terlepas dari itu secara global suhu dunia memang sudah berubah karena banyak karbon yang dikeluarkan serta serapan karbon yang berkurang seiring dengan banyaknya hutan habis atau perubahan fungsi lahan, yang tadinya hutan lalu jadi pertanian dari pertanian lalu jadi permukiman sehingga berimbas pada pemanasan secara global," ujar Budi kepada MalangTIMES.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan kalau sekarang dunia sedang berkomitmen untuk jangan sampai suhu dunia naik hingga 2 persen. Kalau di atas angka tersebut es di kutub akan banyak mencair, otomatis permukaan laut akan naik, pulau sedikit demi sedikit akan hilang, rob (banjir di laut) akan naik. "Sekarang saja rob sudah naik dua meter, kalau sampai es di kutub mencair ini akan merubah dunia secara keseluruhan," katanya.

"Saran kami mari kita sebagai manusia harus bisa menjaga bersama-sama dimulai dengan menanam, untuk menyerap karbon dan menghasilkan O2, kalau mulai RT, RW hingga tingkat kota atau kabupaten melakukan InsyaAllah akan bisa teratasi," imbuhnya.

Menurut Budi, ini memang fenomena alam tapi manusia adalah salah satu penyebabnya, jadi ini harus ada upaya dari semua kalangan untuk bisa menjaga suhu agar jangan sampai naik.

"Memang pemanasan global itu adalah ulah manusia yang menggunakan energi listrik maupun bahan bakar, jadi sebisa mungkin untuk hemat listrik, hemat bahan bakar. Tapi menang daya serap karbon yang paling besar adalah dari tanaman," katanya.

Dan, tumbuhan yang diharap banyak ditanam masyarakat Kota Malang agar dikemudian hari bisa membantu meningkatkan terbentuknya O2 atau oksigen. "Pada dasarnya semua tanaman itu sama menyerap karbon, tapi memang saat ini pohon Trembesi masih menjadi tanaman yang sangat besar fungsinya untuk menyerap karbon," jelasnya.