Riza Rahman Hakim SPi MSc selaku Kepala Fish Edu Park memperlihatkan hasil  tanaman melalui teknologi Bionic. (Foto: Humas)
Riza Rahman Hakim SPi MSc selaku Kepala Fish Edu Park memperlihatkan hasil  tanaman melalui teknologi Bionic. (Foto: Humas)

MALANGTIMES - Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, balita Indonesia masih mengalami masalah gizi. Meski angkanya sudah menurun, masalah gizi masih menjadi tantangan. Sebab, angka tersebut masih belum mencapai batas yang ditetapkan.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan di beberapa masalah gizi. Misalnya balita underweight yang di tahun 2013 mencapai 19,6 persen, di tahun 2018 menjadi 17,7 persen. Padahal, batas masalah kesehatan yang ditetapkan World Health Organization pada 2019 berada di angka 10 persen.

Permasalahan tersebut menjadi perhatian bagi Riza Rahman Hakim SPi MSc, Kepala Fish Edu Park Program Studi (Prodi) Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). 

“Indonesia negara maritim yang besar, sayang sekali bila anak-anaknya kekurangan gizi,” ungkapnya.

Menurutnya, solusi masalah gizi di Indonesia dapat diatasi dengan peningkatan ketahanan pangan dari lingkup terkecil yakni keluarga.

Untuk itu, Riza menggagas One House One Pond atau OHOP. 

“Ini adalah sebuah konsep pemanfaatan lahan rumah yang sempit, utamanya, di perkotaan,” ucapnya.

Gagasan ini dibuat karena lahan perumahan yang semakin sempit. Seperti yang diketahui, urbanisasi kini sudah tidak terelakkan lagi. Bahkan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Pembangunan perumahan menjadi semakin pesat sementara lahan semakin sempit. Hal ini membuat banyak perumahan mempunyai luasan lahan yang cenderung sempit. 

Nah, dalam teknologi OHOP ini, tiap rumah memiliki satu kolam ikan beserta tumbuhan. Dosen lulusan S2 Kasetsart University, Thailand bidang Aquaculture ini telah melahirkan tiga teknologi mengembangkan OHOP.

Teknologi yang pertama ialah Biona, yang kedua adalah Bionic yang baru saja disempurnakan, dan yang terbaru yakni Ohoponic.

Biona ialah budidaya ikan tawar mulai dari Lele, Patin dan Nila yang mengkondisikan air seperti habitatnya. Hal tersebut dilakukan melalui persiapan media air, manajemen kualitas air dan manajemen pemberian pakan ikan.

Selanjutnya ialah Bionic, teknologi ini merupakan gabungan dari Biona yang digabungkan dengan Aquaponic. Mudahnya Bionis adalah budidaya ikan dan sayuran.

"Jadi, pupuk untuk sayuran itu berasal dari kotoran ikan yang ditarik ke atas menggunakan mesin kemudian dialirkan ke dalam pipa yang berisi akar. Air yang ditarik ke atas itu akan jatuh kembali ke dalam kolam ikan di bawahnya," jelasnya.

Praktisnya, melalui teknologi Bionic ini, tidak perlu proses menyirami dan pemupukan. Agar sayuran semakin lebat dan sehat, Riza memberikan nutrisi AB Mix dengan dosis yang tepat. Melalui penyempurnaan teknologi Bionic ini, hasilnya sangat memuaskan. 

Teknologi teranyar dari OHOP adalah Ohoponic. Ini merupakan teknologi bertanam hydroponic yang sangat praktis. Tidak perlu tanah dan penyiraman, sayuran dapat terus tumbuh dan dipanen.

Riza berharap, teknologi yang ia gagas dalam pengembangan program OHOP ini dapat benar-benar diterapkan oleh masyarakat perkotaan.

Ditegaskan Riza, mudah dan praktisnya teknologi OHOP untuk peningkatan ketahanan pangan di Indonesia, utamanya untuk terus memberi gizi yang cukup bagi keluarga, teknologi ini baik. Daun-daun sayuran seperti kangkung, bayam hingga selada lebar dan sangat lebat.

“Yang enak ini kangkung, tiap dua minggu panen,” katanya.

Nah, adanya penanaman berbagai sayuran selain akan dapat menambah asupan gizi bagi anggota keluarga, juga tidak tertutup kemungkinan dapat menambah penghasilan keluarga.