Disnaker Kabupaten Malang melihat hasil pembangunan rabat di Desa Mulyorejo, Ngantang, melalui skema padat karya infrastruktur (for MalangTimes)
Disnaker Kabupaten Malang melihat hasil pembangunan rabat di Desa Mulyorejo, Ngantang, melalui skema padat karya infrastruktur (for MalangTimes)

MALANGTIMES - Padat karya sebagai program telah lama berjalan di Indonesia. Bahkan dengan berbagai pernik sejarahnya yang menghasilkan pro dan kontra, sejak era Orde Baru (Orba) sampai saat ini.

Tapi, secara program telah dimasifkan oleh pemerintahan. Padat karya dimulai di era Presiden Soeharto dengan tujuan menyerap tenaga kerja manusia sebanyaknya dibandingkan mesin dalam berbagai proyek. Lepas di era Orba, 2018 Presiden Joko Widodo (Jokowi), menghidupkannya lagi secara intensif. Dengan tujuan yang hampir sama, yakni memaksimalkan warga produktif yang berasal dari masyarakat miskin serta menekan angka pengangguran di berbagai perdesaan.

Program inilah yang kini ramai di berbagai perdesaan dalam pembangunan. Baik melalui Dana Desa (DD) maupun yang melalui penganggaran daerah di setiap organisasi perangkat daerah (OPD). Tak terkecuali di Kabupaten Malang melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, yang setiap tahun menganggarkan program padat karya infrastruktur di perdesaan.

Program padat karya infrastruktur Disnaker Kabupaten Malang pun bertujuan sama. Yakni, memberdayakan masyarakat miskin untuk bisa produktif dalam sebuah pembangunan di wilayahnya. Serta menekan angka pengangguran terbuka, walaupun sistem padat karya tak secara kontinyu dijalankan setiap bulan, misalnya.

"Antusias warga tinggi dengan adanya padat karya infrastruktur ini. Walau memang tak terus menerus, atau reguler. Tapi program ini bisa jadi ruang untuk mewujudkan program pengentasan kemiskinan. Serta menguatkan perekonomian rakyat juga," kata Yoyok Wardoyo Kepala Disnaker Kabupaten Malang melalui Rahmat Yuniman, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja (Penta), Rabu (16/10/2019).

Respon warga pun terbilang baik atas padat karya infrastruktur Disnaker Kabupaten Malang. Ini terlihat dari pelaksanaan pembangunan padat karya di Desa Mulyorejo, Kecamatan Ngantang, dalam membangun jalan rabat beton sepanjang 300 meter (m).

Dimana, menurut Rahmat, dalam proyek itu melibatkan tenaga kerja sebanyak 88 orang dari warga sekitar lokasi. Sehingga terlihat jelas, tujuan adanya program padat karya, yaitu memaksimalkan tenaga manusia dibandingkan mesin. Sehingga para pekerja yang berasal dari warga miskin bisa produktif dan tentunya mendapatkan penghasilan dalam proyek itu.

"Intinya program adalah pelibatan warga sebanyaknya. Sekaligus manfaatnya juga dirasakan secara langsung. Misalnya pekerja dari warga kurang mampu atau pengangguran bisa mendapatkan penghasilan selama proyek berjalan," ujar Rahmat yang secara langsung meresmikan pembangunan rabat beton yang telah diselesaikan oleh warga sejak di mulai tanggal 23 September sampai 12 Oktober 2019.

Pernyataan Rahmat ini dibenarkan dengan kesaksian dari warga sekitar pembangunan padat karya infrastruktur Disnaker Kabupaten Malang.
Erno, salah satu warga desa menyatakan, masyarakat sangat membutuhkan program padat karya. Dimana, selain hasil akhir pembangunan bisa dinikmati oleh seluruh warga, juga mampu membuat warga pekerja yang menganggur atau kurang mampu mendapat penghasilan.

"Jadi manfaatnya ganda. Ini yang membuat program padat karya ini dibutuhkan masyarakat," ujarnya.

Selain hal itu, lanjut Erno, melalui padat karya infrastruktur itu, secara langsung masyarakat diajak untuk bersama-sama membangun desanya. "Gotong royong masyarakat juga semakin kuat. Ini akan membuat kita merasa memiliki bangunan ini dan tentu akan menjaganya," pungkasnya.