Salah satu adegan rekonstruksi pembunuhan saat pelaku menginjak tubuh korban di TKP, (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Salah satu adegan rekonstruksi pembunuhan saat pelaku menginjak tubuh korban di TKP, (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus pembunuhan terhadap seorang anak bernama Agnes Arnelita (3) dilakukan rekonstruksi oleh Polres Malang Kota, Kamis sore (7/11). Reka ulang dilakukan oleh pelaku yang notabene ayah tiri korban bernama Ery Age Anwar (36).

Rekonstruksi ini jadi tontonan warga, lantaran dilangsungkan di area Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan di Perumahan Tlogowaru, D 14 Kelurahan Tlogowaru Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Dari pantauan MalangTIMES, sejak pukul 13.30, area rumah TKP sudah dipenuhi oleh warga sekitar. Baik anak-anak hingga dewasa ingin menyaksikan reka ulang kejadian pembunuhan yang dilakukan oleh si Ayah tiri korban.

Di area pagar rumah terdapat buket bunga bertali merah muda bertuliskan 'Surga Tempat Adek Agnes Arnelita (3 th)'. Sekitar pukul 14.25 tersangka dibawa dengan mobil tahanan oleh pihak kepolisian. Sorak sorai dari warga sekitar mewarnai adegan rekronstruksi tersebut.

"Wuuuu wanine sama arek cilik," teriak beberapa warga ini.

Proses rekonstruksi tersebut berlangsung singkat, sekitar 15 menit saja. Pelaku pembunuhan memperagakan 20 adegan. Dari mulai mengangkat bayinya hingga dibawa ke rumah sakit.

Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander mengatakan rekonstruksi kali ini sebagai proses pelengkapan berkas penyidikan. Dimana, hasil dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) disesuaikan dengan kondisi di TKP. 

"Di sini sudah semakin jelas untuk kejadian dan juga beberapa adegan yang disesuaikan dengan berita acara," ucapnya.

Ia menjelaskan, dari total 20 adegan yang direkonstruksi, pada adegan ke 4 saat tersangka akan membawa korban ke kamar mandi, posisi korban yang awalnya tengkurap saat direkonstruksi posisi awal korban terlentang. Disitulah proses korban diinjak pertama kali.

"Keterangan di berita acara tengkurap, namun di sini awalnya terlentang. Kemudian tersangka menginjak sekali perut, kemudian saat itu korban miring ke kiri. Lalu digendong dibawa ke kamar mandi, kemudian diinjak kembali sebanyak 2 kali dengan sekeras-nya punggung korban. Inilah yang menyebabkan pendarahan hingga korban meninggal saat dibawa ke rumah sakit," ujar dia.

Dari kejadian di TKP, pihaknya juga menegaskan jika tidak ada sosok ibu korban saat proses penganiayaan tersebut berlangsung. "Adegan per adegan dari awal hingga akhir tidak ada ibu kandung," tandasnya.

Proses reka ulang perkara tersebut hingga selesai penuh sengan sorakan warga. Bahkan, di akhir reskontruksi usai tersangka dibawa kembali dengan mobil tahanan, beberapa warga nekat ingin memasuki area rumah tersebut. Namun dihadang petugas kepolisian. Warga juga menilai proses rekonstruksi pelaku berlangsung terlalu cepat. 

Hal itu diungkapkan paman korban, Rendra Aziz Kurniawan merasa kecewa dengan proses rekonstruksi tersebut. Hal itu dinilai tidak sebanding dengan keponakannya yang telah dianiaya. Namun, pihaknya berharap aparat penegak hukum memberikan hukuman seberat-beratnya.

"Kecewa, karena ini terlalu singkat, yang dianiaya nggak sebanding. Kalau bisa dihukum seberat-beratnya ya, hukuman matilah. Ibu korban saya juga kurang tahu, dari kemarin dihubungi ndak bisa. Sampai sekarang juga ndak ada pulang, di makam anaknya pun ndak pernah terlihat," jelasnya.