Wali Kota Malang Sutiaji (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Beberapa hari yang lalu, Kota Malang digegerkan dengan penangkapan sepasang suami istri terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri di Jalan Kedawung, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Keduanya dikabarkan warga yang menempati rumah di kawasan Jalan Papa Biru II/24 RT 7 RW 15, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Adanya penangkapan terduga teroris tersebut, Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan kejadian ini bukan kali pertama dialami Kota Malang. Karenanya perlu untuk menjadi perhatian dan kedepan akan dilakukan evaluasi.

"Kongkrit nya seperti apa belum dapat laporan, tapi kita perlu prihatin. Inilah nanti yang menjadi evaluasi kita," ujarnya.

Kota Malang menurutnya menjadi salah satu wilayah yang rawan didatangi oleh oknum-oknum tersebut. Dijelaskan nya, warga baru yang masuk ke Kota Malang dinilai sering kecolongan dalam perhatian pemerintahan.

"Kemarin ada ISIS di Kelurahan Bumiayu kita pernah kecolongan, soal bom Bali juga ada yang masuk di wilayah Merjosari kita masih kecolongan. Artinya ini harus perlu kewaspadaan semua pihak, bukan hanya ke pemerintah dan kepolisian saja," imbuhnya.

Pihaknya juga mengimbau, kepada RT dan RW di semua lingkup wilayah Kota Malang dan masyarakat umum untuk meningkatkan kewaspadaan. Karena proses melakukan filterisasi orang baru ke wilayah Kota Malang tidaklah mudah.

Terlebih, saat ini lanjut dia banyak bermunculan isu radikalisasi yang tidak hanya masuk di daerah tetapi sudah menyasar ke wilayah pesantren.

"Saya imbau, karena ini sudah dimasuki maka perlu kewaspadaan semua pihak. Ketika memang masyarakat menemui pergerakan orang-orang yang inklusif untuk segera lapor ke RT dan RW. Nanti juga saya akan melibatkan Kepala Dinas Pendidikan untuk mencanangkan solusi menangkal faham-faham yang ekstrim," tandas nya.