Kepala DKP Kabupaten Malang Nasri Abdul Wahid bergerak di kajian pola asupan makanan dalam stunting (Nana)
Kepala DKP Kabupaten Malang Nasri Abdul Wahid bergerak di kajian pola asupan makanan dalam stunting (Nana)

MALANGTIMES - Persoalan stunting  tak bisa didekati secara parsial di tingkat organisasi perangkat daerah (OPD) Kabupaten Malang, kerap disampaikan dalam berbagai kegiatan. Tak terkecuali melalui berbagai kebijakan Bupati Malang Sanusi maupun Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Didik Budi Muljono.

Stunting bisa diturunkan angkanya serta berhasil mencegah munculnya kasus serupa, bila seluruh OPD bekerja sama sesuai tupoksinya. 

"Tak bisa kalau hanya dibebankan di Dinas Kesehatan saja. Semua harus bergerak untuk itu. Saling melengkapi sesuai dengan tupoksinya masing-masing," ucap Didik Budi Muljono kepada MalangTIMES, Rabu (16/10/2019).

Koordinasi satu sama lain dari seluruh OPD terkait menjadi harga mati bagi pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Malang. Tak terkecuali dukungan anggaran dalam menjalankan program tersebut di setiap OPD.

Misalnya, di Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang yang di tahun 2019 ini aktif melakukan berbagai kajian terkait pola asupan makanan bagi ibu hamil dan balita.

Hal ini disampaikan oleh Kepala DKP Kabupaten Malang, Nasri Abdul Wahid, yang menyatakan, pihaknya bisa menjadi bagian penting dalam pencegahan dan penurunan stunting melalui intervensi pola asupan makanan.

"Kita telah lakukan itu di puluhan desa, tapi masih sebatas survei dan kajian saja. Untuk intervensi langsung melalui program makanan sehat belum. Karena belum teralokasikan anggarannya," kata mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang ini.

Intervensi pola asupan makanan menjadi penting untuk melihat sumber lahirnya stunting. Melalui riset, kajian maupun survei terkait itu akan didapatkan data valid terkait persoalan stunting di Kabupaten Malang. 

"Dengan itu kita akan punya data. Asupan makanan apa yang harus diperbaiki di wilayah stunting. Baik dari unsur gizi, protein, atau karbohidratnya. Sehingga lewat itu kita bisa intervensi pola asupan makanannya," ujar Nasri yang juga menyampaikan DKP Kabupaten Malang sampai saat ini telah memandu lebih dari 22 desa stunting terkait potret asupan 9 jenis pola pangan harapan.

"Tapi sekali lagi kami sampai saat ini masih di tingkat riset dan kajian saja. Karena memang belum ada anggaran untuk alokasi secara langsung dalam ikut serta mencegah dan mengurangi stunting," imbuhnya.

Harapan besar DKP Kabupaten Malang, dalam persoalan stunting tentunya mampu memberikan sumbangsih terkait isu nasional yang terus diperbincangkan ini. Baik dalam konteks kajian atau riset yang mampu mengcover seluruh wilayah perdesaan, sehingga bisa menghasilkan potret utuh sumber persoalan stunting terkait pola asupan makanan. Sampai pada intervensi langsung kepada masyarakat dalam konteks pencegahan stunting dengan kembali ke sumber pangan lokal.

Seperti diketahui, DKP Kabupaten Malang memiliki tugas yang selama ini telah dijalankan terkait pangan. Baik program neraca pangan, konsumsi pangan, keamanan pangan, dan cadangan pangan. Salah satu program kajian yang telah dilakukan di tahun lalu adalah survei konsumsi orang dewasa. Baik pola asupan gizinya, protein maupun karbohidratnya.
Hal ini bisa difokuskan pada persoalan stunting melalui sasaran ibu hamil dan balita.

"Tentunya saat ini bisa dijalankan, akan ada data terkait pola asupan makanan. Dimana dinas lainnya, misal, Dinas Kesehatan bisa fokus pada tindak lanjut dan pengobatannya. Begitu pula dinas lainnya dalam pemberian asupan makanan dalam stunting," tandas Nasri.