Kepala KPw BI Malang Azka Subhan (depan) saat melakukan sosialisasi QRIS di Masjid Agung Jami Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Kepala KPw BI Malang Azka Subhan (depan) saat melakukan sosialisasi QRIS di Masjid Agung Jami Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Perkembangan teknologi keuangan non-tunai kini merambah tempat ibadah. Para jamaah yang ingin memberikan infaq ataupun bersedekah di masjid, bisa memanfaatkan dompet digital. Salah satunya di Masjid Agung Jami Kota Malang.

Sejak masuk di teras masjid, masyarakat akan menemukan kotak amal seperti di kebanyakan masjid. Bedanya, di sisi-sisi kotak amal tersebut terdapat kode batang persegi atau barcode yang bisa discan dengan aplikasi dompet digital. 

Jamaah tinggal masuk ke dompet digital yang dimiliki, misalnya Ovo, Gopay, Link Aja, Dana, dan lain-lain. Setelah menscan kode dan memasukkan nominal sedekah, sumbangan tersebut akan langsung tertransfer ke rekening Masjid Agung Jami Kota Malang. 

Teknologi terbaru tersebut digunakan atas kerja sama Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang. BI memfasilitasi pengoperasian Quick Response  Code Indonesia Standard (QRIS) untuk bersedekah secara non tunai di masjid utama Kota Malang itu.

Kepala KPw BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan, Masjid Agung Jami Kota Malang dipilih menjadi pilot project QRIS pada rumah ibadah. "Masjid ini sebagai salah satu rumah ibadah utama di Kota Malang, jadi kami fasilitasi untuk memanfaatkan QRIS," tuturnya.

Pihaknya berharap, pemanfaatan sedekah menggunakan aplikasi non-tunai itu juga ditiru masjid maupun rumah ibadah lain. "Diharapkan dapat menjadi percontohan bagi lembaga lainnya untuk memanfaatkan QRIS sebagai kanal pembayaran non tunai untuk transaksi sosial, seperti Zakat, Infak, Sodaqoh (ZIS) serta donasi lainnya," kata Azka.

Hari ini (7/10/2019), BI Malang juga mengundang lebih dari 20 pengurus masjid di Kota Malang untuk mendapatkan sosialisasi QRIS di Masjid Agung Jami Kota Malang. Azka menyebut, penggunaan QRIS akan memberikan kemudahan masyarakat yang ingin melakukan pembayaran donasi sosial.

Selain itu, pihak penyelenggara dalam hal ini masjid atau lembaga sosial tidak dikenakan biaya Merchant Discount Rate (MDR) karena termasuk kategori donasi, dengan MDR 0 persen. "Dalam proses implementasi program ini, KPw BI Malang memfasilitasi pengurus Masjid Agung Jami Kota Malang dalam pengajuan QRIS MPM (Merchant Presented Mode) kepada Bank CIMB Niaga Syariah, yang merupakan salah satu bank Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran di Kota Malang," urainya.

Dengan penggunaan QR Code ini, sambung Azka, proses untuk menghimpun sedekah dari jamaah bisa semakin mudah dan cepat. "Pengurus masjid tidak perlu repot-repot menghitung uang sedekah dari jamaah, pelaporan uang juga lebih akurat. Meminimalkan kesalahan dan efektivitas tenaga. Upaya mewaspadai uang palsu juga," tambahnya. 

Dalam kesempatan tersebut, KPw BI Malang bersama CIMB Niaga Syariah juga melakukan sosialisasi QRIS dan tata cara pengajuan QRIS ke perbankan. Hal tersebut juga sekaligus untuk mendorong keuangan inklusif. "Sementara ini kami sosialisasikan hanya ke 20 pengurus masjid. Kita lebih banyak menyasar ke anak-anak muda yang paham gadget," paparnya. 

Ketua Takmir dan Yayasan Masjid Jami Kota Malang KH Zainuddin A Muchit menilai, program ini dapat memberikan kemudahan bagi jamaah yang ingin melakukan sedekah secara non tunai. "Jamaah yang tidak membawa uang tunai bisa pakai aplikasi, bisa jadi pilihan. Selama ini setiap bulan Masjid Jami rutin memberikan sadaqah pada 200 dhuafa, sedangkan rata-rata uang yang terkumpul ke jamaah ada Rp 200 juta," ujarnya.