Hasbi, pembuat aplikasi Lontara-AR. (Foto: Humas)
Hasbi, pembuat aplikasi Lontara-AR. (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Bahasa ini umum digunakan di Provinsi Sulawesi Selatan. Huruf-huruf dalam bahasa Bugis yang disebut aksara lontara.

Pelajar di Sulawesi Selatan pada jenjang pendidikan SD hingga SMA diharuskan belajar bahasa bugis dan aksara lontara.

Namun, beberapa sekolah mengaku kesulitan dalam mengajarkan aksara lontara kepada siswanya. Hal ini dikarenakan huruf yang digunakan tidak familiar dan tidak sama dengan huruf alphabet yang biasa dipakai sehari-hari.

Atas dasar itu, mahasiswa Magister Ilmu Komputer (S2) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) Muhammad Hasbi membuat aplikasi penunjang belajar aksara lontara.

"Pemerintah Sulawesi Selatan memang mewajibkan mata pelajaran aksara lontara dan bahasa bugis pada materi muatan lokal untuk siswa SD sampai SMA. Tujuannya agar bahasa lokal ini tidak sampai punah," jelas Hasbi.

Aplikasi yang dibuat Hasbi diberi nama Lontara - Augmented Reality (Lontara-AR). Sesuai nama yang diberikan, aplikasi ini dibuat dengan memanfaatkan teknologi AR, yaitu teknologi interaktif yang memungkinkan penggunanya mampu mengalami penampakan lingkungan fisik dunia nyata yang ditampilkan bersama penampakan digital tiga dimensi (3D).

"Aplikasi ini diharapkan mampu menjadi alat bantu pembelajaran untuk memudahkan siswa dalam mempelajari aksara lontara dan bahasa Bugis," ucap Hasbi.

Aplikasi Lontara-AR terdiri atas software dan alat pendukung yang penggunaannya saling melengkapi. Alat pendukung Lontara-AR berupa kumpulan kartu yang berisi QR Code khusus.

"QR Code tersebut jika digabungkan penggunaannya dengan software Lontara-AR pada mobile device bisa menampilkan penampakan 3D dari 23 huruf yang terdapat di aksara lontara, sekaligus menunjukkan bagaimana cara penulisan serta penggunaannya pada kata dalam bahasa Bugis," bebernya.

Sementara itu, pada software Lontara terdapat lima menu utama yang disajikan, meliputi menu belajar, diskusi, tabel, latihan dan sejarah.

Alat dukung kartu bisa digunakan saat mengakses menu belajar dan menu diskusi. Pada menu belajar, alat pendukung digunakan untuk melihat bentuk huruf, cara penulisan, dan pelafalannya.

"Sementara pada menu diskusi, alat pendukung digunakan untuk menampilkan objek atau benda yang penulisannya menggunakan salah satu aksara lontara," timpalnya.

Aplikasi ini, kata Hasbi telah diujicobakan pada 90 siswa dari 3 sekolah dasar yang ada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

"Hasilnya terdapat peningkatan yang signifikan pada kecepatan kemampuan pemahaman siswa dalam mempelajari aksara lontara," ungkap Hasbi.

Selain itu, lanjutnya, para guru juga merasa terbantu dengan aplikasi ini, karena penyampaian materi pembelajaran menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi peserta didiknya.

Hal tersebut menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Maros. Menurut Hasbi, Dinas Pendidikan Kabupaten Maros ingin melakukan kerja sama terkait penyediaan aplikasi ini di seluruh sekolah dasar yang ada di Kabupaten Maros. 

Untuk diketahui, aplikasi ini sudah dapat diunduh secara gratis di google playstore. Untuk alat bantu dapat dibeli secara terpisah dengan harga yang cukup terjangkau.

"Untuk kartunya memang kami jual, tapi harganya tidak mahal. Hanya sebagai ongkos pengganti cetak kartu sekitar lima puluh ribu rupiah saja. Sudah kami coba jika kartu ini difotocopy atau digandakan biasa maka tampilan AR tidak akan bisa muncul saat digunakan, karena kartu ini memang dibuat khusus," pungkasnya.