Beberapa orang saat memainkan jaran dowo di halaman Kampung Tani, Jumat (4/10/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Beberapa orang saat memainkan jaran dowo di halaman Kampung Tani, Jumat (4/10/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jika umumnya ukuran jaran kepang itu memiliki panjang kurang lebih satu meter, kali sedikit berbeda. Ukuran panjang yang ditampilkan lebih dari 10 meter. Sesuai dengan ukuran, namanya juga bukan lagi jaran kepang, tapi jaran dowo. 

Jaran Dowo yang terbuat dari bambu ini ditunjukkan di depan masyarakat sebagai pembuka di Festival Kampung Tani ke 6 di area Kampung Tani, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. 

Diberi nama Jaran Dowo karena memang jarannya memiliki tubuh yang panjang. Berukuran kurang lebih 10 meter yang terbuat dari bambu.

Jaran Dowo itu dimainkan oleh sepuluh orang. Sambil memegangi jaran dowo, mereka menari mengikuti irama lagu dengan membawa cemeti di tangannya. Sesekali cemeti itu dimainkan ke atas dan ke bawah.

Mereka yang memainkan jaran dowo itu pun menggunakan kostum bahu berwarna putih, celana hitam, penutup kepala warna merah, dilengkapi dengan rias wajah putih dan merah. Ditambah menggunakan kaos kaki putih tanpa menggunakan alas kaki.

Jaran dowo itu pun dimainkan kurang lebih selama lima menit. Pertunjukkan itu merupakan pembukaan Festival Tani ke 6 yang digelar mulai Jumat hingga Minggu (6/10/2019). 

Penampilan para seniman Jarang Dowo ini menarik perhatian pengunjung warga sekitar maupun wisatawan. 

Selama tiga hari itu kegiatan menarik telah disusun untuk menghibur masyarakat. Ada Botani Eco Green, Jagong Sedulur Tani, Bazar Jadoel, arak-arakan sedekah bumi, burakan hasil bumi, Pasar Apung Temas, Rantang Lurik, Caping Gembor, dan dolanan anak.

Selain itu, ada Memedi Sawah Ludruk Remaja, Kerontjong Woekir minikonser, gelar karya seni, jaran kepang, rampak barong, hingga pelayanan publik mulai dari pembayaran pajak hingga pembuatan SIM.

Lurah Temas Tantra Soma Pandega mengatakan, festival kampung tani menggelorakan adat tradisional agar bisa kembali diangkat dan tidak meninggalkan kebudayaan yang sudah dibangun. Sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. “Dengan demikian apa yang dimiliki masyarakat ini bisa ditunjukkan di sini. Mulai keseniannya, kebudayaannya, makanan khas kita tunjukkan di sini,” kata Tantra.

Dia juga menyatakan, kegiatan tersebut sekaligus upaya untuk menggeliatkan perekonomian dan mengenalkan kesenian hingga budaya yang ada di Kelurahan Temas. “Sekaligus mengenalkan kisah kehidupan petani dan semangat pejuang, sesuai dengan tajuk kita 'Living in Harmony, Enjoy Culture and Agriculture: Tani Tinemu',” tutupnya.